Dalam rinai hujan, kutitipkan doa untukmu dalam benak juga jiwaku
Kulantunkan sebait kata kata yang terbaik untuk keselamatanmu
Kusisipkan satu permohonan untukmu juga aku agar senantiasa menjadi kita
Dalam waktu yang terus bergulir,
Kusimpan kenangan terindah bersamamu
Kubingkai dalam tawa juga tangis. Sesekali
Kubuka ketika aku meradakan rasa yang tak biasa dan bergejolak dalam relung hati yang tak berdasar
Kusimpan rasa yang tak kunjung hilang pada tempat yang paling aman
Agar sesekali aku dapat mengenangmu,
Tentang kau, aku juga kita.
Dalam setiap sujudku,
Kulantunkan namamu dalam bibir dan hatiku
Kusisipkan sebuah nama yang terus ada dalam pikiranku juga hatiku
Kuucapkan satu nama yang tak pernah ingin aku kulapakan sampai akhir hayat
Agar selalu terkenang dalam jiwa, memori, juga kenangan yang terus terpatri dalam kerinduan. Sesekali
Ya. Hanya sesekali
seorang wanita yang mempunyai mimpi menjadi penulis fiksi, suka traveling, kuliner juga mencari inspirasi di tempat yang belum banyak dikunjungi orang. Jangan lupakan greentea atau hot chocolate :) welcome to my world, saya harap kalian suka dengan apa yang saya tulis
JNGGA
Minggu, 24 Mei 2015
Mungkin puisi
Senin, 11 Agustus 2014
Tawa Yang Perlahan Lenyap
Disaat semua tawa menghilang
Disaat canda dan derai air mata kebahagiaan lenyap
Disaat itu juga sepi mulai menyeruak
Sepi yang menikam ditengah malam dengan ditemani seekor laba laba yang berada di sudut ruangan
Perlahan sepi itu mulai merasuk dalam kalbu
Terus menusuk hingga ke jiwa
Aku merasakan desiran angin menemani sepi
Mereka menjelajahi tubuhku dengan leluasa
Mehujat relung hati, menusuk tulang da darahku, dan perlahan berjalan menyusuri otakku
suara cicak pada sudut kamar terdengar, seketika menguapkan rasa sepi
Pelan namun pasti suara cicak itu lenyap seiring dengan berjalannya cicak itu keluar ruanganku
Rasa sepi mulai menyelimuti kembali
Kemanakah tawa riang selama ini?
Kemanakah tawa canda yang selama ini bersemayam dalam jiwaku?
Apakah mereka pergi dengan angin malam yang selalu berhembus di depan jendela kamarku?
Atau mereka bosan terus berada dalam jiwaku?
Disaat canda dan derai air mata kebahagiaan lenyap
Disaat itu juga sepi mulai menyeruak
Sepi yang menikam ditengah malam dengan ditemani seekor laba laba yang berada di sudut ruangan
Perlahan sepi itu mulai merasuk dalam kalbu
Terus menusuk hingga ke jiwa
Aku merasakan desiran angin menemani sepi
Mereka menjelajahi tubuhku dengan leluasa
Mehujat relung hati, menusuk tulang da darahku, dan perlahan berjalan menyusuri otakku
suara cicak pada sudut kamar terdengar, seketika menguapkan rasa sepi
Pelan namun pasti suara cicak itu lenyap seiring dengan berjalannya cicak itu keluar ruanganku
Rasa sepi mulai menyelimuti kembali
Kemanakah tawa riang selama ini?
Kemanakah tawa canda yang selama ini bersemayam dalam jiwaku?
Apakah mereka pergi dengan angin malam yang selalu berhembus di depan jendela kamarku?
Atau mereka bosan terus berada dalam jiwaku?
Jumat, 01 Agustus 2014
Dear, You
Untuk seseorang di masa lalu. Bukan mantan, namun orang yang aku tunggu hingga saat ini (mungkin)
Dear you,
Hey apa kabarmu saat ini?
Aku harap kamu baik baik saja sayang.
Oya taukah kamu bahwa saat ini aku sangat amat merindukanmu?
Entahlah namun kenangan tentang kita terlintas begitu saja dalam benakku.
Sayang,
Aku berbohong jika kukatakan aku masih mencintaimu seperti dulu
Aku berbohong jika rasa cintaku terhadapmu masih besar seperti beberapa tahun terakhir saat kita sering berjumpa.
Yang ada hanyalah rasa cintaku yang berkurang, rasa ini perlahan terkikis hingga menipis kemudian hilang.
Taukah kau jika aku tak lagi memikirkanmu setiap detik hingga membuatku sesak terbakar oleh rasa rindu yang tak terkabul
Bukankah itu baik?
Ya. Aku berhasil
Aku telah berhasil sedikit melupakanmu beberapa terakhir ini.
Tapi apakah kau tau sayang?
Kenyataannya yang terkikis hanya rasa cintaku, tidak untuk rasa rindu
Uap rindu tak bisa menghilang bersamaan dengan rasa cintaku
Aku tak mengerti. Terkadang rasa rindu ini begitu menyiksaku. Ada permintaan yang menggila dalam diam jika aku mengingatmu
Ada suara yang berteriak dalam keheningan
Memintaku, memaksa hingga memohon agar aku mengeluarkan rasa rindu yang tertumpuk dan bergejolak dalam diriku.
Terkadang rasa rindu itu muncul hanya karna hal kecil. Aku tak tahu mengapa mereka begitu meminta agar keinginan mereka terpenuhi
Mungkinkah karna kenangan?
Mungkinkan karna terlalu banyak hal hal yang tlah kita lalui sekian tahun lalu?
Tapi kau tak usah khawatir sayang, aku akan mengingatmu sesekali seperti yang selama ini aku lakukan. Aku akan merindukanmu sesekali seperti yang selama ini aku lakukan. Tenanglah. Aku pasti bisa melakukannya. Untukmu. Untukku dan untuk dia. Aku bisa
Ingatlah. Aku bisa.
Bandung, 1 Agustus 2014
Dear you,
Hey apa kabarmu saat ini?
Aku harap kamu baik baik saja sayang.
Oya taukah kamu bahwa saat ini aku sangat amat merindukanmu?
Entahlah namun kenangan tentang kita terlintas begitu saja dalam benakku.
Sayang,
Aku berbohong jika kukatakan aku masih mencintaimu seperti dulu
Aku berbohong jika rasa cintaku terhadapmu masih besar seperti beberapa tahun terakhir saat kita sering berjumpa.
Yang ada hanyalah rasa cintaku yang berkurang, rasa ini perlahan terkikis hingga menipis kemudian hilang.
Taukah kau jika aku tak lagi memikirkanmu setiap detik hingga membuatku sesak terbakar oleh rasa rindu yang tak terkabul
Bukankah itu baik?
Ya. Aku berhasil
Aku telah berhasil sedikit melupakanmu beberapa terakhir ini.
Tapi apakah kau tau sayang?
Kenyataannya yang terkikis hanya rasa cintaku, tidak untuk rasa rindu
Uap rindu tak bisa menghilang bersamaan dengan rasa cintaku
Aku tak mengerti. Terkadang rasa rindu ini begitu menyiksaku. Ada permintaan yang menggila dalam diam jika aku mengingatmu
Ada suara yang berteriak dalam keheningan
Memintaku, memaksa hingga memohon agar aku mengeluarkan rasa rindu yang tertumpuk dan bergejolak dalam diriku.
Terkadang rasa rindu itu muncul hanya karna hal kecil. Aku tak tahu mengapa mereka begitu meminta agar keinginan mereka terpenuhi
Mungkinkah karna kenangan?
Mungkinkan karna terlalu banyak hal hal yang tlah kita lalui sekian tahun lalu?
Tapi kau tak usah khawatir sayang, aku akan mengingatmu sesekali seperti yang selama ini aku lakukan. Aku akan merindukanmu sesekali seperti yang selama ini aku lakukan. Tenanglah. Aku pasti bisa melakukannya. Untukmu. Untukku dan untuk dia. Aku bisa
Ingatlah. Aku bisa.
Bandung, 1 Agustus 2014
Minggu, 13 Juli 2014
hujan?
Demi hujan dan angin
Aku menyerah pada air mata
kubiarkan butiran kristal ini jatuh pada bumi dan ikut pergi bersamamu
Untuk rasa sakit pada ulu hati
Kubiarkan air mataku memenuhi pelupuk mata
Biar ia tinggal pada mataku lalu turun bebas pada bumi
Membiarkan sang bumi menerimanya lalu tinggal dalam keabadian bersama mu, hujan
Untuk seseorang yang sama
Kubiarkan air mataku jatuh untuk yang kesekian kalinya
Memenuhi pikirannya sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri kepada bumi
Memasrahkan nasibnya pada gejolak bumi bersama air hujan
Untuk langit yang gelap
Ku biarkan kau menangis seperti ku saat ini
Kuajak kau untuk merasakan bagaimana rasanya patah hati untuk pengorbanan, kasih sayang hingga hadirlah puncak pengorbanan bernama cinta
Kini kita sama
Menangis dan mengeluarkan air dari pelupuk matamu yang indah
Seharusnya kau tak menangis hari ini
Cukup aku dan hatiku yang menangis
cukup aku dan imajinasiku yang menangis
Hanya aku dan tubuhku.
Tidak angin, hujan juga kamu
Aku menyerah pada air mata
kubiarkan butiran kristal ini jatuh pada bumi dan ikut pergi bersamamu
Untuk rasa sakit pada ulu hati
Kubiarkan air mataku memenuhi pelupuk mata
Biar ia tinggal pada mataku lalu turun bebas pada bumi
Membiarkan sang bumi menerimanya lalu tinggal dalam keabadian bersama mu, hujan
Untuk seseorang yang sama
Kubiarkan air mataku jatuh untuk yang kesekian kalinya
Memenuhi pikirannya sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri kepada bumi
Memasrahkan nasibnya pada gejolak bumi bersama air hujan
Untuk langit yang gelap
Ku biarkan kau menangis seperti ku saat ini
Kuajak kau untuk merasakan bagaimana rasanya patah hati untuk pengorbanan, kasih sayang hingga hadirlah puncak pengorbanan bernama cinta
Kini kita sama
Menangis dan mengeluarkan air dari pelupuk matamu yang indah
Seharusnya kau tak menangis hari ini
Cukup aku dan hatiku yang menangis
cukup aku dan imajinasiku yang menangis
Hanya aku dan tubuhku.
Tidak angin, hujan juga kamu
Jumat, 04 Juli 2014
Saat Waktu Terus Bergulir
Untuk waktu yang terus berlari
Menabrak semua asa dan harapan yang ada
Demi angin. Bisakah kau berhenti sejenak ketika aku sedang bersamanya?
Bisakah kau berhenti berlari saat asa dan harapan itu kembali muncul?
Demi waktu, aku terlalu bahagia ketika aku melihatnya dikejauhan. Aku terlalu cinta untuk mengabaikannya di pertigaan itu. Tapi aku terlalu takut untuk tenggelam lebih dalam bersama dirinya. Tidak. Aku sudah tenggelam terlalu dalam untuk hal ini.
Demi hujan dan pagi,
Bisakah kau katakan pada waktu untuk beristirahat sejenak?
Aku masih ingin melihat senyumnya yang menghiasi bibirnya.
Aku masih ingin tertawa bersamanya walau hanya sekejap.
Mungkin aku terlalu egois. Iya aku terlalu egois untuk tak bertemu dengannya. Aku terlalu egois untuk mempertahankan dirinya agar tetap ada dalam bola mataku.
Tapi sadarkah kau ketika aku mulai melihatmu lagi aku merasa pipi ini panas? Jantungku berdegup kencang sampai aku tak mendenger degup jantungku sendiri.
Ketika kau mulai memanggil namaku, aku menoleh. Dan saat itu aku melihat senyummu begitu indah. Begitu manis sampai aku tak sanggup melupakan senyummu.
Seketika itu jantungku makin menggila. Ada harapan yang menggila dalam diam. Berteriak memohon agar tak terlalu jauh tapi aku tetap egois.
Tidak. Sejak kau katakan permintaan itu saraf pada otakki sudah tidak berfungsi. Hanya hati dan perasaan yang mengendalikan tubuhku. Dan sampai saat kita bertemupun aku masih merasakannya. Disaat kita duduk berdampingan membicarakan apapun yang ada dalam pikiran kita masing masing saat itu lah aku merasa egois. Aku ingin waktu berhenti beberapa saat. Hanya agar aku dapat melihat senyummu lebih lama lagi. Aku tau itu tak mungkin.
Saat akhirnya kita berjalan masing masinv aku berfikir kapan kita akan ada dalam situasi seperti ini lagi? Akankah kita menemukan waktu lain selain hari ini, kesempatan ini. Saat itu juga aku merasa marah pada waktu. Mengapa kau datang begitu cepat? Mengapa kah mengambil kebahagiaanku?
Seperti dihempaskan dengan paksa aku mengerti itulah waktu yang Tuhan berikan padaku. Mungkin hanya untuk saat itu. Mungkin Tuhan hanya membiarkanku untuk mencobanya sekali. Mungkin Tuhan memberikan sepercik kebahagiaan dengan cara itu. Aku tau
Tapi saat ini yang aku rasakan, aku menyesal. Menyesal atas waktu yang berjalan begitu cepat. Atau menyesal karna aku yang memberikan waktu sesingkat itu?
Bandung, Juli 2014
Menabrak semua asa dan harapan yang ada
Demi angin. Bisakah kau berhenti sejenak ketika aku sedang bersamanya?
Bisakah kau berhenti berlari saat asa dan harapan itu kembali muncul?
Demi waktu, aku terlalu bahagia ketika aku melihatnya dikejauhan. Aku terlalu cinta untuk mengabaikannya di pertigaan itu. Tapi aku terlalu takut untuk tenggelam lebih dalam bersama dirinya. Tidak. Aku sudah tenggelam terlalu dalam untuk hal ini.
Demi hujan dan pagi,
Bisakah kau katakan pada waktu untuk beristirahat sejenak?
Aku masih ingin melihat senyumnya yang menghiasi bibirnya.
Aku masih ingin tertawa bersamanya walau hanya sekejap.
Mungkin aku terlalu egois. Iya aku terlalu egois untuk tak bertemu dengannya. Aku terlalu egois untuk mempertahankan dirinya agar tetap ada dalam bola mataku.
Tapi sadarkah kau ketika aku mulai melihatmu lagi aku merasa pipi ini panas? Jantungku berdegup kencang sampai aku tak mendenger degup jantungku sendiri.
Ketika kau mulai memanggil namaku, aku menoleh. Dan saat itu aku melihat senyummu begitu indah. Begitu manis sampai aku tak sanggup melupakan senyummu.
Seketika itu jantungku makin menggila. Ada harapan yang menggila dalam diam. Berteriak memohon agar tak terlalu jauh tapi aku tetap egois.
Tidak. Sejak kau katakan permintaan itu saraf pada otakki sudah tidak berfungsi. Hanya hati dan perasaan yang mengendalikan tubuhku. Dan sampai saat kita bertemupun aku masih merasakannya. Disaat kita duduk berdampingan membicarakan apapun yang ada dalam pikiran kita masing masing saat itu lah aku merasa egois. Aku ingin waktu berhenti beberapa saat. Hanya agar aku dapat melihat senyummu lebih lama lagi. Aku tau itu tak mungkin.
Saat akhirnya kita berjalan masing masinv aku berfikir kapan kita akan ada dalam situasi seperti ini lagi? Akankah kita menemukan waktu lain selain hari ini, kesempatan ini. Saat itu juga aku merasa marah pada waktu. Mengapa kau datang begitu cepat? Mengapa kah mengambil kebahagiaanku?
Seperti dihempaskan dengan paksa aku mengerti itulah waktu yang Tuhan berikan padaku. Mungkin hanya untuk saat itu. Mungkin Tuhan hanya membiarkanku untuk mencobanya sekali. Mungkin Tuhan memberikan sepercik kebahagiaan dengan cara itu. Aku tau
Tapi saat ini yang aku rasakan, aku menyesal. Menyesal atas waktu yang berjalan begitu cepat. Atau menyesal karna aku yang memberikan waktu sesingkat itu?
Bandung, Juli 2014
Selasa, 01 Juli 2014
Akhir Kisahku
"Aku tak boleh jatuh cinta padanya, sebab aku tau akhir ceritanya akan seperti apa"
Selalu, kata-kata itu yang hadir dalam benakku. Ya aku tak boleh jatuh cinta padanya apalagi menaruh rasa sayang terhadapnya. Aku tak ingin dia berubah, aku tak ingin menyesal di lain waktu, aku tak ingin menangis karnanya. Mungkin aku munafik, aku terlalu menyangkal akan hadirnya sebuah cinta di antara kami. Tapi tolonglah tidak untuk saat ini dan tidak padanya, tidak pada orang yang selalu hadir dalam hari-hariku walau sekedar berbagi tawa dan canda. Pikiranku melayang padanya. Tentang dia yang selalu baik padaku. Senyumnya, tawanya, tatapan matanya hingga cara dia berbicara dan memandangku. Perlahan aku meletakan pinsil yang sejak tadi melekat pada tanganku dan siap untuk digoreskan pada kertas putih yang kini ada di depanku.
'Tidak, aku tidak bisa. Terlalu banyak yang kupikirkan tentang dia' ucapku dalam hati.
Aku mengambil cangkir yang berisi teh hangat didepanku dan meminumnya. Mataku terus memandang langit barat dengan senja berwarna oranye yang sedari tadi memenuhi ufuk barat. Aku menyandarkan tubuhku pada kursi.
'Ya Tuhan mengapa begini?' Aku memejamkan mata kemudian bersenandung lirih. Entah musik dari mana yang kudengar. Yang jelas aku sangat menikmatinya. Perlahan tanganku bergerak mengambil pinsil yang sedari tadi menganggur di depanku. Kemudian pinsil itu mulai kugoreskan pada sketbook yang kubawa. Aku tersenyum sesekali mengingat wajah pria yang ku gambar. Matanya yang bulat besar, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang imut. Ah tak lupa dia memakai kacamata juga jaket biru tua yang selalu ia pakai. Hm ia terlihat maskulin dengan pakaian seperti itu. Aku terlalu asik menggambar sketsa hingga aku tak menyadari sedari tadi telah berdiri seseorang dibelakangku. Menatapku yang sedang menggambar.
"Waw bagus sekali gambaranmu" ucapnya dengan kagum kemudian duduk di depanku.
"Eh itu…itu" ucapku terbata bata lalu menutup sketbook yang sedari tadi ada ditanganku.
"Gambar siapa sih? Coba lihat," ucapnya tiba-tiba lalu merebut sketbook dari tanganku.
"Jangan ituuu…" terlambat! Gerakannya terlalu cepat untuk kucegah. Aku hanya tertunduk lesu sambil menggigit bibir. Pasrah sudah.
"Hei ini kelihatannya seperti gambarku. Benarkah itu?" Ucapnya masih dengan senyum dibibirnya. Sambil membolak balikan lembar demi lembar dia mengamati semua gambar yang kubuat. Dia terlihat serius. Senyumnya menghilang. Tawanya sirna. Aku makin menundukan kepalaku. Tak tau harus memberikan alasan apa yang tepat untuknya. Tepat disaat lembar terakhir, terlihat gambarnya sedang tersenyum melihat hamparan langit jingga di tepi danau. Dia diam. Matanya melihat tulisan yang ada di bawah gambar dirinya 'untuk seseorang yang tak mungkin kuraih'
Dia menutup sketbookku. Wajahnya menatapku serius. Aku bisa mendengar tarikan nafasnya. Seolah dia sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Aku hanya diam. Bibirku kelu. Lidahku membatu. Tak dapat berkata apa-apa.
"Sejak kapan Ra?" Tanya nya perlahan.
"Kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa kamu gak pernah bilang dari dulu?" Matanya menatapku nanar. Suaranya sarat akan penyesalan. Aku terdiam untuk beberapa saat. Mencerna kata-kata yang akan aku keluarkan.
"Maaf…" akhirnya hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku.
Dia menggeleng.
"Aku yang harusnya minta maaf. Aku gak pernah tau. Aku…"
"Sudah terlambat Dim. Kamu gak salah maafkan aku"
Hening. Tak ada yang berniat mengeluarkan kata-kata. Sunyi. Biarlah hening untuk sejenak. Mungkin itu akan lebih baik.
"Boleh aku tau sejak kapan?" Ucapnya kemudian. Aku hanya menggeleng. Bukannya aku enggan untuk menjawab pertanyaannya namun aku pun tak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Sejak kapan aku mulai jatuh cinta terhadapnya. Perasaan itu mengalir begitu saja. Seperti air.
"Tolong jangan buat aku bingung." Ucapnya parau. Tangannya mulai menggenggam tanganku. Aku tak bisa menahan butiran air mata yang menyesaki mataku.
"Maaf. Tapi aku pun tak tau sejak kapan rasa ini muncul. Sejak awal aku mencintaimu aku tau bahwa rasa ini tak kan berbalas. Aku tau kau hanya menganggapku sebagai teman dan tak bisa lebih dari itu. Sampai akhirnya kau menemukan orang yang kau sayang dengan tulus."
Aku melihatnya terdiam. Matanya tertuju pada satu titik. Aku melihat kilatan di matanya. Jika aku tak salah sepertinya itu sebuah penyesalan.
"Maaf aku sudah membiarkanmu tau tentang hal ini. Maaf telah membuatmu begini. Tapi sungguh aku tidak apa-apa." Lanjutku. Dia masih terdiam dengan seribu beban yang ada pada matanya. Terlihat jelas dia bimbang. Aku menyerah dengan kebisuannya.
"Baiklah, kurasa aku harus pergi darimu. Aku gak mau kamu begini. Bimbang hanya karna memikirkan perasaanku yang tak berujung. Aku rasa sebaiknya aku pergi selamat tinggal dan terima kasih." Aku membereskan alat-alat gambar yang masih berserakan di depanku. Memasukannya dalam tas kemudia beranjak.
"Jaga diri baik-baik." Ucapku padanya sebelum pergi. Mungkin ini memang akhir dari kisahku. Tak apa, aku ikhlas. Kulihat dia masih mematung sampai aku berbalik, hendak untuk pergi meninggalkannya.
"Aku juga mencintaimu. Andai saja kau lebih cepat dan aku lebih awal mengetahui ini, mungkin tak perlu ada Naomi."
Juli, 2014
Selalu, kata-kata itu yang hadir dalam benakku. Ya aku tak boleh jatuh cinta padanya apalagi menaruh rasa sayang terhadapnya. Aku tak ingin dia berubah, aku tak ingin menyesal di lain waktu, aku tak ingin menangis karnanya. Mungkin aku munafik, aku terlalu menyangkal akan hadirnya sebuah cinta di antara kami. Tapi tolonglah tidak untuk saat ini dan tidak padanya, tidak pada orang yang selalu hadir dalam hari-hariku walau sekedar berbagi tawa dan canda. Pikiranku melayang padanya. Tentang dia yang selalu baik padaku. Senyumnya, tawanya, tatapan matanya hingga cara dia berbicara dan memandangku. Perlahan aku meletakan pinsil yang sejak tadi melekat pada tanganku dan siap untuk digoreskan pada kertas putih yang kini ada di depanku.
'Tidak, aku tidak bisa. Terlalu banyak yang kupikirkan tentang dia' ucapku dalam hati.
Aku mengambil cangkir yang berisi teh hangat didepanku dan meminumnya. Mataku terus memandang langit barat dengan senja berwarna oranye yang sedari tadi memenuhi ufuk barat. Aku menyandarkan tubuhku pada kursi.
'Ya Tuhan mengapa begini?' Aku memejamkan mata kemudian bersenandung lirih. Entah musik dari mana yang kudengar. Yang jelas aku sangat menikmatinya. Perlahan tanganku bergerak mengambil pinsil yang sedari tadi menganggur di depanku. Kemudian pinsil itu mulai kugoreskan pada sketbook yang kubawa. Aku tersenyum sesekali mengingat wajah pria yang ku gambar. Matanya yang bulat besar, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang imut. Ah tak lupa dia memakai kacamata juga jaket biru tua yang selalu ia pakai. Hm ia terlihat maskulin dengan pakaian seperti itu. Aku terlalu asik menggambar sketsa hingga aku tak menyadari sedari tadi telah berdiri seseorang dibelakangku. Menatapku yang sedang menggambar.
"Waw bagus sekali gambaranmu" ucapnya dengan kagum kemudian duduk di depanku.
"Eh itu…itu" ucapku terbata bata lalu menutup sketbook yang sedari tadi ada ditanganku.
"Gambar siapa sih? Coba lihat," ucapnya tiba-tiba lalu merebut sketbook dari tanganku.
"Jangan ituuu…" terlambat! Gerakannya terlalu cepat untuk kucegah. Aku hanya tertunduk lesu sambil menggigit bibir. Pasrah sudah.
"Hei ini kelihatannya seperti gambarku. Benarkah itu?" Ucapnya masih dengan senyum dibibirnya. Sambil membolak balikan lembar demi lembar dia mengamati semua gambar yang kubuat. Dia terlihat serius. Senyumnya menghilang. Tawanya sirna. Aku makin menundukan kepalaku. Tak tau harus memberikan alasan apa yang tepat untuknya. Tepat disaat lembar terakhir, terlihat gambarnya sedang tersenyum melihat hamparan langit jingga di tepi danau. Dia diam. Matanya melihat tulisan yang ada di bawah gambar dirinya 'untuk seseorang yang tak mungkin kuraih'
Dia menutup sketbookku. Wajahnya menatapku serius. Aku bisa mendengar tarikan nafasnya. Seolah dia sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Aku hanya diam. Bibirku kelu. Lidahku membatu. Tak dapat berkata apa-apa.
"Sejak kapan Ra?" Tanya nya perlahan.
"Kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa kamu gak pernah bilang dari dulu?" Matanya menatapku nanar. Suaranya sarat akan penyesalan. Aku terdiam untuk beberapa saat. Mencerna kata-kata yang akan aku keluarkan.
"Maaf…" akhirnya hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku.
Dia menggeleng.
"Aku yang harusnya minta maaf. Aku gak pernah tau. Aku…"
"Sudah terlambat Dim. Kamu gak salah maafkan aku"
Hening. Tak ada yang berniat mengeluarkan kata-kata. Sunyi. Biarlah hening untuk sejenak. Mungkin itu akan lebih baik.
"Boleh aku tau sejak kapan?" Ucapnya kemudian. Aku hanya menggeleng. Bukannya aku enggan untuk menjawab pertanyaannya namun aku pun tak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Sejak kapan aku mulai jatuh cinta terhadapnya. Perasaan itu mengalir begitu saja. Seperti air.
"Tolong jangan buat aku bingung." Ucapnya parau. Tangannya mulai menggenggam tanganku. Aku tak bisa menahan butiran air mata yang menyesaki mataku.
"Maaf. Tapi aku pun tak tau sejak kapan rasa ini muncul. Sejak awal aku mencintaimu aku tau bahwa rasa ini tak kan berbalas. Aku tau kau hanya menganggapku sebagai teman dan tak bisa lebih dari itu. Sampai akhirnya kau menemukan orang yang kau sayang dengan tulus."
Aku melihatnya terdiam. Matanya tertuju pada satu titik. Aku melihat kilatan di matanya. Jika aku tak salah sepertinya itu sebuah penyesalan.
"Maaf aku sudah membiarkanmu tau tentang hal ini. Maaf telah membuatmu begini. Tapi sungguh aku tidak apa-apa." Lanjutku. Dia masih terdiam dengan seribu beban yang ada pada matanya. Terlihat jelas dia bimbang. Aku menyerah dengan kebisuannya.
"Baiklah, kurasa aku harus pergi darimu. Aku gak mau kamu begini. Bimbang hanya karna memikirkan perasaanku yang tak berujung. Aku rasa sebaiknya aku pergi selamat tinggal dan terima kasih." Aku membereskan alat-alat gambar yang masih berserakan di depanku. Memasukannya dalam tas kemudia beranjak.
"Jaga diri baik-baik." Ucapku padanya sebelum pergi. Mungkin ini memang akhir dari kisahku. Tak apa, aku ikhlas. Kulihat dia masih mematung sampai aku berbalik, hendak untuk pergi meninggalkannya.
"Aku juga mencintaimu. Andai saja kau lebih cepat dan aku lebih awal mengetahui ini, mungkin tak perlu ada Naomi."
Juli, 2014
Minggu, 29 Juni 2014
My 20th Birthday
Adalah malam yang selalu kulalui sepanjang usia ini, kadang malam hanya malam. Sepi. Sendiri tanpa cahaya bulang. Kadang malam datang dengan cahaya bulan yang elok dan indah.
20 tahun yang lalu, ketika matahari mulai lelah, aku lahir kedunia dengan sejuta doa dan harapan. Entah berapa banyak harapan yang tercurah entah berapa banyak kasih sayang yang kudapat dari mereka.
Bu, Yah.
Kini malaikatmu telah beranjak dewasa. Telah bisa memilih mana yang baik dan yang tidak. Telah dapat menjaga dirinya dari malam yang pekat juga hujan yang turun.
jangan khawatirkan aku lagi Bu, Yah. Terlebih untuk engkau wahai sang ayah aku telah tumbuh menjadi seorang wanita yang banyak disayangi orang lain. Aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang masih mencari apa arti cinta. Tenang lah kau di surga yah. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik baik saja.
Dan ketika malam ini tiba semua terasa spesial untuk ku juga untuk mereka. Aku yakin aku dapat melawan dunia diusiaku yang beranjak dewasa ini. Tak ada yang berubah dariku di usia ini
Aku masih sama seperti yang dulu
mencintai senja
Memuja hujan
Dan mengagumi pelangi
Terima kasih untuk cinta yang selalu tercurah. Terima kasih untuk pengorbanan seorang ayah dan ibu
Terima kasih untuk kasih sayang yangctak pernah berakhir
Doakan aku selalu sehat
doakan aku selalu sukses di kemudian hari
Terima kasih untuk semua. Keluarga, sahabat, teman juga cinta.
Aku mencintai kalian semua
Terima kasih
Bandung, 29 juni 2014
20 tahun yang lalu, ketika matahari mulai lelah, aku lahir kedunia dengan sejuta doa dan harapan. Entah berapa banyak harapan yang tercurah entah berapa banyak kasih sayang yang kudapat dari mereka.
Bu, Yah.
Kini malaikatmu telah beranjak dewasa. Telah bisa memilih mana yang baik dan yang tidak. Telah dapat menjaga dirinya dari malam yang pekat juga hujan yang turun.
jangan khawatirkan aku lagi Bu, Yah. Terlebih untuk engkau wahai sang ayah aku telah tumbuh menjadi seorang wanita yang banyak disayangi orang lain. Aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang masih mencari apa arti cinta. Tenang lah kau di surga yah. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik baik saja.
Dan ketika malam ini tiba semua terasa spesial untuk ku juga untuk mereka. Aku yakin aku dapat melawan dunia diusiaku yang beranjak dewasa ini. Tak ada yang berubah dariku di usia ini
Aku masih sama seperti yang dulu
mencintai senja
Memuja hujan
Dan mengagumi pelangi
Terima kasih untuk cinta yang selalu tercurah. Terima kasih untuk pengorbanan seorang ayah dan ibu
Terima kasih untuk kasih sayang yangctak pernah berakhir
Doakan aku selalu sehat
doakan aku selalu sukses di kemudian hari
Terima kasih untuk semua. Keluarga, sahabat, teman juga cinta.
Aku mencintai kalian semua
Terima kasih
Bandung, 29 juni 2014
Senin, 23 Juni 2014
Cerita di Waktu Senja
Aku berlari ditengah koridor yang legang, sambil sesekali mengeluarkan seutas senyuman yang mengembang di bibir. Di belakangku berlari pula seorang pria dengan ekspresi yang tak jauh beda denganku. Kami berlari, saling mengejar, juga sambil tertawa. Untunglah keadaan fakultas sudah mulai sepi pada jam-jam ini sehingga aku dapat berlari dengan leluasa tanpa khawatir ada orang lain yang kutabrak. Pria yang kini mengejarku adalah kekasihku, kami resmi menjalin hubungan sekitar 3 bulan yang lalu. Aku mencintainya begitupun sebaliknyaa. Hidupku sangat berwarna setelah aku bertemu dengannya.
Akhirnya aku tiba di sebuah balkon di lantai atas fakultas kami, aku berhenti berlari dan memandang langit barat. Ah sinar matahari sore memang paling membuatku tenang. Warna jingga pun sangat lekat memenuhi ufuk barat. Tak lama ia pun ikut berdiri disampingku, memandang langit barat sama sepertiku. Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan seksama, bahagia juga bersyukur. Pria dengan tinggi semampai, berambut pendek namun rambutnya mulai panjang melebihi daun telinga, dengan kacamata menghiasi matanya adalah orang yang kusayangi. Dia terlihat tampan dengan menggunakan kaus putih dan berbalut jaket jeans belel yang sering ia pakai. Dia balik menatapku.
"Aku suka senja," ucapku seraya menatap langit barat.
"Aku tau, dan kamu merasa tenang jika angin sore menyentuh kulitmu." Ucapnya masih menatapku.
"Aku mencintaimu." Lanjutnya.
"Aku tau," jawabku "aku juga mencintaimu…"
"Tapi kau terlalu menyebalkan untuk kucintai." Ucapku kemudian sambil berlari lqgi meninggalkannya. Dia tampak kaget lalu detik berikutnya dia ikut berlari mengejarku. Aku berlari dengan riang. Aku berlari menyusuri koridor kemudia berbelok turun ke arah tangga. Satu per satu anak tangga kuturuni hingga sampailah pada anak tangga terakhir. Bersama dengan itu langkahku terhenti karna tanganku diraih olehnya. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang berhadapan dengan tangga yang kuturuni tadi. Dia merentangkan tangan kanannya disebelah kiriku, membiarkan aku dalam kurungannya. Aku tak bisa minghindar darinya karna disebelah kananku terdapat pintu kaca yang menghubungkan antra koridor dan balkon gedung fakuktasku yang sudah di kunci oleh petugas, didepanku menjulang tubuh tingginya yang sekarang memghadapku. Aku menyandarkan tubuhku lebih erat lagi pada tembok. Dia nampak marah sekarang, matanya berkilat menatap mataku tajam. Aku mengigit bibir. Dia mendekatkan kepalanya hingga sejajar dengan kepalaku.
"Kamu nakal juga ya?" Ucapnya tandas. Kilatan matanya semakin terlihat jelas dan nampak seperti mata elang.
"Tapi walaupun begitu sayangnya aku tetap mencintaimu," suaranya melembut kemudian tersenyum. Dengan sekejap kilatan dimatanya pun sirna entah kemana dan tergantikan oleh tatapan yang menatapku penuh rasa sayang. Aku tersenyum. Kemudian dia mulai menatapku serius. Kepalanya mendekat ke arahku. Aku hanya bisa mematung. Mataku menatapnya tepat di manik mata. Wajah kami perlahan mendekat dan sekarang hanya berjarak 10 cm, dia masih mencoba membunuh jarak yang ada pada wajah kami. Koridor itu sudah mulai gelap, lampu-lampu koridor sudah dimatikan sebagian. Cahaya matahari senja masuk melalui pintu kaca balkon. Aku dapat melihat wajah seriusnya dengan jelas. Perlahan aroma tubuhnya menyeruak masuk melalui hidungku. Tercium aroma maskulin khas pria yang tak asing dihidungku. Parfum khas cowok yang selalu dia gunakan setiap saat. Wajah kami semakin mendekat, perlahan dia menempelkan bibirnya pada bibirku, mengecupnya dengan lembut. Sangat sangat lembut hingga aku dapat merasakan tekstur bibirnya yang menempel pada bibirku. Bibir kami saling bertautan di tengah indahnya langit sore. Ciuman yang hangat. Kami saling merasakan bibir kami satu sama lain. Perlahan aku mulai perpegangan pada jaket jeans belelnya, hanya suara nafasnya yang kudengar dan sentuhan lembut jarinya dileherku yang sesekali mengusap pipiku. Hangat dan nyaman. Perlahan dia melepaskan bibirnya dari bibirku kemudian tersenyum setelah melihat mataku.
"Aku mencintaimu," kemudian dia mengecup keningku sambil memangdangku penuh rasa sayang.
"Pulang yu udah sore," ucapnya lagi. Lalu kemudian mengenggam tanganku erat. Kami berjalan menyusuri koridor dengan hati yang tenang. Dengan perasaan bahagia di hati kami masing-masing. 'Senja yang indah' pikirku. Kami berjalan dengan ringan dan dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Cerita senja memang menarik untuk diarungi, cahayanya yang tak terlalu terik membuat siapapun kagum. Dan senja di sore ini menjadi senja paling indah yang hidup dalam ingatanku. Entah kapan dan bagaimana akhir dari cerita kami. Akankah berakhir bahagia atau mungkin tidak. Tak ada yang tau tentang hal ini.
"Aku juga mencintaimu," ucapku yakin.
-tamat-
Akhirnya aku tiba di sebuah balkon di lantai atas fakultas kami, aku berhenti berlari dan memandang langit barat. Ah sinar matahari sore memang paling membuatku tenang. Warna jingga pun sangat lekat memenuhi ufuk barat. Tak lama ia pun ikut berdiri disampingku, memandang langit barat sama sepertiku. Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan seksama, bahagia juga bersyukur. Pria dengan tinggi semampai, berambut pendek namun rambutnya mulai panjang melebihi daun telinga, dengan kacamata menghiasi matanya adalah orang yang kusayangi. Dia terlihat tampan dengan menggunakan kaus putih dan berbalut jaket jeans belel yang sering ia pakai. Dia balik menatapku.
"Aku suka senja," ucapku seraya menatap langit barat.
"Aku tau, dan kamu merasa tenang jika angin sore menyentuh kulitmu." Ucapnya masih menatapku.
"Aku mencintaimu." Lanjutnya.
"Aku tau," jawabku "aku juga mencintaimu…"
"Tapi kau terlalu menyebalkan untuk kucintai." Ucapku kemudian sambil berlari lqgi meninggalkannya. Dia tampak kaget lalu detik berikutnya dia ikut berlari mengejarku. Aku berlari dengan riang. Aku berlari menyusuri koridor kemudia berbelok turun ke arah tangga. Satu per satu anak tangga kuturuni hingga sampailah pada anak tangga terakhir. Bersama dengan itu langkahku terhenti karna tanganku diraih olehnya. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang berhadapan dengan tangga yang kuturuni tadi. Dia merentangkan tangan kanannya disebelah kiriku, membiarkan aku dalam kurungannya. Aku tak bisa minghindar darinya karna disebelah kananku terdapat pintu kaca yang menghubungkan antra koridor dan balkon gedung fakuktasku yang sudah di kunci oleh petugas, didepanku menjulang tubuh tingginya yang sekarang memghadapku. Aku menyandarkan tubuhku lebih erat lagi pada tembok. Dia nampak marah sekarang, matanya berkilat menatap mataku tajam. Aku mengigit bibir. Dia mendekatkan kepalanya hingga sejajar dengan kepalaku.
"Kamu nakal juga ya?" Ucapnya tandas. Kilatan matanya semakin terlihat jelas dan nampak seperti mata elang.
"Tapi walaupun begitu sayangnya aku tetap mencintaimu," suaranya melembut kemudian tersenyum. Dengan sekejap kilatan dimatanya pun sirna entah kemana dan tergantikan oleh tatapan yang menatapku penuh rasa sayang. Aku tersenyum. Kemudian dia mulai menatapku serius. Kepalanya mendekat ke arahku. Aku hanya bisa mematung. Mataku menatapnya tepat di manik mata. Wajah kami perlahan mendekat dan sekarang hanya berjarak 10 cm, dia masih mencoba membunuh jarak yang ada pada wajah kami. Koridor itu sudah mulai gelap, lampu-lampu koridor sudah dimatikan sebagian. Cahaya matahari senja masuk melalui pintu kaca balkon. Aku dapat melihat wajah seriusnya dengan jelas. Perlahan aroma tubuhnya menyeruak masuk melalui hidungku. Tercium aroma maskulin khas pria yang tak asing dihidungku. Parfum khas cowok yang selalu dia gunakan setiap saat. Wajah kami semakin mendekat, perlahan dia menempelkan bibirnya pada bibirku, mengecupnya dengan lembut. Sangat sangat lembut hingga aku dapat merasakan tekstur bibirnya yang menempel pada bibirku. Bibir kami saling bertautan di tengah indahnya langit sore. Ciuman yang hangat. Kami saling merasakan bibir kami satu sama lain. Perlahan aku mulai perpegangan pada jaket jeans belelnya, hanya suara nafasnya yang kudengar dan sentuhan lembut jarinya dileherku yang sesekali mengusap pipiku. Hangat dan nyaman. Perlahan dia melepaskan bibirnya dari bibirku kemudian tersenyum setelah melihat mataku.
"Aku mencintaimu," kemudian dia mengecup keningku sambil memangdangku penuh rasa sayang.
"Pulang yu udah sore," ucapnya lagi. Lalu kemudian mengenggam tanganku erat. Kami berjalan menyusuri koridor dengan hati yang tenang. Dengan perasaan bahagia di hati kami masing-masing. 'Senja yang indah' pikirku. Kami berjalan dengan ringan dan dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Cerita senja memang menarik untuk diarungi, cahayanya yang tak terlalu terik membuat siapapun kagum. Dan senja di sore ini menjadi senja paling indah yang hidup dalam ingatanku. Entah kapan dan bagaimana akhir dari cerita kami. Akankah berakhir bahagia atau mungkin tidak. Tak ada yang tau tentang hal ini.
"Aku juga mencintaimu," ucapku yakin.
-tamat-
all about situation
Terlalu berkecamuk
Terlalu sesak dan terlalu menyakitkan
Aku terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku terlalu naif untuk percaya pada kata katamu
Dan aku terlalu bocah untuk percaya pada semua yang kau ucapkan.
Aku malu pada bulan yang menemaniku setiap malam, mengetahui apa yang aku lakukan
kadang dia ikut tersenyum melihat tingkahku
kadang dia terdiam seperti tau akan sesuatu. Aku tak menyalahkanmu atas semua yang kau lakukan, salahku juga mengapa aku terlalu naif padamu.
Aku terlalu egois untuk menghiraukanmu
Terlalu egois untuk melepaskanmu pada kekasihmu, terlalu egois untuk menyia nyiakanmu saat kau hadir
Tapi bukankah kau sudah tau akan perasaanku?
Lantas mengapa kau sengaja datang padaku dan menggodaku? Bukankah itu tak baik?
Seberapa kuat aku melupakanmu nyatanya aku selalu luluh olehmu
Bahkan aku selalu lupa dengan perasaan yang kuberikan terhadap orang lain. Kadang aku berfikir mungkinkah kau mempunyai perasaan yang sama senganku?
Tapi itu mustahil, kau sudah bersama dengan yang lai tak mungkin kau ingin bersamaku. Lantas mengapa kau begitu?
Jujur aku terlalu takug untuk kehilanganmu. Rasa sukaku terhadapmu yang perlahan gugur kini mulai tumbuh seiring kau yang selalu hadir dalam mimpiku, dalam bayanganku dan dalam imaji imajiku.
Aku terlalu lemah untuk menolak, terlalu takut untuk kehilangan dan terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku mencintaimu. Iya sudah kukatakan sejak dulu, kau juga tau akan hal itu.
Lantas sekarang bagaimana? Haruskah kuikuti ego ku? Atau harus kuikuti perasaanku?
Aku tak tahu. Terlalu rumit untuk kujalani
Terlalu sesak dan terlalu menyakitkan
Aku terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku terlalu naif untuk percaya pada kata katamu
Dan aku terlalu bocah untuk percaya pada semua yang kau ucapkan.
Aku malu pada bulan yang menemaniku setiap malam, mengetahui apa yang aku lakukan
kadang dia ikut tersenyum melihat tingkahku
kadang dia terdiam seperti tau akan sesuatu. Aku tak menyalahkanmu atas semua yang kau lakukan, salahku juga mengapa aku terlalu naif padamu.
Aku terlalu egois untuk menghiraukanmu
Terlalu egois untuk melepaskanmu pada kekasihmu, terlalu egois untuk menyia nyiakanmu saat kau hadir
Tapi bukankah kau sudah tau akan perasaanku?
Lantas mengapa kau sengaja datang padaku dan menggodaku? Bukankah itu tak baik?
Seberapa kuat aku melupakanmu nyatanya aku selalu luluh olehmu
Bahkan aku selalu lupa dengan perasaan yang kuberikan terhadap orang lain. Kadang aku berfikir mungkinkah kau mempunyai perasaan yang sama senganku?
Tapi itu mustahil, kau sudah bersama dengan yang lai tak mungkin kau ingin bersamaku. Lantas mengapa kau begitu?
Jujur aku terlalu takug untuk kehilanganmu. Rasa sukaku terhadapmu yang perlahan gugur kini mulai tumbuh seiring kau yang selalu hadir dalam mimpiku, dalam bayanganku dan dalam imaji imajiku.
Aku terlalu lemah untuk menolak, terlalu takut untuk kehilangan dan terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku mencintaimu. Iya sudah kukatakan sejak dulu, kau juga tau akan hal itu.
Lantas sekarang bagaimana? Haruskah kuikuti ego ku? Atau harus kuikuti perasaanku?
Aku tak tahu. Terlalu rumit untuk kujalani
Rabu, 23 April 2014
Rintik Hujan
Ini yang aku takutkan sejak awal, jatuh cinta pada orang orang yang ada di sekitarku. Aku tak tau sejak kapan perasaan ini muncul, sejak kapan rasa ini hadir dalam jiwaku hingga menyatu dengan darahku.
Entah sejak kapan pula aku rela menunggunya hingga perkuliahannya usai walau aku tau dia tak menyadarinya akan hal itu, aku bersedia pulang larut malam hanya untuk menunggunya hingga dia selesai latihan. Semua kulakukan hanya untuk melihat dan bersamanya lebih lama, tak masalah jika kita tak saling bicara minimal mata kami bertemu dalam waktu sepersekian detik dan bertukar senyum. Aku punya banyak waktu untuk menunggu. Salah! justru waktuku hampir habis. Cepat atau lambat aku akan melihatnya berjalan bersama wanita lain, akan ada wanita lain yang menggenggam tangannya dengan erat dan tertawa ria dengannya, cepat atau lambat dia akan menemukan pricesnya yang tentu saja lebih baik dari aku. Lantas bagaimana dengan aku? Aku akan terpuruk dalam penyesalan, meratapi nasib dan mulai berdamai dengan ego. Walau aku tau perang antara hati dan ego sulit dimenangkan. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui siapa pemenangnya. Sore itu, aku masih menatap rintik hujan dari balik jendela. 'ah mengapa aku berfikir demikian?' gumamku dalam hati.
Agar kau menyiapkan hatimu jika sesuatu yang buruk terjadi.
Aku tersentak mendengar jawaban hati kecilku. Perlahan mataku mulai basah oleh air mata yang akan segera keluar. Cepat cepat aku menghapusnya begitu air mataku turun. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan ke arahku lalu berdiri tepat di sampingku.
"Sedang apa?" tanyanya seraya menatapku.
"Melihat rintik hujan" ujarku datar. Kutatap dia yang kemudian menatap hujan sama sepertiku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, yang terdengar adalah suara rintik hujan yang sejak tadi bersahabat dengan telingaku. Aku kembali pada lamunanku tentangnya. Tentang dia yang kini ada di sampingku.
Bandung, 2014
Entah sejak kapan pula aku rela menunggunya hingga perkuliahannya usai walau aku tau dia tak menyadarinya akan hal itu, aku bersedia pulang larut malam hanya untuk menunggunya hingga dia selesai latihan. Semua kulakukan hanya untuk melihat dan bersamanya lebih lama, tak masalah jika kita tak saling bicara minimal mata kami bertemu dalam waktu sepersekian detik dan bertukar senyum. Aku punya banyak waktu untuk menunggu. Salah! justru waktuku hampir habis. Cepat atau lambat aku akan melihatnya berjalan bersama wanita lain, akan ada wanita lain yang menggenggam tangannya dengan erat dan tertawa ria dengannya, cepat atau lambat dia akan menemukan pricesnya yang tentu saja lebih baik dari aku. Lantas bagaimana dengan aku? Aku akan terpuruk dalam penyesalan, meratapi nasib dan mulai berdamai dengan ego. Walau aku tau perang antara hati dan ego sulit dimenangkan. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui siapa pemenangnya. Sore itu, aku masih menatap rintik hujan dari balik jendela. 'ah mengapa aku berfikir demikian?' gumamku dalam hati.
Agar kau menyiapkan hatimu jika sesuatu yang buruk terjadi.
Aku tersentak mendengar jawaban hati kecilku. Perlahan mataku mulai basah oleh air mata yang akan segera keluar. Cepat cepat aku menghapusnya begitu air mataku turun. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan ke arahku lalu berdiri tepat di sampingku.
"Sedang apa?" tanyanya seraya menatapku.
"Melihat rintik hujan" ujarku datar. Kutatap dia yang kemudian menatap hujan sama sepertiku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, yang terdengar adalah suara rintik hujan yang sejak tadi bersahabat dengan telingaku. Aku kembali pada lamunanku tentangnya. Tentang dia yang kini ada di sampingku.
Bandung, 2014
Selasa, 22 April 2014
Selamat Malam
Selamat malam sayang
Bolehkah aku memikirkanmu saat ini kemudian memasukanmu pada mimpi ku?
Kau akan berlari kesana kemari di tengah pantai yang luas dan ditemani oleh seorang wanita yang setia menunggumu dengan sabar yang tak lain adalah aku
Aku dan kamu akan mengarungi mimpi dengan bahagia dan penuh cinta
Kau akan kubiarkan hidup dalam kebahagiaan dan kasih sayang.
Sayang, jangan kau pergi dari mimpiku karna kau tak akan menemukan tempat terbaik selain dalam mimpiku.
Sayang, maukah kau menemaniku dalam mimpi, memadu kasih dan bercumbu cinta denganku? Kau akan menggenggam erat tanganku dan membisikan kata cinta di setiap waktunya dengan mesra, dengan senyum, juga dengan waktu yang tak kunjung usai. Kita akan terus bersama hingga kita lupa bagaimana caranya berpisah dan tetap berada dalam mimpi hingga kita enggan untuk terbangun
Bolehkah aku memikirkanmu saat ini kemudian memasukanmu pada mimpi ku?
Kau akan berlari kesana kemari di tengah pantai yang luas dan ditemani oleh seorang wanita yang setia menunggumu dengan sabar yang tak lain adalah aku
Aku dan kamu akan mengarungi mimpi dengan bahagia dan penuh cinta
Kau akan kubiarkan hidup dalam kebahagiaan dan kasih sayang.
Sayang, jangan kau pergi dari mimpiku karna kau tak akan menemukan tempat terbaik selain dalam mimpiku.
Sayang, maukah kau menemaniku dalam mimpi, memadu kasih dan bercumbu cinta denganku? Kau akan menggenggam erat tanganku dan membisikan kata cinta di setiap waktunya dengan mesra, dengan senyum, juga dengan waktu yang tak kunjung usai. Kita akan terus bersama hingga kita lupa bagaimana caranya berpisah dan tetap berada dalam mimpi hingga kita enggan untuk terbangun
Langganan:
Postingan (Atom)
"Simple Thing Called Love" by Anna Triana
Judul : Simple Thing Called Love Penulis : Anna Triana Penerbit : Elex Media Komputindo ISBN : 978 - 602 - 0...
-
Pernah denger salah satu lagu Efek Rumah Kaca dengan judul Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa? Yap, lagu yang berada dalam album Kamar Gelap d...
-
Karya: Edwar Maulana Jika kau percaya bahwa segala yang ada itulah yang kelak tak ada dan mesti diabaikan. Maka saat ini ketika kau da...