JNGGA

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Akhir Kisahku

"Aku tak boleh jatuh cinta padanya, sebab aku tau akhir ceritanya akan seperti apa"

Selalu, kata-kata itu yang hadir dalam benakku. Ya aku tak boleh jatuh cinta padanya apalagi menaruh rasa sayang terhadapnya. Aku tak ingin dia berubah, aku tak ingin menyesal di lain waktu, aku tak ingin menangis karnanya. Mungkin aku munafik, aku terlalu menyangkal akan hadirnya sebuah cinta di antara kami. Tapi tolonglah tidak untuk saat ini dan tidak padanya, tidak pada orang yang selalu hadir dalam hari-hariku walau sekedar berbagi tawa dan canda. Pikiranku melayang padanya. Tentang dia yang selalu baik padaku. Senyumnya, tawanya, tatapan matanya hingga cara dia berbicara dan memandangku. Perlahan aku meletakan pinsil yang sejak tadi melekat pada tanganku dan siap untuk digoreskan pada kertas putih yang kini ada di depanku.
'Tidak, aku tidak bisa. Terlalu banyak yang kupikirkan tentang dia' ucapku dalam hati.
Aku mengambil cangkir yang berisi teh hangat didepanku dan meminumnya. Mataku terus memandang langit barat dengan senja berwarna oranye yang sedari tadi memenuhi ufuk barat. Aku menyandarkan tubuhku pada kursi.
'Ya Tuhan mengapa begini?' Aku memejamkan mata kemudian bersenandung lirih. Entah musik dari mana yang kudengar. Yang jelas aku sangat menikmatinya. Perlahan tanganku bergerak mengambil pinsil yang sedari tadi menganggur di depanku. Kemudian pinsil itu mulai kugoreskan pada sketbook yang kubawa. Aku tersenyum sesekali mengingat wajah pria yang ku gambar. Matanya yang bulat besar, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang imut. Ah tak lupa dia memakai kacamata juga jaket biru tua yang selalu ia pakai. Hm ia terlihat maskulin dengan pakaian seperti itu. Aku terlalu asik menggambar sketsa hingga aku tak menyadari sedari tadi telah berdiri seseorang dibelakangku. Menatapku yang sedang menggambar.
"Waw bagus sekali gambaranmu" ucapnya dengan kagum kemudian duduk di depanku.
"Eh itu…itu" ucapku terbata bata lalu menutup sketbook yang sedari tadi ada ditanganku.
"Gambar siapa sih? Coba lihat," ucapnya tiba-tiba lalu merebut sketbook dari tanganku.
"Jangan ituuu…" terlambat! Gerakannya terlalu cepat untuk kucegah. Aku hanya tertunduk lesu sambil menggigit bibir. Pasrah sudah.
"Hei ini kelihatannya seperti gambarku. Benarkah itu?" Ucapnya masih dengan senyum dibibirnya. Sambil membolak balikan lembar demi lembar dia mengamati semua gambar yang kubuat. Dia terlihat serius. Senyumnya menghilang. Tawanya sirna. Aku makin menundukan kepalaku. Tak tau harus memberikan alasan apa yang tepat untuknya. Tepat disaat lembar terakhir, terlihat gambarnya sedang tersenyum melihat hamparan langit jingga di tepi danau. Dia diam. Matanya melihat tulisan yang ada di bawah gambar dirinya 'untuk seseorang yang tak mungkin kuraih'
Dia menutup sketbookku. Wajahnya menatapku serius. Aku bisa mendengar tarikan nafasnya. Seolah dia sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Aku hanya diam. Bibirku kelu. Lidahku membatu. Tak dapat berkata apa-apa.
"Sejak kapan Ra?" Tanya nya perlahan.
"Kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa kamu gak pernah bilang dari dulu?" Matanya menatapku nanar. Suaranya sarat akan penyesalan. Aku terdiam untuk beberapa saat. Mencerna kata-kata yang akan aku keluarkan.
"Maaf…" akhirnya hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku.
Dia menggeleng.
"Aku yang harusnya minta maaf. Aku gak pernah tau. Aku…"
"Sudah terlambat Dim. Kamu gak salah maafkan aku"
Hening. Tak ada yang berniat mengeluarkan kata-kata. Sunyi. Biarlah hening untuk sejenak. Mungkin itu akan lebih baik.
"Boleh aku tau sejak kapan?" Ucapnya kemudian. Aku hanya menggeleng. Bukannya aku enggan untuk menjawab pertanyaannya namun aku pun tak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Sejak kapan aku mulai jatuh cinta terhadapnya. Perasaan itu mengalir begitu saja. Seperti air.
"Tolong jangan buat aku bingung." Ucapnya parau. Tangannya mulai menggenggam tanganku. Aku tak bisa menahan butiran air mata yang menyesaki mataku.
"Maaf. Tapi aku pun tak tau sejak kapan rasa ini muncul. Sejak awal aku mencintaimu aku tau bahwa rasa ini tak kan berbalas. Aku tau kau hanya menganggapku sebagai teman dan tak bisa lebih dari itu. Sampai akhirnya kau menemukan orang yang kau sayang dengan tulus."
Aku melihatnya terdiam. Matanya tertuju pada satu titik. Aku melihat kilatan di matanya. Jika aku tak salah sepertinya itu sebuah penyesalan.
"Maaf aku sudah membiarkanmu tau tentang hal ini. Maaf telah membuatmu begini. Tapi sungguh aku tidak apa-apa." Lanjutku. Dia masih terdiam dengan seribu beban yang ada pada matanya. Terlihat jelas dia bimbang. Aku menyerah dengan kebisuannya.
"Baiklah, kurasa aku harus pergi darimu. Aku gak mau kamu begini. Bimbang hanya karna memikirkan perasaanku yang tak berujung. Aku rasa sebaiknya aku pergi selamat tinggal dan terima kasih." Aku membereskan alat-alat gambar yang masih berserakan di depanku. Memasukannya dalam tas kemudia beranjak.
"Jaga diri baik-baik." Ucapku padanya sebelum pergi. Mungkin ini memang akhir dari kisahku. Tak apa, aku ikhlas. Kulihat dia masih mematung sampai aku berbalik, hendak untuk pergi meninggalkannya.
"Aku juga mencintaimu. Andai saja kau lebih cepat dan aku lebih awal mengetahui ini, mungkin tak perlu ada Naomi."

Juli, 2014

Senin, 23 Juni 2014

Cerita di Waktu Senja

Aku berlari ditengah koridor yang legang, sambil sesekali mengeluarkan seutas senyuman yang mengembang di bibir. Di belakangku berlari pula seorang pria dengan ekspresi yang tak jauh beda denganku. Kami berlari, saling mengejar, juga sambil tertawa. Untunglah keadaan fakultas sudah mulai sepi pada jam-jam ini sehingga aku dapat berlari dengan leluasa tanpa khawatir ada orang lain yang kutabrak. Pria yang kini mengejarku adalah kekasihku, kami resmi menjalin hubungan sekitar 3 bulan yang lalu. Aku mencintainya begitupun sebaliknyaa. Hidupku sangat berwarna setelah aku bertemu dengannya.
Akhirnya aku tiba di sebuah balkon di lantai atas fakultas kami, aku berhenti berlari dan memandang langit barat. Ah sinar matahari sore memang paling membuatku tenang. Warna jingga pun sangat lekat memenuhi ufuk barat. Tak lama ia pun ikut berdiri disampingku, memandang langit barat sama sepertiku. Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan seksama, bahagia juga bersyukur. Pria dengan tinggi semampai, berambut pendek namun rambutnya mulai panjang melebihi daun telinga, dengan kacamata menghiasi matanya adalah orang yang kusayangi. Dia terlihat tampan dengan menggunakan kaus putih dan berbalut jaket jeans belel yang sering ia pakai. Dia balik menatapku.
"Aku suka senja," ucapku seraya menatap langit barat.
"Aku tau, dan kamu merasa tenang jika angin sore menyentuh kulitmu." Ucapnya masih menatapku.
"Aku mencintaimu." Lanjutnya.
"Aku tau," jawabku "aku juga mencintaimu…"
"Tapi kau terlalu menyebalkan untuk kucintai." Ucapku kemudian sambil berlari lqgi meninggalkannya. Dia tampak kaget lalu detik berikutnya dia ikut berlari mengejarku. Aku berlari dengan riang. Aku berlari menyusuri koridor kemudia berbelok turun ke arah tangga. Satu per satu anak tangga kuturuni hingga sampailah pada anak tangga terakhir. Bersama dengan itu langkahku terhenti karna tanganku diraih olehnya. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang berhadapan dengan tangga yang kuturuni tadi. Dia merentangkan tangan kanannya disebelah kiriku, membiarkan aku dalam kurungannya. Aku tak bisa minghindar darinya karna disebelah kananku terdapat pintu kaca yang menghubungkan antra koridor dan balkon gedung fakuktasku yang sudah di kunci oleh petugas, didepanku menjulang tubuh tingginya yang sekarang memghadapku. Aku menyandarkan tubuhku lebih erat lagi pada tembok. Dia nampak marah sekarang, matanya berkilat menatap mataku tajam. Aku mengigit bibir. Dia mendekatkan kepalanya hingga sejajar dengan kepalaku.
"Kamu nakal juga ya?" Ucapnya tandas. Kilatan matanya semakin terlihat jelas dan nampak seperti mata elang.
"Tapi walaupun begitu sayangnya aku tetap mencintaimu," suaranya melembut kemudian tersenyum. Dengan sekejap kilatan dimatanya pun sirna entah kemana dan tergantikan oleh tatapan yang menatapku penuh rasa sayang. Aku tersenyum. Kemudian dia mulai menatapku serius. Kepalanya mendekat ke arahku. Aku hanya bisa mematung. Mataku menatapnya tepat di manik mata. Wajah kami perlahan mendekat dan sekarang hanya berjarak 10 cm, dia masih mencoba membunuh jarak yang ada pada wajah kami. Koridor itu sudah mulai gelap, lampu-lampu koridor sudah dimatikan sebagian. Cahaya matahari senja masuk melalui pintu kaca balkon. Aku dapat melihat wajah seriusnya dengan jelas. Perlahan aroma tubuhnya menyeruak masuk melalui hidungku. Tercium aroma maskulin khas pria yang tak asing dihidungku. Parfum khas cowok yang selalu dia gunakan setiap saat. Wajah kami semakin mendekat, perlahan dia menempelkan bibirnya pada bibirku, mengecupnya dengan lembut. Sangat sangat lembut hingga aku dapat merasakan tekstur bibirnya yang menempel pada bibirku. Bibir kami saling bertautan di tengah indahnya langit sore. Ciuman yang hangat. Kami saling merasakan bibir kami satu sama lain. Perlahan aku mulai perpegangan pada jaket jeans belelnya, hanya suara nafasnya yang kudengar dan sentuhan lembut jarinya dileherku yang sesekali mengusap pipiku. Hangat dan nyaman. Perlahan dia melepaskan bibirnya dari bibirku kemudian tersenyum setelah melihat mataku.
"Aku mencintaimu," kemudian dia mengecup keningku sambil memangdangku penuh rasa sayang.
"Pulang yu udah sore," ucapnya lagi. Lalu kemudian mengenggam tanganku erat. Kami berjalan menyusuri koridor dengan hati yang tenang. Dengan perasaan bahagia di hati kami masing-masing. 'Senja yang indah' pikirku. Kami berjalan dengan ringan dan dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Cerita senja memang menarik untuk diarungi, cahayanya yang tak terlalu terik membuat siapapun kagum. Dan senja di sore ini menjadi senja paling indah yang hidup dalam ingatanku. Entah kapan dan bagaimana akhir dari cerita kami. Akankah berakhir bahagia atau mungkin tidak. Tak ada yang tau tentang hal ini.
"Aku juga mencintaimu," ucapku yakin.

-tamat-

Rabu, 23 April 2014

Rintik Hujan

Ini yang aku takutkan sejak awal, jatuh cinta pada orang orang yang ada di sekitarku. Aku tak tau sejak kapan perasaan ini muncul, sejak kapan rasa ini hadir dalam jiwaku hingga menyatu dengan darahku.
Entah sejak kapan pula aku rela menunggunya hingga perkuliahannya usai walau aku tau dia tak menyadarinya akan hal itu, aku bersedia pulang larut malam hanya untuk menunggunya hingga dia selesai latihan. Semua kulakukan hanya untuk melihat dan bersamanya lebih lama, tak masalah jika kita tak saling bicara minimal mata kami bertemu dalam waktu sepersekian detik dan bertukar senyum. Aku punya banyak waktu untuk menunggu. Salah! justru waktuku hampir habis. Cepat atau lambat aku akan melihatnya berjalan bersama wanita lain, akan ada wanita lain yang menggenggam tangannya dengan erat dan tertawa ria dengannya, cepat atau lambat dia akan menemukan pricesnya yang tentu saja lebih baik dari aku. Lantas bagaimana dengan aku? Aku akan terpuruk dalam penyesalan, meratapi nasib dan mulai berdamai dengan ego. Walau aku tau perang antara hati dan ego sulit dimenangkan. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui siapa pemenangnya. Sore itu, aku masih menatap rintik hujan dari balik jendela. 'ah mengapa aku berfikir demikian?' gumamku dalam hati.
Agar kau menyiapkan hatimu jika sesuatu yang buruk terjadi.
Aku tersentak mendengar jawaban hati kecilku. Perlahan mataku mulai basah oleh air mata yang akan segera keluar. Cepat cepat aku menghapusnya begitu air mataku turun. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan ke arahku lalu berdiri tepat di sampingku.
"Sedang apa?" tanyanya seraya menatapku.
"Melihat rintik hujan" ujarku datar. Kutatap dia yang kemudian menatap hujan sama sepertiku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, yang terdengar adalah suara rintik hujan yang sejak tadi bersahabat dengan telingaku. Aku kembali pada lamunanku tentangnya. Tentang dia yang kini ada di sampingku.

Bandung, 2014

Senin, 14 Oktober 2013

KETIKA SANG JINGGA PERGI

Waiting for your call, I'm sick, call I'm angry 
call I'm desperate for your voice 
Listening to the song we used to sing 
In the car, do you remember 
Butterfly, Early Summer 
It's playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet 
 Cause I was born to tell you I love you 
and I am torn to do what I have to, to make you mine 
Stay with me tonight .

            Perlahan musik awal itu mengalun lembut di telingaku, membawaku akan kenangan indah di masa lalu. Jingga. Seseorang yang selama ini ku tunggu dan kunanti kedatangannya saat matahari terbenam. Di sisi laut dan menghadap ke barat, ku duduk terdiam sambil mendengarkan lagu itu. Berharap akan kedatangannya dari arah barat dan menarikku ke dalam pelukannya. Melepaskan rasa rindu dan haru bersama di tengah indahnya semburan langit jingga yang menghias langit barat.
                                                                        ***


            "Jingga? Jingga mana?" Tanyaku pada Bisma ketika dia selesai berbicara.
            "Itu temanku yang tempo hari aku ceritakan." Jawabnya santai.
            "Oh yang orangnya kocak itu?"
            "Iya."
            "Ih namanya aneh seperti perempuan." Ucapku kemudian.
            Kocak. Satu kata itulah yang membuatku menjadi sangat menyukainya. Aku ingat betul ketika pertama kali dia menghubungiku. Pada awal nya aku tak mempunyai perasaan apapun terhadapnya. Tak sedikitpun aku menaruh hati padanya. Tak jarang pula aku tak membalas pesan singkat yang dia berikan padaku. Entah mengapa dulu aku sangat enggan untuk berhubungan dengannya, mungkin karena dulu aku masih mempunyai seorang kekasih bernama Tama. Aku sangat ingat ketika Bisma, saudaraku berkata bahwa Jingga terlihat kesal karena aku jarang membalas pesan singkat yang dia berikan. Bukannya aku tak ingin untuk membalas pesan singkatnya tetapi karena memang pesan-pesan yang masuk ke dalam handphone ku memang jenis pesan yang tidak menghendaki  jawaban. Beberapa bulan setelah itu aku dan Jingga hampir tidak pernah berkomunikasi lagi. Hingga pada suatu malam saat hubunganku dan Tama berakhir, dia kembali mengirimi aku satu pesan singkat. Sebuah kata-kata cinta dengan berhasil masuk ke dalam handphoneku. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, sambil menangis ku gerakan jari jemariku di atas keyword handphone. Tak lama kemudian handphone ku berbunyi pertanda ada pesan masuk. Kembali Jingga membalas pesanku dengan kata-kata yang tak menghendaki jawaban. Aku pun membiarkannya dan melanjutkan menangis. Aku ingat betul saat itu. Pada puku 21.00 handphone ku kembali berbunyi tetapi kali ini bukan pertanda ada pesan masuk melainkan telepon. Aku sangat ingat akan pembicaraan aku dengannya dulu. Dia hadir sebagai penghibur bagiku. Dan saat itu pula dia menyanyikan lagu itu dengan petikan gitar yang indah. Aku juga ingat saat itu dia menawari aku untuk bercerita padanya, tetapi aku menolak. Malam itu aku dan dia berbicara sampai larut, apapun yang ada di pikiran aku dan dia pasti diutarakan. Kedekatan aku dan Jingga pun berlanjut sampai akhirnya aku sadar bahwa aku menaruh hati padanya. Jingga. Sosok orang yang apa adanya. Dia tak segan-segan untuk memperlihatkan sifat buruknya padaku. Sifat yang seharusnya membuatku menjadi membenci atau tidak menyukainya. Tetapi justru sebaliknya. Aku menjadi begitu menyukainya. Aku suka dengan sifatnya yang apa adanya dan tak jarang membuatku tertawa. Hingga pada akhirnya saat itu datang. Saat Jingga datang dengan wajah kelam, lalu menghampiriku.
            "Ada yang harus kubicarakan." Ucapnya dengan murung.
            "Ada apa Ga?" Tanyaku heran.
            "Arlin, aku harus pergi sore ini juga. Aku akan bertugas di Eropa selama 1 tahun. Dan selama itu kita tidak akan bertemu." Ucapnya dengan penuh rasa khawatir. Aku masih shock dengan kabar itu, sehingga aku hanya bisa terdiam dan membisu dihadapannya.
            "Kau.. Bisa menunggu ku sampai nanti aku kembali?" Tanyanya dengan nada yang sarat kekhawatiran. Aku pun hanya tertunduk lalu mengangguk perlahan.
            "Baiklah, aku percaya padamu Lin. Tunggulah aku di langit barat ketika matahari mulai terbenam, maka aku akan datang dan memelukmu dengan segenap jiwa dan raga."

            Perasaanku sungguh berkecamuk saat itu. Sungguh sulit ku percaya bahwa hubunganku dengannya harus berakhir bahkan sebelum dimulai. Lalu dia mengulurkan tangannya dan merengkuhku ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat dan menenangkan. Sejak saat itu dia mulai pergi dan aku mulai menunggu pada saat matahari terbenam.
                                                                                                ***
            Entah sudah ke berapa matahari terbenam yang ku lalui. Sejak saat itu aku mulai menunggu, menunggu dan terus menunggu sampai Jingga benar-benar datang dari langit yang berwarna jingga. Aku tak pernah bosan untuk terus menunggunya. Aku tak pernah lelah untuk menunggu sang jingga datang. Aku tak sabar untuk melihat wajah cerahnya yang ditimpa sinar matahari sore. Dia akan terlihat lebih tampan dari biasanya. Aku pun tak sabar untuk bernyanyi dan tertawa bersama kembali. Melanjutkan hubungan aku dan dia yang sempat tertunda. Jinggaku yang ku tunggu, entah kapan dia akan kembali, dan entah keberapa jingga yang harus kulalui. Mungkinkah esok, lusa atau seterusnya. Atau mungkin Jinggaku tak akan pernah kembali, terbenam bersama matahari jingga dan tak akan pernah terbit kembali selama-lamanya.


TAMAT

Sabtu, 30 Juni 2012

and the 1st time

Waktu menunjukan pukul 08.00. "Ah.. aku terlambat" teriakku memecah kesepian.
"Ada apa nak?" tanya ibuku dari luar kamar.
"Gak ada apa-apa ko mah" jawabku. Lalu aku segera bergegas untuk mandi dan bersiap-siap.
                                                                                                  ***
Tit.. tit.. tit..
Bunyi klakson di jalanan sangat ramai.
"Aduh kalau macet gini sih gue pasti telat banget" gumamku. Akhirnya kemacetan hilang, akupun segera tancap gas menuju tempat tujuanku. "Akhirnya sampai juga, pasti acaranya udah mulai dari tadi" ucapku dalam hati. Ku parkir mobilku di parkiran dan segera turun.
"Cit.." teriak seseorang memanggilku, aku segera menoleh.
"Icha.. eh acaranya dimana? udah mulai?"
"Ada di Gedung Serba Guna, cepat kesana acaranya udah mulai dari tadi!"
"Oh gitu, tim yang udah main dari mana aja?"
"Dari SMA mutiara bunda, SMA merdeka, SMA kasih bunda"
"Poteka udah?" tanyaku
"Belum ko bentar lagi"
"Oke sip. Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke depan dulu, ada yang harus dibeli nih. Yu ah dadah"
"Oke thank's ya"
Aku pun segera berjalan menuju gedung serba guna salah satu universitas di kota ini,
tempat acara pementasan teater diadakan. Ya.. aku terlambat untuk menonton pertunjukan teater dari berbagai sekolah, khususnya para murid-murid SMA. Aku celingukan melihat sekitar. Mencari orang yang aku kenal.
"Hei.." tiba-tiba suara seseorang menyapaku.
"Abaaaang" kataku kaget
"Dari mana aja néng? Acaranya udah mulai dari jam 9 tau"
"Iya nih bang aku telat bangun hehe. Poteka kapan main?"
"Bentar lagi nih. Udah ini giliran Poteka. Kamu datang sendiri?"
"Hmm iya nih. Yang lain gak tau dimana bang haha"
"Hm dasar. Ya udah aku ke backstage dulu ya, mau siap-siap. Don't forget to watching"
"Haha oke deh siap komandaan" jawabku sambil menyimpan tangan di atas kening tanda hormat. Lalu akupun menatapnya pergi sampai hilang di kejauhan. Dia adalah Ghani, orang yang aku suka seja dulu. Dia lebih tua dariku 5 tahun, dia merupakan
pelatih Poteka, tim teater dari SMA 119. Aku sangat menyukainya sejak kita chatting bersama. Sejak saat itu kita jadi dekat dan lumayan akrab. LUMAYAN.
Akupun menyebutnya dengan sebutan abang, sama seperti anak-anak didiknya yang lain.
"Acieeeee!!! Siapa tuh tadi?" teriak Bela.
"Ah sial ngagetin aja kamu hahaha" kataku.
"Habis asik banget ngelamunin dia. Ngobrol apa aja tadi?" tanya Bela
"Hm biasa aja ngobrol standar, gak ngobrol yang gimana-gimana"
"Pasti seneng banget hahaha"
"Gak ah biasa aja. Kamu kemana aja? Aku cariin dari tadi!"
"Ia maaf maaf aku tadi makan dulu sama anak-anak habis kamu aku tingguin laman banget"
"Iya sorry deh tadi aku telat bangun mana macet lagi di jalan" Bela pun hanya menganggukan kepalanya.
"Dan peserta selanjutnya POTEKA!!" teriak MC
"Bel POTEKA main. Ayo kita ke depan"
"Ayo.. ayo.."
                                                                                              ***
 "Bel, makan yu aku laper nih" ajakku.
"Ayo ayo aku juga laper banget nih mumpung lagi break magrib nih"
"Hm ya udah kita solat dulu aja udah gitu baru makan, biar lega"
"oke deh" Lalu kami berdua pun berangkat menuju mushola universitas tersebut untuk melaksanakan solat magrib. Setelah itu baru kami mencari makanan yang ada di pinggir universitas tersebut.
"Eh Bel tadi bang Ghani ganteng banget yah?" tanyaku memecah keheningan.
"Cieee jadi terpesona nih ceritanya?" goda Bela
 "Ah apaan sih Bel? hahaha enggak lah" jawabku malu
"Ah masaa?" goda Bela sambil mengedipkan matanya so genit layaknya mpo hindun.
"Apa sih? udah makan tuh makannya. Aku udah mau abis nih!"
"Tunguiiiiiin!" Aku tak menghiraukan ucapan Bela sampai tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku.
"Hei.." sapanya
"Eeh abang.." kataku setengah kaget
"Gimana tadi nonton POTEKA gak?"
"Nonton dong bang"
"Gimana tadi mainnya?"
"Hm bagus banget deh 2 jempol buat POTEKA keren banget" jawabku sambil mengacungkan kedua jempolku.
"Oh alhamdulillah, tapi tadi ada sedikit kesalahan"
"Iya sih tapi gak keliatan ko bang, tenang aja"
"Oh bagus deh. Oia kalian cuman berdua?"
"Gak ko, masih ada kak dani dan yang lainnya tapi gak tau pada kemana"
"Oh gitu haha ya udah aku kesana dulu ya?"
"Oh iya bang sip sip"
Lalu ia pun pergi untuk memesan makanan bersama dengan yang lainnya yang sudah menunggu Ghani sejak tadi. Aku memerhatikan mereka semua sampai tiba-tiba seorang cewek menghampiri mereka lalu kemudian duduk bersama dengan Ghani dan kawan-kawan. Cewek itu adalah Yulia, orang yang Ghani suka. Mereka terlihat sangat akrab dan seru. Apakah mereka sudah jadian? Entahlah yang pasti aku galau, sedih, kesal, benci, sakit dan entah apa lagi yang kurasakan sekarang. Semua begitu campur aduk dan tak berbentuk. Aku hancur, aku terluka.
"Bel, aku mau pulang!" kataku tiba-tiba. Aku tak mendengar protesan dan pertanyaan Bela. Kutinggalkan dia sendiri disana. Aku segera masuk mobil dan pulang.
                                                                                                     ***
Keesokan paginya aku bangun dengan sangat limbung. Kepalaku pusing, mataku sembab dan tubuhku lemas. Ya.. setelah kejadian itu aku pulang dan menangis. Menangis yang benar-benar menangis. Aku pun bersiap untuk mandi. Huh.. rasanya malas sekali untuk pergi kuliah hari ini. Aku pun bersiap-siap dan segera tancap gas menuju kampus.
                                                                                                    ***
 "Cintraaaaa!!" teriak Bela memanggilku. Aku berbalik.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kemarin kamu kenapa sih? tiba-tiba kabur gitu aja?"
"Hm gak apa-apa aku cuma gak enak badan aja"
"Oh gitu, pantesan muka mu semerawut gitu. Tapi sekarang udah gak apa-apa?"
Aku hanya menggeleng lemah.
"Oh iya kemarin setelah kamu pulang aku liat Ghani loh. Dia jalan gitu sama cewek. Anak mana gitu aku lupa. Terus keliatannya akrab banget"
"Oh itu Yulia anak Mutiara bunda"
"Kamu liat juga?"
Aku hanya mengangguk.
"Mereka jadian?"
Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Perlahan nafasku mulai sesak, air mata pun mulai menggenang di pelupuk mata dan siap untuk turun. Ya Tuhan please jangan sekarang!!
"Sabar ya Cit, kalau jodoh gak akan kemana ko" ucap Bela tiba-tiba. Mungkin ia melihat air mata yang menggenangi pelupuk mataku. Aku hanya mengangguk.
"Kalau kamu sedih tangisin aja, gak apa-apa ko. Kalau itu bikin kamu lega kenapa enggak, iya gak?"
Air mataku pun turun dan aku mulai menangis sesegukan lagi.
"Jadi ini yang bikin mata kamu sembab? Ya udah keluarin aja."
                                                                                         ***
Setelah agak baikan akupun segera pulang. Di perjalan pulang aku terus memikirkan Ghani dan kata-kata yang Bela ucapkan tadi. 'Ah sudahlah aku udah capek untuk memikirkan hal ini'
Akupun mulai memasukan mobilku ke dalam garasi dan berjalan masuk menuju rumah dan segera menjatuhkan diri di sofa.
"Eh non, tumben jam segini udah pulang?"
"Iya nih bi, oia pada kemananih bi? ko sepi"
"Tadi Bapak sama Ibu pulang terus pergi lagi. Katanya sih mau ketemu client. Kalau mas Bima ada di kamarnya non"
"Oh ya udah deh"
"Oia non tadi ada kiriman buat non"
"Kiriman apa bi?"
"Kiriman bunga. Tadi yang nganter bilangnya teman non, tadinya mau dia kasih langsung sama non tapi karena non belum pulang jadi dia titipin bunganya. Ada suratnya juga ko non"
"Teman aku? Siapa bi? Terus sekarang bunganya dimana?"
"Gak tau non, dia gak nyebutin namanya. Tadi bunganya bibi simpen di kamarnya non"
Aku segera berlari menuju kamar. Dan ketika aku membuka pintu kamar, aku melihat 1 bucket bunga mawar dan sepucuk surat di sampingnya. Aku membuka surat itu dan aku perlahan aku membacanya..
   Aku tunggu kamu di bukit bintang malam ini jam 7.. Be On Time
Aku melirik jam, kulihat masih menunjukan angka 4, masih ada waktu untuk pergi kesana. Tapi entahlah aku ragu-ragu. Aku takut ini hanyalah ulah orang iseng semata. Aku menjatuhkan diri di kasur dan terlelap.
                                                                                         ***
Waktu menunjukan pukul 19.00. Aku terbangun dan segera mandi dan mengambil air wudhu untuk segera mendirikan solat isya. Setelah solat aku menatap 1 bucket mawar merah itu dan membaca kembali surat itu. Setengah hatiku menyuruhku untuk datang tapi setengah hatiku yang lain menahanku untuk pergi. Tak terasa waktupun sudah menunjukan pukul 21.00. Hatiku mulai gundah, aku merasa tidak tenang. Keinginanku untuk pergi semakin memuncak. Akhirnya aku berlari menuju garasi dan mengambil motorku dan segera berangkat menuju bukit bintang. Sesampainya disana aku tak melihat siapapun, tak ada seorangpun yang berada disana. Aku sedikit kecewa. Ketika aku hendak pergi untuk pulang, aku melihat setitik cahaya yang ganjil dan aneh. Aku menghampirinya. Lalu ku melihat tempat yang didekorasi begitu indah. Sangat indah dan cantik, pohon-pohon di tempeli lilin-lilin kecil dan berbaris pula lilin-lilin kecil di pinggir jalan setapak. Dan pada pijakan bumi terdapat lilin yang membentuk simbol hati dan bertuliskan "I LOVE YOU" ditengahnya, sangat indah dan cantik. Lalu di huruf O pada kata LOVE terdapat sepucuk surat. Perlahan kubuka dan kubaca surat itu.
Burung burung bernyanyi, di bawah bilur langit
ditemani gugusan awan, di sambut tarian ombak
angin bergeriap, menyibak lembut pasir pantai
merajut datangnya senja ditingkah semilir angin
malam datang perlahan, diiringi sunyi malam
dihiasi gugusan bintang, menorehkan kerinduan
yang hangat terbakar cinta
 angin perlahan tiba, membawa kabar bahagia
membisikan alunan cinta, mendatangkan hasrat ingin bertemu
 angin malam,
tolong sampaikan janjiku padanya
janji suci penuh harap
janji putuh seputuh kapas
bahwa aku akan menjaganya
menjaga bidadariku yang kucinta
jadilah bagian dalam hidupku
karna kau adalah nafasku
                                                                                                                                                             -          I Love You -
Aku terpaku setelah membaca surat itu. Sungguh puisi yang benar-benar indah bagiku. Tapi siapa yang telah menyiapkan semua ini?
"Telat 3 jam dari yang dijanjikan!" tiba-tiba terdengar suara seseorang. Aku terdiam, sepertinya itu suara...
"Abang?" aku terkejut begitu tau siapa pemilik suara tersebut.
"Ya" dia tersenyum
Aku masih terpana dan terpaku. Apakah ini kenyataan atau hanya mimpi. Benarkah ini semua telah disiapkan olehnya untukku?
"Jadi ini semua yang nyiapin abang?" tanyaku heran.
"Iya ini semua yang nyiapin aku" jawabnya sambil tersenyum.
"Untuk aku?" dia tersenyum lagi kemudian mengangguk. Aku masih terdiam, tak tau harus berbuat apa dan tak tau harus berkata apa.
Semua ini seperti mimpi bagiku.
"Ko diam? Kamu gak suka sama kejutan ini?" tanya Ghani
"Ini beneran buat aku bang? Abang gak salah kan?"
"Emang kamu kira buat siapa? Jelas-jelas semua ini buat kamu."
"Tapi bukannya abang sukanya sama Yulia?
"Hahaha sudah aku duga ternyata kamu emang mikir gitu" ucapnya lalu menarik nafas
"Aku emang suka sama Yulia, tapi itu cuma sebatas ngeceng aja. Gak lebih. Lagian dia orangnya gak asik, terlalu agresif dan manja" jelasnya kemudian.
Aku masih terpana mendengar ucapannya barusan.
"Malah bengong!! Ikut aku yu" katanya, lalu kemudian menarik tanganku dan membawaku ke sebelah utara.
"Tutup mata kamu, jangan buka mata sampai hitungan ke 3 ya?" perintahnya. Akupun menurut.
"Satu.. Dua.. Tiga. Buka mata kamu"
Perlahan aku membuka mata, lalu kumelihat ledakan kembang api di angkasa, sungguh indah dan cantik. Dan perlahan Ghani menghadapkan tubuhnya padaku dan mengangkat kedua tanganku lalu berkata.
"Kamu suka?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Cit, jujur sejak awal kita ketemu aku udah suka sama kamu. Aku sayang sama kamu, aku gak mau jauh dari kamu. Aku sadar kalau aku salah, aku salah gak bilang dari dulu tapi jujur aku gak berani Cit. Aku emang pengecut dan baru bisa nyatain perasaan aku sekarang"
"Tapi kenapa abang suka sama aku? Bukannya abang suka sama Yulia?"
"Kan tadi aku udah jelasin Cit, aku tuh gak suka sama dia. Gak ada perasaan lebih selain ngeceng. Itu cuma iseng aja. Aku sukanya sama kamu Cit. Kamu tuh cewek yang beda dari cewek-cewek lain yang so so cari perhatian kalau ada aku. Kamu gak kayak Vika yang suka meluk-meluk aku depan umum dan gak kayak Yulia yang agresif dan manja. Pokoknya kamu beda dari cewek lain. Dan aku suka dan sayangnya sama kamu lebih dari apapun"
"Cit, aku bakal ngelakuin apa aja buat kamu termasuk jaga jarak sama Yulia kalau perlu" lanjutnya kemudian seraya mengambil kedua tanganku.
"Hm abang lebay.. Gak segitunya juga kali" ucapku sambil tersenyum.
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya bang?" jawabku. Benarkan dari tadi dia Cuma ngasih pernyataan aja, tapi gak nanya apa-apa.
"Oia ya dari tadi aku gak nanya apa-apa.. Hm gini deh. Cit, aku benar-benar sayang sama kamu dan aku akan menjaga kamu selalu. Boleh gak aku jadi cowok terakhir kamu?" tanyanya. Perlahan aku mulai menunduk dan mengangguk perlahan.
"Kamu ngizin aku jadi cowok terakhir kamu?"
Aku kembali mengangguk.
"Beneran?"
Aku mengangguk lagi.
"Serius??"
Untuk kesekian kalinya aku mengangguk.
"Yipiiiiiiiieeeeee!!!!!" lalu dia melompat kegirangan dan menarikku ke dalam pelukannya.
"Makasih banyak Cit" ucapnya perlahan. Perlahan dia urai pelukannya dan mulai merogoh saku celananya.
"Ini ada satu lagi" katanya.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Ternyata isinya sepasang cincin. Lalu dia mengangkat tangan kiriku dan memasangkan cincin itu pada jari manisku.
"Ini tanda cinta aku buat kamu." Lalu dia mencium puncak kepalaku.
"Haaatccciiiiihhhh!"
"Kamu kenapa Cit? Gak enak badan? Aduh aku yang salah ini, bawa kamu ke tempat gini. Malem-malem lagi.. Euh kamu sih datangnya telat. Kamu gak bawa jaket ya? Aduh kenap gak bawa? Kebiasaan kamu ini emang gak pernah ilang" omel Ghani dengan cerewet. Aku hanya bengong melihatnya mengoceh seperti itu dan aku baru tau kalau ternyata Ghani tau kebiasaan burukku yang tak pernah membawa jaket jika keluar malam.
"Cit, ko diam sih? hmm" lalu dia melepaskan jaketnya dan memakaikannya padaku, lalu dia melepas salah satu sarung tangan kanannya dan memakaikannya di tangan kananku.
"Sini tangan kiri kamu" ucapnya.
Lalu dia menggenggam tangan kiriku dan memasukannya kedalam lipatan tangannya. Suara kembang api pun mulai terdengar kembali.
"Nah kembang apinya udah ada lagi yu kita liat"
Aku dan Ghani pun melihat kembang api sambil berdampingan, dan hari ini aku dan Ghani mengubah status dari seorang pelatih dan murid menjadi sepasang kekasih.
"Love you Cit" ucap Ghani
"Me too bang" jawabku
TAMAT

Selasa, 15 Mei 2012

tentang cinta


Sekilas tentang dirimu yang lama kunanti memikat hatiku
Jumpamu pertama kali janji yang perna terucap tuk satukan hati kita
Namun tak pernah terjadi..
Mungkinkah masih ada waktu yang tersisa untukku?
Mungkinkah masih ada cinta di hatimu?
Andaikan saja aku tau kau tak hadirkan cintamu..
Ingin ku melepasmu dengan pelukan..
Sesal yang datang slalu, takkan membuatmu kembali
Maafkan aku yang tak pernah tau hingga semuanyapun kini tlah berlalu
Maafkan aku.. maafkan aku…
( ipang – tentang cinta- )

Layaknya sepasang burung dara yang terbang bebas, selalu bersama satu sama lain, melintasi luasnya cakrawala, menembus langit jingga yang menguning dan ditingkah semilir angin. Tetapi tidak untuk hari ini. Sepasang burung dara itu tidak tertawa riang seperti biasanya. Mereka saling diam. Membisu. Membatu. Tidak ada yang ingin memulai untuk bicara, bahkan di tengah hujan yang mengguyur mereka sore ini, mereka tetap tidak ingin mengeluarkan suara. Keduanya berdiri berhadapan memandang satu sama lain. Lelaki itu menatap seorang gadis yang berdiri di hadapannya saat ini, tubuh gadis itu sedikit menggigil, badannya basah kuyup sama seperti dirinya, tatapannya sedikit sayu. Ingin sekali lelaki itu memeluk tubuh gadis yang ada dihadapannya. Andai saja masih bisa! pikirnya. Tetapi sang ego mulai berteriak. Mengalahkan segala yang tak terkalahkan. Bahkan jeritan hatinya saat ini. Sesaat lelaki itu tertegun, ia memejamkan matanya kemudian mengantupkan rahangnya. Ia menarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat. Merasakan sakit yang ia rasakan. Sungguh sakit. Sesak. Perlahan gadis di hadapannya menatap dirinya. Menatap lelaki yang berdiri tegak tepat di depannya. Menatapnya dengan tatapan yang tak terdefinisi. Entah marah, kecewa, sakit atau apapun!
"Please.. dengerin aku dulu. Aku mohon.." ucap gadis itu kemudian. Parau dan serak.
"Aku gak mau dengar apa-apa lagi. Ini udah lebih dari cukup!" jawab lelaki itu tegas.             "Tapi Der, itu semua gak seperti apa yang kamu pikirin, aku cuma pingin…."
"Pingin apa? Pingin nyakitin aku? Pingin buat aku malu? Kamu keterlaluan Vin!"
"Aku terpaksa ngelakuin itu karena aku sayang kamu Der! Kalau aku gak ngelakuin itu mana bisa aku tau semua yang gak aku tau selama ini? Dan akhirnya aku tau! Aku tau satu hal kalau kamu gak sayang sama aku. Kamu cuma ngejadiin aku pelarian aja! Dan itu sakit Der.. Sakit banget!" suara Vina, -wanita itu- melunak.                                                                                       "Kata siapa Vin? Kata siapa?? AKU SAYANG SAMA KAMU. AKU SAYANG BANGET!! TAPI CARA KAMU NYARI TAU ITU SALAH VIN.. SALAH BESAR!! AKU GAK SUKA CARA KAMU!" jawab Derry -lelaki itu- dengan keras. Beruntung saat ini keadaan sekolah tidak begitu ramai. Nyaris sepi karena sebagian dari mereka telah pulang ke rumah masing-masing. Di tambah dengan hujan yang mengguyur kota ini menambah minat para siswa-siswi untuk berlama-lama di sekolah urung.
"Maafin aku Der, aku gak tau kalau.."                                                                                           "Ssstttt.. jangan ngomong lagi" potong Derry sambil menaruh jari telunjuknya di bibir wanita itu. Mereka berdua terdiam membisu di tengah derasnya hujan, tidak ada yang bicara lagi. Dan kini kebisuan mereka menimbulkan kesepian. Tidak ada suara apapun kecuali suara rintikan hujan yang jatuh membasahi bumi. Rasa aneh menghinggapi hati Derry. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Ia tetap terdiam. Tidak mengeluarkan suara. Ada rasa yang menggila dalam dirinya. Rasa untuk mempertahankan sekaligus melepaskan. Sang ego dan perasaan mulai berperang. Perang yang entah kapan usainya. Mungkin setahun, dua tahun, atau mungkin tak kan pernah usai sampai kapanpun. Rasa itu begitu bergejolak dalam dirinya. Ia sayang wanita ini, tetapi perbuatannya belum bisa ia maafkan.
"Kita selesai disini" ucap Derry pada akhirnya. Vina hanya bisa terdiam mendengar ucapan Derry. Perlahan air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, setengah mati gadis itu menahannya agar tak turun.
"Aku ingin kita jalani hidup masing-masing" sambung Derry kemudian. Seketika Vina pergi meninggalkan Derry sendirian. Ia berlari menembus derasnya hujan lalu menyetop taksi dan menaikinya. Derry melihat peristiwa itu dalam diam. Perlahan ia menutup matanya, mengantupkan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
"AAARRRRGGGGHHHHHHH!!!!!" teriaknya. Seketika ia menghajar tembok yang ada di sampingnya dengan tangannya                                                                                                              
Dan akhirnya semua terjawab. Sang ego lah yang menjadi pemenangnya.
                                                                                                ***
1 tahun kemudian..

Perang antara ego dan perasaan adalah jenis konflik yang tidak bisa dikalahkan. Memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat mengetahui siapa pemenangnya. Atau mungkin memang tidak ada yang menang ataupun kalah. Dan pada akhirnya perang antara ego dan perasaan menimbulkan sesak yang mendalam. Pengap. Sakit. Perih. Dan akhirnya berujung pada penyesalan. Hal itulah yang kini Derry alami dan rasakan. Perlahan ia teringat pada hari-hari yang ia jalani bersama Vina. Saat pertama mereka berkenalan sampai saat-saat mereka merajut tali kasih. Sungguh manis dan indah. Lelaki itu memejamkan matanya lalu mengantupkan rahangnya kuat-kuat. Harus ia akui kini ia menyesal telah berpisah dengan gadis yang dicintainya. Memang pada awalnya lelaki itu setengah hati menjalani hari-hari bersama Vina. Memang ini yang ia inginkan pada awalnya. Tapi mengapa ketika semua telah terjadi ia merasa sangat menyesal. Andai saja masih bisa, lelaki itu ingin sekali menarik gadis itu kembali disisinya. Ingin sekali ia memeluk gadis itu untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar berpisah dengannya. Ia menyadari janji yang dulu ia berikan tak pernah terwujud sampai saat ini. Kalau boleh jujur sebenarnya Derry sudah mulai menyayangi gadis itu tanpa bayang-bayang Dira -mantannya sebelum Vina- sejak awal bulan lalu sebelum mereka putus. Andai saja Derry tidak memaksakan ego nya dulu, mungkin saat ini ia masih berada disisi Vina.                   
"Maafin aku vin.." ucapnya lirih pada sebuah foto yang berada ditangannya.
"Andai aku dulu mikir gak pake emosi, mungkin gak akan ada kejadian ini. Maaf.. maafin aku. Aku sayang kamu Vin" lanjutnya kemudian

tok.. tok.. tok..
Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar. Derry menyuruh orng itu masuk.
"Ada apa Ndra?" ucap Derry pada Indra
"Gue cuma mau tanya. Lo udah tau kalau besok Vina akan pindah ke Ausie?" tanyanya hati-hati.
Deg. Seketika jantung Derry berdegup kencang. Ia tertegun sesaat, menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Indra selanjutnya.
"Gue sama yang lainnya besok mau ikut ngantar sampai bandara. Lo mau ikut?" tanya Indra kemudian.
"Gak Ndra, gue gak bakal ikut!" ucap Derry kemudian terdengar parau dan serak.
"Kenapa? Masih lo permasalahin masalah yang dulu? Der, gue tau lo marah banget sama Vina tapi lo harusnya udah bisa maafin dia. Dan kalau gue pikir itu semua bukan sepenuhnya salah dia."
"Gue tau! Tapi sumpah perbuatannya dia dulu belum bisa gue maafin. Cara dia ngejebak gue gak lucu Ndra!" ucap Derry ketus.
"Oke terserah lo aja. Tapi asal lo tau Vina pergi dan gak akan balik. Dia bakal kuliah disana dan menetap disana. Gue harap lo gak nyesel!" ucap Indra kemudian dan pergi. Dalam hati Derry merutuki diri. Ada rasa ingin bertemu dan tidak. Sang ego dan perasaan kembali berperang. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah mau bertemu dan bicara lagi dengan gadis itu. Dan dia pun bersumpah tidak akan datang ke bandara apapun yang terjadi! Dan lagi-lagi sang ego berteriak dan menang!
                                                                                                ***
Wangi jingga mulai tercium. Langit pun mulai berubah menjadi jingga, dan goresannya mulai terlihat indah. Burung-burung berterbangan untuk pulang, langit menyamburkan warna orange dihiasi partitur cahaya senja lalu awan-awan pun mulai menggumpal dan membentuk gambaran sempurna. Eloknya langit benar-benar menyemburkan jingga hangat, goresannya yang ranum mulai menyeruak. Pijakan senja saat ini terasa damai, berbagai endapan kebencian dan kemarahan menguap, elegi kepedihan pudar dan perlahan sirna. Langit pun mengulum gerimisnya sore ini. Yang ditampakkannya hanya seutas pelangi yang indah. Ditengah suasana sore yang damai ini seorang lelaki berdiri di depan jendela kamarnya. Melihat ke arah luar. Menatap keadaan sore yang elok. Perlahan ia memperhatikan burung-burung yang terbang kian kemari. Mungkin saat ini mereka menuju sarangnya masing-masing, membawa kabar gembira atau mungkin membawa makanan untuk anak-anak mereka. Derry tersenyum simpul membayangkan hal itu. Tak lama, pikirannya melayang pada ucapan Indra kemarin, hari ini. Tepat malam ini vina akan pergi meninggalkan Indonesia dan dirinya. Entah berapa lama ia disana, mungkin setahun, dua tahun atau mungkin selamanya! Perlahan ia merasa sesak. Decitan hatinya terasa sesak dan pilu. Terasa perih dan menyakitkan. Keadaan hatinya saat ini bagai burung tak bersayap, bagai malaikat tak bertulang dan bagai malai tanpa bintang. Gelap. Sepi. Hampa. Dan pada akhirnya tubuh ini dijejali oleh rasa sakit. Ia pun menarik nafas. Dalam dan hampa. Lalu segera mengambil secarik kertas dan kunci motornya, lalu bergegas menuju bandara.
                                                                                                             ***

"Mohon perhatian kepada seluruh penumpang dengan tujuan pemberangkatan melbourne Australia harap segera bersiap-siap karena 10 menit lagi....."
"Oke guys aku udah dipanggil nih" ucap Vina
"Vin kamu yakin gak akan ngehubungin Derry untuk terakhir kalinya?" ucap Ayu
"Aku udah hubungin dia tadi tapi hp nya gak aktif"
"Gak akan nyoba sekali lagi?" kali ini Tris yang bertanya.
"Gak usah kayaknya dia masih marah sama aku" ucap Vina
"Hmm Ndra titip salam aja ya buat Derry tolong bilang sama dia aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku yang dulu itu" sambung Vina.
"Oke pasti ntar aku sampaikan. Jaga diri baik-baik ya Vin, jangan sampai lupa sama kita"
Vina hanya menjawabnya dengan senyuman. Entah senyum apa yang ia tunjukan. Entah terharu, ikhlas, sakit, kecewa bahkan pasrah yang jelas saat ini ia merasa bahagia sekaligus terharu, bahagia karena di akhir keberadaannya di Indonesia ia masih mempunya teman-teman yang amat sangat perduli pada dirinya bahkan di tengah masalah yang ia hadapi dengan Derry pun teman-temannya tetap setia menghibur dirinya dengan tawa dan candaan yang mereka buat. Vina pun tersadar dari lamunannya lalu segera bergegas menuju pesawat, tak lupa ia berpamitan dan memeluk temannya satu per satu sebagai tanda perpisahan. Setelah melambaikan tangan ia pun mulai berjalan menuju arah utara, tempat suara berasal. Sesekali ia melambaikan tangannya pada teman-temannya yang masih tetap menatapnya sampai Vina hilang di kejauhan. Dan pada akhirnya Vina pun makin menjauh dan hilang tertelan oleh kejauhan.
                                                                                                  ***
Terangnya malam oleh rembulan, di tengah dinginnya malam dan disambut keramaian kota, mengantarkan pada satu keadaan. Keadaan dimana semua orang membencinya, termasuk Derry. Ia benci keadaan ini. Disaat dirinya sedang dalam keadaan terburu-buru kenapa keadaan kota begitu padat merayap. Disaat ia akan meminta maaf dan akan menyatakan cintanya pada Vina mengapa tidak didukung oleh keadaan kota. Setangkai mawar dan secarik kertas yang beisi puisi telah ia persiapkan untuk menyatakan cintanya pada Vina. Derry tak bisa menunggu lama lagi karena waktunya tak cukup. Hanya saat ini lah ia mempunyai waktu. Tidak nanti. Besok. Apalagi lusa. Hanya malam ini waktunya untuk meminta maaf kepada Vina. Tetapi jika melihat kondisi jalan saat ini, ia yakin ai akan terlambat. Tidak akan sampai di bandara tepat pada waktunya. Derry cemas. Khawatir. Takut kalau ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Takut kalau Vina telah pergi untuk waktu yang tak sebentar. Lelaki itu pun berusaha keras untuk menyalip kanan kiri. Tak perduli ada motor lain yang menyalip dirinya. Bisa dibilang saat ini ia sedang mempertaruhkan nyawanya. Ia tidak menghiraukannya. Tidakperduli. Baginya yang terpentin adalah ia bisa bertemu dengan Vina untuk meminta maaf dan meminta Vina untuk kembali menjadi kekasihnya. Tidak perduli walaupun Derry harus menunggu lama, menunggu Vina pulang. Ia tidak perduli. Ia punya banyak waktu untuk itu. Yang penting ia menyatakan cintanya pada Vina malam ini juga! Pada akhirnya Derry mengambil jalan tikus. Jalan yang tidak mengalami kemacetan. Walaupun itu lebih jauh dari jalan biasanya tapi tak apa asalkan terhindar dari kemacetan, karena bila jalan legang ia bisa menaikan kecepatan laju motornya. Dan benar saja disaat ia mengambil jalan yang berbeda jalanan sangat legang, bahkan nyaris kosong. Keadaan ini ia manfaatkan untuk mempercepat laju motornya. Sesampainya di bandara ia memarkirkan motornya dengan sembarangan. Lagi-lagi ia tak perduli dengan ocehan satpam yang memarahi dirinya, ia tetap bersikeras mencari keberadaan Vina. Tetapi hasilnya nihil. Berkali-kali ia mencari gadis itu tetapi tetap tak menemukan hasilnya. Hingga akhirnya ia sadar bahwa Vina telah pergi meninggalkan Indonesia mungkin bisa dibilang untuk selamanya. Kini Derry hanya dapat menyesali perbuatannya dulu. Menyesali keegoisannya. Lelaki itu pun terlihat lunglai setangkai mawar dan secarik kertas yang ada di tangannya perlahan luruh bersama dengan penyesalan dirinya. Kertas itu pun jatuh menyentuh bumi, dan memperlihatkan isinya. Sebuah puisi yang ia tulis untuk Vina.
Kulukis wajahmu dalam lekuk cakrawala bersama gelegak gairah jiwa yang terbawa hembusan angin
Membawakan partitur cinta disambut teriakan hati dan sorak kerinduan
Kubingkai senyummu dalam balutan bintang di temani sinar rembulan melumuri langit
Kan kusimpan senyummu pada rasi bintang terindah kan ku jaga pada tempat tertinggi di atas langit di temani gugusan bintang dan cerahnya bulan purnama yang tak segera sirna oleh datangnya embun pagi
Adalah senyummu yang slalu menghangatkan, adalah senyummu yang membuatku bahagia
Adalah senyummu yang rupawan nan mempesona terpana aku akan senyummu terbelenggu oleh seulas tarikan kecil di bibir yang membuatmu terlihat indah
Terbelenggu ku oleh senyummu seakan waktu berhenti ketika ku melihat senyummu seakan memberiku pencerahan oleh seulas senyummu
Seulas tarikan di bibirmu…
Kecil namun berakibat besar walaupun seulas tapi ku merasa sebesar dunia
Hanya seulas tarikan di bibirmu tapi mampu menggetarkan hati
Ku harap aku dapat terus melihat senyummu, walaupun hanya seulas atau sedetikpun aku bahagia..

Maaf untuk semua kesalahan yang telah aku lakukan. Aku menyayangimu.
-Derry-

Vina pergi membawa cintanya pada Derry dan Derry tinggal meninggalkan cintanya pada Vina. Entah sampai kapan mereka akan sanggup menunggu. Menunggu kepastian yang tak pernah pasti. Menunggu takdir mempersatukan mereka walau entah kapan. Cinta memang rumit. Kadang mudah tuk dimengerti, tapi kadang sulit tuk dimengerti. Cinta memang membuat manusia berpikir lain atas apayang mereka pikirkan. Cinta adalah anugrah, cinta adalah kidung sanubari, cinta adalah keindahan dan cinta adalah kasih sayang. Cinta datang kepada orang-orang yang masih memiliki harapan, karna cinta begitu indah namun menyakitkan.Tetapi cinta bisa berubah menjadi mukjijat, bisa menimbulkan hal-hal di luar akal piker manusia. Cinta juga bisa menunggu sampai kapanpun dan sampai berapa lamapun, begitupun dengan Derry yang tengah terduduk lunglai meratapi sang gadis pujaannya yang telah pergi entah untuk berapa lama. Yang pasti ia akan tetap menunggu walaupun itu menghabiskan sisa hidupnya.



TAMAT

"Simple Thing Called Love" by Anna Triana

Judul          : Simple Thing Called Love Penulis       : Anna Triana Penerbit      : Elex Media Komputindo ISBN          : 978 - 602 - 0...