JNGGA

Jumat, 27 April 2018

“Putih”: Dua Fase yang Dialami Manusia dan Pasti Akan Terjadi


 Baiklah, kali ini saya datang kembali membawa review tentang satu lagu yang ada dalam playlist ponsel. Lagu ini berjudul Putih yang dinyanyikan oleh grup band indie asal kota Jakarta, Efek Rumah Kaca.

Lagu Putih berada pada album ketiga yang diberi nama Sinestesia dan rilis sekitar tahun 2015. Lagu ini berdurasi selama 9 menit 46 detik dengan memiliki dua sub judul yaitu Tiada (untuk Adi Amir Zainun) dan Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan).

Untuk kalian yang masih bingung dengan lagu ini mengapa memiliki dua judul, saya akan terangkan sedikit. Album Sinestesia ini merupakan album yang sedikit berbeda dengan album-album sebelumnya, dimana pada album ini hanya memiliki enam lagu saja dengan judul Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih dan Kuning. Dan pada setiap judul lagu, memiliki sub-judul dua sampai tiga sub. Untuk itu, durasi pada setiap lagu di album ini terasa panjang dan mungkin menimbulkan kebosanan. Namun saya pribadi sangat menikmati dengan hal itu, sama sekali tidak menimbulkan kebosanan karena dalam setiap judul, memiliki tema yang berbeda, seperti hal nya yang terjadi pada lagu Kuning. Tema yang dihadirkan oleh lagu ini adalah keberagamaan, dan setiap sub judulnya pun membahas tentang agama dan kebebasan dalam memeluk setiap agama yang dianutnya. Begitu pun yang terjadi pada lagu Putih. Mengambil tema kehidupan dan kematian, lagu ini terasa sangat epik dan luar biasa.

Baik, saya akan mulai mencoba mereviewnya…
Dimulai dari lagu yang berjudul Tiada, begini liriknya:

Tiada (untuk Adi Amir Zainun)

Lirik        : Adrian dan Cholil
Lagu       : Adrian dan Cholil

Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirine berlarian sahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju Tuhan
Akhirnya aku usai juga

Saat berkunjung ke rumah
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini lengkap sudah

Dan kematian keniscayaan
Dipersimpangan atau kerongkongan
Tiba-tiba datang atau dinantikan
Dan kematian kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan
Tanpa kematian….

Kabarnya, lagu ini ditulis untuk mengenang salah satu teman dekat para personel Efek Rumah Kaca yang bernama Adi Amir Zainun. Dan katanya, sosok Adi ini meninggal pada saat proses pembuatan lagu ini.

Baiklah, sekarang coba kita lihat bait demi bait.
Sangat jelas jika lagu itu menceritakan tentang kematian. Tidak ada yang menarik? Baik, saya jelaskan. Jika pada umumnya lagu yang menceritakan kematian dilihat dari sudut pandang kita yang masih hidup, lagu ini mencoba keluar dari “zona nyaman” nya, dimana Cholil dan Adrian selaku pencipta lagunya, membalikkan sudut pandang tersebut. mereka mencoba membuat lagu tentang kematian dilihat dari orang yang mengalami kematian itu sendiri. Hal ini bisa dilihat pada bait pertama dan kedua, dimana diceritakan jika si Aku mengalami kematian dan dia melihat tubuhnya yang telah terbujur kaku terbaring di dalam mobil ambulan. Bukan hanya itu, si Aku pun mendengar suara sirine dimana ini merupakan ciri khas ambulan dan kematian juga mendengar orang-orang membicarakan tentang pemakaman, menbicarakan rencana untuk menguburkan si Aku ini. Dan seketika si Aku sadar jika dirinya telah meninggal, jika dirinya telah mengalami takdir yang paling pasti untuk setiap makhluk yang bernyawa. Si Aku pun merasa tegang ketika akan membuka jalan menuju Tuhan, ketika dia akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan semasa hidupnya.

Tidak hanya itu, diceritkan pula bagaimana si Aku mendengar suara tahlilan dan aroma masakan kesukaan ketika dia sampai di rumah nya. Tentu saja si Aku datang sebagai roh. Bagaimana si Aku bisa tersedu mendengar puluhan orang memanjatkan doa untuk dirinya yang sudah tiada, bagaimana dia tersedu-sedan menghadapi giliran untuk menghadap sang khalik dengan diantar oleh doa-doa dari keluarga dan kerabat dekat.

Pada bait terakhir, Cholil dan Adrian mencoba menceritakan atau memberi pesan untuk semua manusia yang masih hidup, bagaimana cara kematian datang.

Dan kematian keniscayaan
Dipersimpangan atau kerongkongan
Tiba-tiba datang atau dinantikan


Pada penggalan bait di atas, Cholil dan Adrian mencoba menjelaskan jika kematian bisa saja datang secara tiba-tiba atau dinantikan. Dalam hal ini, banyak terjadi kasus atau kejadian ketika manusia yang berumur masih muda harus mati karena kecelakaan. Tanpa melalui proses sakit atau apapun. Tiba-tiba meninggal padahal pagi hari atau sebelumnya terlihat sehat dan ceria. Juga bagaimana kematian menghampiri seseorang yang sudah berumur dengan melewati sakit yang cukup lama. Pada intinya, tidak ada yang tau kapan datangnya kematian kecuali sang Khalik, bisa secara tiba-tiba atau dinantikan, bisa tanpa persiapan atau pun sudah dipersiapkan.

Dan kematian kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan

Pada lirik ini pn, Cholil dan Adrian mencoba menjelaskan makna dari kematian itu sendiri. Mereka mencoba memberitaukan bahwa kehidupan ini tidak pernah abadi, dunia ini hanya sementara dan persinggahan yang mana kita akan memasuki kehidupan yang abadi dan kekal yaitu setelah kematian. Kita tidak akan pernah mati jika kita tidak hidup, begitu pun sebaliknya, kita tidak akan pernah hidup jika tidak mati. Kematian merupakan awal dari kehidupan yang kekal, kematian merupakan kesempurnaan yang dialami manusia. Kematian hanyalah perpindahan untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya yang lebih baik dan lebih kekal. Jika kita tidak mati, maka hidup kita tidak akan pernah mempunyai makna, tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya hidup kekal dalam surga nya Allah karena bagaimana pun tujuan manusia untuk hidup adalah Surga, dan jika kita ingin tinggal di Surga, kita harus menghadapi kematian. Untuk itulah kenapa kematian disebut sebagai perpindahan, awal kekekalan dan tanda kita untuk memulai kehidupan.

Pada lagu kedua yang berjudul Ada merupakan kebalikan dari lagu Tiada, dimana lagu ini menceritakan tentang kelahiran atau proses kelahiran seorang manusia. Bagini liriknya:

Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan

Lirik        : Cholil
Lagu       : Adrian, Akbar dan Cholil

Lalu pecah tangis bayi
Seperti kata Wiji
Disebar biji-biji
Disemai menjadi api

Selamat datang di samudra
Ombak-ombak menerpa
Rekah, rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagiaan
Air mata bercucuran

Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Takkan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

Kabarnya lagu ini ditulis saat Cholil dan Adrian baru saja memiliki putra dan putri pertamanya yang bernama Angan Senja dan Rintik Rindu. Dimana, Angan Senja merupakan nama dari seorang anak Cholil dan Rintik Rindu adalah nama seorang anak dari Adrian.

Jika saya lihat dan cermati, lagu ini menceritakan tentang proses kalahiran seorang manusia. Bagaimana rasanya ketika kelairan seseorang terlihat begitu dinantikan. Seketika diri kita akan terharu saat satu makhluk bernyawa dapat melihat dumia.

Hal itu terlihat dalam bait pertama…

Selamat datang di samudra
Ombak-ombak menerpa
Rekah, rekah dan berkahlah

Bait diatas menceritkan bagaimana seorang bayi lahir, untuk pertama kalinya melihat dunia dan datang ke dunia yang begitu luas. Dan ketika seorang bayi hadir, berbagai doa dan harapan pun terlontar, mengharapkan kebahagiaan untuk kehidupan sang bayi kelak, mengharapkan keberkahan untuk hidup nya di dunia. Dan setelahnya akan tiba saat nya rasa haru itu hadir, akan tiba saatnya untuk para orang tua berbahagia menyambut bayi yang selama ini dinantikan denga rasa haru juga air mata bahagia yang bercucuran.

Untuk bait selanjutnya, saya kira itu menceritakan tentang ketakutan setiap orang tua ketika mulai mengasuh atau mendidik sang anak, menjaga dan menghidupi sang anak dalam segala hal. bagaimana ketakutan orang tua dalam mendidik sang anak agar menjadi anak yang soleh, rajin, berbakti dan berguna bagi nusa dan bangsa. Dan bagaimana juga para orang tua mengajarkan hal yang tidak bisa diterima oleh nalar manusia, seperti yang ada dalam  bait ini.

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan


Saya rasa maksud dari bait itu adalah, masa dimana ketika sang anak tumbuh, akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab dan diterima oleh nalar dan akal pikiran. Untuk hal ini saya rasa, apa yang dimaksud adalah tentang keberagaaan atau hal-hal yang berkaitan dengan terbentuknya manusia, larangan dan aturan yang harus dipatuhi setiap umat manusia agar bisa meraih surga nya Allah. Disini peran orang tua sangat penting, mendidik anak dengan ajaran dan aturan agama agar sang anak menjadi anak yang selalu berada di jalan yang diridhoi Allah, atau lebih singkatnya, agar sang anak bisa mengimani rukun iman.

Kesimpulan dari lagu PUTIH menurut saya adalah, lagu ini memiliki ciri khas dan kekuatan yang berbeda dengan lagu lainnya. Bagaiman Efek Rumah Kaca mampu mengemas lagu dengan diksi yang sederhana namun memiliki makna yang dalam. Lagu ini memang bukan termasuk kategori lagu religi, tapi makna yang terkandung di dalamnya lebih dalam dari lagu-lagu religi yang pernah saya dengar.

Bagaimana cara kita mengimani kematian, mengimani kehidupan yang hanya sebuah persinggahan, dsb. Dan bagi saya pun, kedua lagu ini memiliki hubungan yang sangat erat kaitannya. Dimana ada kematian, disitulah ada kehidupan, begitupun sebaliknya. Kematian tidak akan terjadi jika tidak ada kehidupan, dan kehidupan tidak akan pernah terjadi jika tidak ada kematian. Banyak orang yang berpikir jika kematian adalah akhir dari segala nya, padahal pada kenyataannya, kematian adalah awal dari kehidupan yang kekal dan abadi. Kenapa kedua lagu ini ditempatkan pada satu tema? Jawabannya adalah, karena kematian dan kehidupan merupakan hal yang saling berkaitan, layaknya siang dan malam, pagi dan sore, kematian dan kehidupan pun merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dan kenapa lagu ini dimasukan ke dalam lagu dengan judul PUTIH? Simpelnya, putih adalah lambing dari kesucian, kematian dan kelahiran adalah hal yang suci, kita lahir dalam keadaan suci, putih bersih, dan kita pun mati memakai kain putih yang bersih dan suci. Tapi ya itu hanya pendapat dan terkaan saya pribadi terhadap lagu yang saya dengar, selebihnya mari kita kembalikan ke[ada pemilik dan pencipta lagu tersebut.

Sekian hal-hal yang bisa saya review untuk lagu PUTIH, semoga bisa diterima dengan baik oleh para pembaca. Mohon maaf untuk segala kekurangan saya dalam mereview lagu ini, dan terima kasih untuk orang yang sudah mau membacanya.

Salam,
Tina Wiarsih

Minggu, 08 April 2018

Trip to Jogja: Sebuah Perjalanan yang Sarat Makna (Part 1)



Oke, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya pergi ke kota gudeg, Yogyakarta seorang diri. Oke.. oke, sebenarnya tidak sepenuhnya sendiri, ketika sampai kota tujuan, saya ditemani oleh beberapa teman yang memang berjanji untuk bertemu disana.
            Dimulai dengan perencanaan bersama ketiga teman, kami berencana untuk pergi berlibur ke kota Jogja pada tanggal 15-18 Maret 2018 dari tempat yang berbeda. Saya yang berangkat dari Bandung dan mereka yang berangkat dari Banten dan Jakarta. Kebetulan, satu teman kami sudah berada di Jogja sejak lama karena dia sedang melanjutkan kuliahnya di UII Jogja jurusan Psikologi (mantep nggak tuh?!).
            Singkat cerita, saya berangkat dari Bandung pukul 05.35 menggunakan kereta ekonomi Pasundan dari stasiun Kiaracondong dengan harga tiket 94.000 (seklain promosi). Saya bersiap pukul 04.00 pagi dan mulai memesan Grabbike untuk mengantarkan ke stasiun tujuan. Berbekal doa, saya pamit pergi kepada kakak agar dilancarkan dan diberikan keselamatan sampai tujuan.
Ada rasa takut juga resah mengingat ini merupakan pengalaman pertama saya bepergian jauh seorang diri. Bagaimana tidak, biasanya tempat terjauh yang saya lalui adalah Garut, itu pun pergi berdua bersama teman. Pernah saya bepergian ke Tasikmalaya, dan itu pun bersama teman kampus dalam acara study tour, sama sekali bukan untuk berlibur apalagi traveling.
Pengalaman berangkat ke Jogja seorang diri untuk berlibur baru benar-benar saya alami kali ini. Berbagai pikiran buruk selama perjalanan masih terus menghantui saya. Percaya atau tidak, saya tidak berani memposting bukti tiket kereta di instastory karena salah satu teman saya ada yang indigo, dan saya takut dia mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti maksudnya, sehingga membuat diri ini resah dan tidak yakin untuk pergi. Jika hal itu terjadi, biasanya saya akan membatalkan keberangkatan secara mendadak.  Namun, Alhamdulillah, Tuhan merestui kepergian saya ke kota Gudeg dengan melancarkan segala urusannya.
            Singkat cerita, ketika sampai di stasiun Kiacaracondong, saya duduk di gerbong satu, kelas ekonomi nomor 5E. Kala itu, kursi yang saya duduki kosong, tidak ada penumpang lain selain saya, dan tentu saja saya memilih kursi yang paling dekat dengan jendela. Karena selain mudah untuk men charge handphone, saya juga lebih leluasa melihat pemandangan yang menakjubkan di luar sana. Berbekal taro, pop mie dan juga air panas yang saya masukan ke dalam termos kecil, diri ini mulai duduk dengan tenang. mengabari kakak dan beberapa teman untuk memberitaukan jika saya sudah sampai di stasiun dan siap berangkat.
Dan tidak butuh waktu lebih lama lagi, kereta perlahan berangkat meninggalkan stasiun Kiaracondong. Saya pun mulai mengambil ear phone, memasangkannya di handphone dan telinga. Saya memilih beberapa lagu yang terdengar enak untuk didengarkan pagi hari.
            Pilihan saya jatuh pada lagu Merah milik Efek Rumah Kaca yang menjadi lagu pembuka dalam trip pertama saya keluar provinsi. Ketiadaan matahari membuat saya tidak bisa menikmati pemandangan yang hadir di depan mata. Saat itu hanya terlihat langit yang membiru dan pohon-pohon yang masih berwarna hitam seperti sebuah siluet.

pemandangan stasiun Kiaracondong pukul 05.30

            Ya kira-kira seperti itulah pemandangan yang saya lihat ketika akan berangkat kesana. Selama beberapa menit saya tenggelam dengan pikiran-pikiran yang berada di kepala. Kali ini, ditemani lagu Mengejar Matahari milik Ari Lasho, saya melihat pemandangan perumahan kumuh, dengan rumah yang berdempet juga tempat yang tidak luas. Saya berpikir, bagaimana bisa mereka hidup tenang seperti seharusnya jika setiap harinya bahkan setiap menit mereka harus mendengar suara gemuruh kereta api? Belum lagi hiruk pikuk lalu lintas dengan berbagai aktivitas yang membuat saya bergidik. Belum apa-apa kemacetan sudah hampir terlihat, hiruk pikuk orang-orang yang akan pergi sekolah juga para orang dewasa yang hendak pergi bekerja. Dan yang lebih menyesakkan bagi saya adalah, ketika semua manusia yang saya lihat menggunakan motor! Pantas saja saat ini kota Bandung didaulat sebagai kota paling macet kedua setelah Jakarta. Tidak cukup sampai disitu, asap knalpot kendaraan pribadi juga angkutan umum memenuhi udara pagi yang seharusnya terlihat segar.
            Tidak ingin melihat pemandangan yang lebih menyesakkan, saya pun memejamkan mata, menikmati lagu Tarintih milik Barasuara membuat saya tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti tadi. Untuk sebuah perjalana cukup panjang, handphone dan earphone adalah dua benda penting yang harus saya bawa, karena saya tidak terlalu suka berbicara saat sedang dalam perjalanan. Saya lebih suka mendengarkan musik dan mengamati pemandangan yang saya lihat diluar jendela. Karena bagi saya, hal itu bisa membangkitkan imajinasi-imajinasi saya yang akhirnya dirangkai dalam sebuah inspirasi dan dituangkan kedalam sebuah tulisan, seperti yang sedang saya lakukan saat ini.
            Oke, next! Singkatnya, setelah disuguhi oleh pemandangan tempat-tempat kumuh, saya mulai membelalakan mata dan merasa bahagia. Bagaimana tidak, ketika apa yang ingin kamu lihat, sekarang terpampang jelas di depan mata. Ya pemandangan indah yang menakjubkan. Saat itu, saya telah memasuki kawasan Garut dan matahari sudah mulai menyinari bumi. Cahayanya yang perlahan menembus melewati pepohonan dan gunung yang berdiri tegak membuat saya kagum. Belum lagi saat itu pemandangan rombongan burung-burung yang terbang bebas membuat saya semakin melebarkan bibir untuk tersenyum. Tidak bisa saya lukiskan keindahannya, dan saya pun tidak sempat mengabadikan momen tersebut melalui kamera handphone karena saya tidak mau menyia-nyiakan pemandangan yang sangat indah –yang tertangkap oleh mata- dengan berkutat pada benda pipih berukuran 10x5 bernama gadget.
            Lagu-lagu milik Efek Rumah Kaca, Tigapagi, Barasuara, Sore dan yang lainnya berputar silih berganti, seiring dengan hadirnya pemandangan indah yang bisa saya nikmati. Mata saya begitu termanjakan ketika melihat sebuah pemandangan dengan objek utama gunung yang berwarna keemasan karena tersinari cahaya matahari. Jujur saja, belum pernah saya menikmati matahari pagi dengan pemandangan indah di kota orang, terlebih saat saya menikmatinya sendirian. Sudah lama juga saya tidak menikmati mentari pagi yang perlahan menyinari bumi dengan suara cicitan burung sebagai pengantarnya.
Terakhir saya merasakan hal itu adalah ketika saya berumur lima tahun, di sekitar rumah ditemani Alm. Ayah. Pernah juga beberapa kali saya menikmati mentari pagi dengan udara yang masih terasa segar sendirian di depan rumah dengan duduk di atas sepeda ketika berumur lima tahun, beberapa saat setelah ayah pergi bekerja. Dan itu menjadi momen yang tidak terlupakan dimana polusi udara masih minim, juga perumahan yang ada belum bertingkat tinggi. Saat itu langit berwarna biru dengan guratan awan yang cerah disinari mentari pagi. Dan setelahnya saya akan mendatangi rumah teman untuk bermain sepeda sampai pukul 10.00 sebelum akhirnya mandi dan bermain di salah satu rumah teman. Saya merasa sedih, hampir saja air mata ini menetes mengingat, jaman sekarang, jarang sekali bisa menikmati udara pagi yang masih segar dan pemandangan alam yang begitu indah. Butuh kesadaran yang begitu tinggi untuk menyadarkan orang-orang agar bisa menjaga alam dengan baik, agar menjaga apa yang ada untuk tetap ada, apa yang indah untuk tetap indah.
Dan sekali lagi saya takjub dan ingin menangis saat melihat sebuah gunung berdiri tegak menantangan. Di depan gunung itu terdapat hamparan rumput hijau yang begitu menyejukkan, masih disinari cahaya mentari berwarna keemasan. Saya pun kembali takjub atas salah satu karya Tuhan yang begitu memukau. Rasanya mata ini begitu bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat hal-hal indah yang diberikan Tuhan, rasanya mata ini begitu bersyukur masih diberi kesempata untuk menikmati karya Tuhan yang begitu luar biasa.

pemandangan alam daerah Garut, Jawa Barat

Setelah itu, saat kereta maju beberapa meter, pemandangan selanjutnya membuat saya kembali takjub. Bahkan saya berpendapat jika pemandangan ini adalah pemandangan yang paling indah yang saya temui. Dengan objek yang sama, sebuah gunung yang berdiri tegak juga disinari mentari, kali ini hamparan yang ada bukanlah rumput, melainkan seperti sebuah ladang jagung yang sudah memerah, sebenarnya saya tidak begitu yakin itu ladang jagung yang memerah atau padi yang menguning, yang jelas pemandangan yang dihadirkan begitu indah dan tidak terlupakan.

pemandangan di daerah Garut, Jawa Barat

Ditemani lagu Menjadi Indonesia milik Efek Rumah Kaca, saya menikmati Mahakarya Tuhan karena telah menciptakan segala sesuatunya dengan penuh perhitungan, antara keindahan juga makna yang terkandung didalamnya. Semuanya sudah Tuhan rencanakan sejak awal, sudah Tuhan perhitungkan baik dan buruknya. Dan saya tidak henti-hentinya untuk bersyukur sebagai bangsa Indonesia terlebih orang Sunda (masyarakat Jawa Barat) karena semua pemandangan indah yang disuguhkan berada di kawasan Jawa Barat. Untuk sekian kalinya saya tertegun oleh Mahakarya-Nya. Saya mulai berpikir, selama ini, manusia terlalu sombong dengan apa yang dia miliki, si A bisa melukis indah, si B jago berhitung fisika, si C jago dalam perhitungan kimia dan matematika, tapi kita tidak pernah sedikitpun merasa jika ada yang mempunyai kemampuan “lebih” selain dirinya, ada yang “lebih” baik dalam segala al selain dirinya. jangankan untuk merasa kecil, berterima kasih kepada Tuhan sang Maha Pencipta pun sepertinya tidak. Padahal berterima kasih kepada Tuhan bukanlah hal berat untuk dilakukan.
Hal ini saya alami ketika membaca salah satu novel fiksi, dimana karakter tokohnya sangat bagus dan membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Bukan hanya itu, saya juga memujinya berkali-kali atas karakter yang dia miliki. Tapi pernahkah kita sedikitpun berterima kasih kepada pengarang novel tersebut karena telah menciptakan cerita juga karakter yang begitu epik dan mengagumkan? Biar saya tebak, jawabannya adalah jarang, bahkan hampir tidak pernah. Padahal jika kita ingin memuji, justru pengarangnya lah yang paling pantas kita puji. Kenapa? Karena dia yang menciptakan segalanya, dia yang memperhitungkan karakter juga jalan cerita sebuah karya fiksi sampai akhirnya bisa diterima di masyarakat. Tanpa pengarang, tokoh tersebut tidak akan menarik dimata pembaca bahkan mungkin tidak pernah ada.
Begitu juga yang terjadi kepada manusia, pernahkan kita mengucapkan terima kasih kepada Tuhan untuk semua hal yang dia ciptakan, untuk hal-hal kecil yang Dia ciptakan? Mungkin jawabannya sama, jarang dan hampir tidak pernah. Selama ini kita sering bersyukur atas apa yang terjadi dan berhubungan dengan kita, semisal, ketika kita mendapat pekerjaan bagus atau gaji yang cukup untuk hidup satu bulan, atau ketika kita ingin sesuatu dan dengan mudah Tuhan mengabulkannya, kita pasti berterima kasih akan hal itu. Namun pernahkah kita berterima kasih untuk hal-hal sepele seperti, kemampuan yang kita miliki? Misalnya jika kamu jago melukis, pernahkah kita berterima kasih pada-Nya karena Dia telah memberikan kemampuan itu untuk kita? Atau ketika kita diberikan kelebihan jago dalam hal fisika, kimia atau matematika, pernahkah kita bersyukur pada Tuhan karena Dia telah memberikan kemampuan itu pada kita? Mungkin jawabannya jarang atau bahkan hampir tidak pernah. Padahal jika kita pikirkan, kita sebagai manusia hanya akan menjadi seonggok daging yang tidak berguna jika Tuhan tidak memberikan kemampuan kepada kita sedikitpun, mungkin kita tidak akan pernah dilihat bahkan mungkin tidak akan pernah ada di dunia ini.
Dan saya harus kembali menahan air mata untuk tidak jatuh (emang dasanya saya baperan fufu) saat kereta berhenti di stasiun Cibatu, Garut. Saat itu, datanglah seorang bapak-bapak dengan sekotak kardus juga tas selempang di tubuhnya. Dia duduk tepat di depan saya. Kami sempat saling senyum dan bertanya. Kebetulan saat itu saya sedang membuat pop mie karena merasa lapar. Setelah sempat saling senyum, saya dan si Bapak sempat berbicara sebentar. Dia sempat bertanya tujuan saya begitupun sebaliknya. Lewat obrolan itulah saya tau, tujuan si Bapak adalah Surabaya, untuk bekerja (saya lupa si bapak pergi ke Surabaya untuk bekerja atau berjualan, yang jelas bukan untuk berlibur).
Kembali hati ini teriris mengingat pertanyaan sebelumnya yang di lontarkan si Bapak. Kala beliau bertanya hendak kemana dan tujuan saya pergi. Saya menjawab seadanya bahwa tujuan saya ke Jogja untuk berlibur. Disitulah diri ini merasa tertampar, ketika saya hanya bisa pergi ke luar provinsi untuk berlibur, di belahan dunia (okey ini lebay) lain seseorang hendak pergi ke luar provinsi untuk bekerja, mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Jika saja saya tidak malu, mungkin saat itu saya sudah menangis mengingat Alm. Ayah saya yang mungkin akan melakukan hal yang sama. Bekerja apapun dan kemanapun asalkan anak dan istrinya bisa bahagia, bisa makan dan segala hidupnya tercukupi.
Dan saya semakin sedih saat beberapa lama, si bapak mulai mengeluarkan nasi bungkus untuk sarapannya. Saya perhatikan secara diam-diam (emang dasarnya aku kepo), si bapak makan dengan nasi dan ayam. Pikiran saya mulai berkeliaran memikirkan hal yang mungkin fiksi (emang aku tukang ngayal!) seperti ini, dengan penuh cinta dan keringat si istri menyiapkan bekal untuk si bapak, disiapkannya baju kaus lusuh dengan celana panjang juga topi untuk menghalau si bapak dari sinar matahari yang terik. Tidak hanya itu, si istri juga menyiapkan perbekalan untuk dibawa ke Surabaya. Dengan penuh hormat dan santun, si istri mencium tangan sang bapak yang hendak pergi mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.
Oh Tuhan, begitu besar dan berat peran seorang ayah untuk anak dan istrinya. Mungkin hal ini juga yang pernah dialami oleh Alm. Ayah saya untuk keluarganya. Bekerja banting tulang siang dan malam asalkan kebutuhan keluarganya terpenuhi. Tidak perduli dengan rasa kantuk, tidak perduli dengan rasa lelah, yang penting anak dan istri bisa hidup dengan layak.
Pelajaran baru yang bisa saya ambil dari pertemuan saya dengan si bapak, jika hidup itu harus kita syukuri, janganlah sekali-kali mengeluh tentang hidup karena di luar sana, masih banyak orang-orang yang hidup tidak lebih beruntung dari kamu, bahkan mungkin hidup yang kamu keluhkan adalah hidup yang orang lain idam-idamkan. Dan juga janganlah sekali-kali kamu meremehkan orang tua, karena kamu tidak akan pernah tau serjuangan seperti apa yang mereka lakukan untuk menghidupi kamu. Sayangilah kedua orang tua sebagaimana mereka mengasihi kamu, hormatilah kedua orang tua karena tanpa mereka, kamu tidak akan pernah hidup, kamu tidak akan pernah ada di dunia ini (tuh dengerin buat adek-adek yang masih sekolah ga bener, dateng ke sekolah malah ngobrol dan niali jeblok terus padahal orang tua kalian banting tulang mengusahakan agar kalian bisa sekolah).
Setelah obrolan selesai, kami berdua tenggelam dalam lamunan masing-masing. Saya dengan tetap melihat pemandangan di luar dan si bapak mulai jatuh tertidur. Dan untuk semua hal yang saya alami, saya bersyukur jika Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk “melihat” hal-hal yang jarang terlihat. Merasa takjub luar biasa ketika berpuluh-puluh kali diberikan pemandangan alam yang sangat luar biasa. Disuguhkan pemandangan seorang kakek yang cukup berumur masih semangat bekerja mencari rumput untuk mekanan hewan ternak. Dengan menggunakan sepatu boots di atas gunung beliau masih semangat dan tersenyum kepada saya saat kereta ini melintas melewatinya. Atau ketika beberapa kali saya melihat matahari yang perlahan muncul di celah-celah gunung, dengan malu-malu dia menampakkan sinarnya yang membuat satu garis tak terlupakan. Semua perjalanan menuju Jogja tidak akan pernah saya lupakan. Karena apa yang saya lihat mungkin tidak akan pernah sama di masa depan. mungkin saja pemandangan lahan perkebunan, sawah dan pegunungan yang saya lihat akan menjadi sebuah perumahan mewah dikemudian hari, atau mungkin menjadi vila-vila dengan gaya etnik di atas gunung. Entahlah yang pasti saya tidak ingin mengingat kemacetan kota, hiruk pikuk orang-orang juga asap knalpot dan pabrik yang harus saya terima sampai tua nanti. Bagi saya perjalanan ini sungguh menyenangkan dan banyak menampar saya sebagai manusia yang masih belum menjadi apa-apa.
Itulah beberapa hal yang saya alami ketika menaiki kereta tujuan Bandung-Jogja. Selebihnya, perjalanan saya terasa biasa karena mulai memasuki kawasan perkotaan. Ditambah lagi hari yang mulai terik, membuat pemandangan yang saya lihat tidak semenakjubkan ketika matahari mulai hadir. Terakhir, ketika sampai distasiun Lempuyangan, saya pun berbenah untuk bersiap-siap turun. Mengambil tas jinjing yang disimpan kolong kursi dan menggendong tas yang sejak tadi berada di saping kanan saya. Terakhir saya pamit kepada si bapak, dia pun mengangguk namun raut mukanya masih sama seperti pertama kali bertemu, terlihat kaku tanpa ekspresi. Saya pun berdiri dan menunggu kereta berhenti setelah pamit. Di depan saya, saya kembali tertampar saat ada segerombolan ibu-ibu yang hendak turun seperti saya, sebelum berpisah mereka bersalaman dan saling meminta maaf jika ada salah-salah kata dalam berucap. Ya, saya tidak bersalaman dengan si bapak, saya hanya pamit kemudian bergegas berdiri. Tidak sepatah kata pun kata maaf keluar dari mulut saya untuk si bapak. Jujur saja, saya canggung dan malu ketika ingin bersalaman dan meminta maaf, sadar karena selama perjalanan kami hanya diam dan si bapak lebih banyak tidur, mungkin akan terlihat aneh jika saya meminta maaf, walaupun sampai sekarang saya menyesal.
Keriuhan orang-orang yang hendak turun pun menjadi pertimbangan saya untuk segera berdiri tanpa berpikir panjang (namanya juga baru pertama naik kereta ke tempat jauh, saya kira ketika pengumunan kereta akan tiba di stasiun berikutnya, itu beneran bakal langsung berenti terus turun, padahal  masih harus lewatin stasiun tugu dulu, halah). Padahal tidak ada salahnya untuk meminta maaf pada si bapak, mengingat mungkin saja ketika si bapak tertidur dan ketika saya mencoba merubah posisi kaki, kaki saya tidak sengaja menyenggol si bapak atau apa saja (yang ini fix beneran kepikiran).
Namun kembali lagi, saat itu keadannya mengharuskan saya untuk segera bersiap. Saya pun akhirnya turun dengan mendoakan si bapak semoga rejekinya lancar dan sehat selalu di dalam hati yang di tutup dengan kata amin.
Mungkin Tuhan memberikah beberapa seperti itu untuk “mengingatkan” saya agar lebih bisa memaknai hidup, bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Percayalah, bahwa apa yang diberikan Tuhan adalah hal yang paling baik untuk kita. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari apa yang saya ceritakan. Amin.


Salam,
Tina Wiarsih

nb: maaf jika bahasa yang digunakan masih tidak terasa enak, dan maaf jika foto yang saya lampirkan kurang bagus dan menarik, karena selama perjalanan saya tidak begitu ingin mengabadikan momen dengan kamera handphone, cukup dengan mata kepala saja sudah memuaskan. Thanks :)



Sabtu, 24 Februari 2018

5 cm

Judul                            : 5 cm.
Penulis                          : Donny Dhirgantoro
Penerbit                        : Grasindo
381 hlm
Rate     3,5/5

Sinopsis:
Menceritakan tentang persahabatan 5 anak manusia yang bernama Genta, Riani, Zafran, Ian dan Arial, persahabatan mereka begitu solid dan jujur. Tidak ada kata permusuhan yang terjadi di antara mereka. Setiap hari, kelimanya selalu bersama. Menjelajahi seisi kota dengan riang juga canda. Salah satunya adalah berkumpul di rumah Arial setiap hari. Segala macam obrolan telah mereka utarakan, mulai dari film favorit, band dan penyanyi sampai kuotes-kuotes dari tokoh termana telah mereka bicarakan. Tentu saja bukan tanpa perbedaan. Perbedaan pendapat selalu terjadi di antara mereka, namun mereka tidak memusuhi perbedaan itu, mereka mencoba menghargai juga menerima pendapat satu sama lain. Adalah Genta sang leader, yang selalu mempunyai ide-ide cemerlang, juga solusi untuk semua masalah yang dihadapi.
Pada suatu malam, saat mereka berlima tengah berkumpul di rumah Arial, mereka semua berbicara tentang segala hal sambil ditemani semangkuk indomie. Pada satu perdebatan, mereka berlima merasa tidak memiliki kemajuan atau berada di titik kejenuhan karena sering bersama. Mereka merasa tidak berkembang sebagai seorang manusia. Maka, Genta mengutarakan untuk berpisah sementara selama tiga bulan untuk meraih impian masing-masing. Hal itu disambut dengan antusias oleh yang lain walaupun Riani sempat menolak. Dan akhirnya keputusan dijatuhkan, yaitu mereka berpisah selama tiga bulan dan kembali bertemu tepat tanggal 14 Agustus di salah satu stasiun kereta api untuk memulai petualangan baru.

Novel ini harus saya acungi jempol untuk ide cerita dan gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pengarang. Dengan mengangkat tema persahabatan, novel ini sukses menyadarkan saya betapa berharganya seorang sahabat dan keikhlasan hati untuk saling menerima. Dalam cerita ini, masih seperti novel kebanyakan yang dibumbui oleh roman-roman percintaan. Hanya saja, roman percintaan yang di bahas tidak terlalu banyak. Di novel ini, hal yang banyak dibahas justru adalah kedekatan persahabatan juga cara-cara untuk meraih mimpi. Harus saya akui, novel ini mempunyai daya magis untuk menghipnotis para pembacanya agar bersemangat dalam meraih mimpi mereka masing-masing. Adalah tidak baik ketika seorang manusia mengataka “saya tidak bisa” karena perkataan itu akan menghambat seseorang untuk menjadi bisa. Maka, yang harus dilakukan adalah yakin dan percaya terhadap apa yang kita inginkan, menggantungkan sebuah harapan di depan kening, lima centimeter di depan kening kamu agar mampu kamu lihat dan menjadi sebuah motivasi untuk agar berusaha meraihnya.
Selain tema, setting yang dipakai dalam novel ini juga cukup menarik. Menceritakan tentang gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Pengarang mampu menggambarkan setting dengan begitu epik dan detail. Tentang keindahan gunung Semeru juga cerita mistis yang terkandung di dalamnya. Bukan hanya itu, pengarang juga mampu menggambarkan hal-hal kecil yang ada di sana, mungkin karena novel ini merupakan pengalaman pribadinya saat mendaki Semeru, jadi hal-hal yang digambarkan dalam cerita ini terkesan begitu hidup. Mulai dari keadaan dan suasana pada malam hari ketika pendaki berkemah atau pergi naik malam hari, juga ketika digambarkannya perjalanan menuju Ranu Kumbolo yang begitu rumit. Semua terasa hidup dan nyata.
Dilihat dari segi bahasa, novel ini memiliki bahasa yang sederhana namun mudah dimengerti. Jarang sekali saya menemukan diksi yang bermetafora dari tulisan kak Donny pada novel ini, namun hal ini diperindah dengan dihadirkannya kuotes-kuotes yang bermanfaat juga lirik-lirik lagu yang bagus dari awal cerita sampai akhir cerita. Sejujurnya, di novel ini terlalu banyak percakapan-percakapan yang seharusnya membuat bosan, percakapan yang membuat suasana tidak hidup, namun hal tersebut bisa diatasi dengan baik oleh si pengarang yang hasilnya percakapan-percakapan tersebut terasa tidak membosankan. Banyak kalimat-kalimat yang memotivasi saya untuk percaya kepada mimpi, untuk lebih berusaha dalam mengejar impian. Dan beberapa kali saya harus menitikan air mata ketika sampai pada cerita-cerita tertentu.
Percakapan tidak pernah lepas dari penokohan atau karakter yang dibentuk. Menurut saya, karakter yang dibentuk sangat pas dan kuat. Riani yang digambarkan sebagai sosok wanita pintar yang tidak ingin kalah dalam berdebat namun tetap ramah dan tidak merasa dirinya lebih pintar dari yang lain, Genta yang digambarkan sebagai cowok pemimpin yang kalem dan tidak neko-neko, Arial yang digambarkan sebagai cowok cuek yang sebenarnya penyayang, Ian yang digambarkan sebagai seorang cowok gendut yang doyan makan indomie dan menonton video porno namun selalu menajadi yang paling disayang karena lucu, juga Zafran yang digambar sebagai sosok yang “gila” dan selalu berpuisi. Semua karakter itu terasa nyata dan hidup ditambah dengan bahasa dan percakapan yang membuat saya tertawa. Begitu hidup dan nyata.
Alur yang dibangun disini sangat biasa, yakni menggunakan alur maju. Seluruh dari cerita ini berjalan apa adanya, mengalir bagai air. Saya begitu menikmati setiap lembar demi lembar yang dihadirkan. Semuanya terasa pas, terasa berkesinambungan satu sama lain.
Dan terakhir adalah amanat. Amanat yang disampaikan sangatlah besar. Disini, setelah membaca novel ini secara keseluruhan, ada dua hal yang bisa saya ambil dari cerita tersebut. yang pertama dari segi instrinsik dan yang kedua dari segi ekstrinsik. Dari instrinsik, saya bisa mengambil hal jika, ketika kamu punya impian, maka kejarlah impian itu tanpa kenal lelah, kegagalan bukan suatu hambatan, tapi sebagai pemicu untuk kamu agar lebih bisa berusaha dan berusaha sampai meraih hasil yang diinginkan. Apapun yang kamu inginkan bisa tercapai asalkan kamu ada keinginan, asalkan kamu ada kemauan untuk berusaha. Lima centimeter di depan kening kamu, biarkan itu menggantung di depan kamu agar kamu dapat melihatnya setiap saat. Sangat jelas jika pengarang ingin memberikan motivasi kepada pembacanya agar kita tidak pernah menyerah demi mencapai cita-cita dan impian.
Dan yang kedua adalah dilihat dari segi ekstrinsik. Ketika saya melihat kehidupan kelima orang tersebut, saya langsung suka kepada karakter Zafran bahkan sampai nge-fans. Dan hal yang saya ingat adalah karakter Zafran tidak ada hadir ke dalam dunia fiksi jika tidak diciptakan oleh pengarang. Dan karakter Zafran pun akan terkesan sebagai orang yang tidak berguna ketika pengarang tidak memberikan karakter apa-apa, ketika pengarang tidak memodifikasi karakternya sesuai dengan yang dia inginkan. Maka kita harus sering berterima kasih kepada penulis karena telah menciptakan karakter yang begitu hidup, karakter yang begitu unik sampai bisa membekas di hati pada pembaca. Dan hal itu juga bisa diaplikasikan kepada kita umat manusia. Kita hanya akan menjadi seonggok daging yang tidak berguna saat Tuhan tidak memberi kita apa-apa, saat Tuhan tidak memberikan kita kemampuan yang sebenarnya dimiliki setiap umat manusia. Maka disini, kita harus sering berterima kasih kepada Tuhan untuk segala karunia yang Dia berikan, untuk segala nikmat yang Dia berikan sejak kita lahir sampai sekaran. Pandai pandailah bersyukur kita sebagai manusia agar hidup bahagia dan tentram, juga agar pandai memaknai hidup.
Terakhir, saya tidak pernah menyesal ketika ditakdirkan untuk membaca novel 5cm, karena apa yang saya dapat dari novel tersebut, sangat bermanfaat bagi saya, sangat memotivasi saya untuk lebih bisa berjuang demi mengejar impian. Juga untuk kuotes-kuotes yang dihadirkan yang memang bagus dan memotivasi saya sebagai umat manusia agar bisa lebih bersyukur dan memaknai hidup. Demikian review saya kali ini, semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang kita lakukan. Amin J

Senin, 05 Februari 2018

Memeluk Kehilangan



Judul                            : Memeluk Kehilangan
Penulis                          : Faisal Syahreza
Penerbit                        : Exchange
ISBN                           : 978-602-6799-16-6
255 hlm
Rate     4/5

Sinopsis:
Apakah kebahagiaan itu? Kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?
Pada awalnya, kupikir kebahagiaan itu kamu, Marischa. Sampai kemudian aku menyadari ada hal-hal yang tak pernah diatur manusia. Salah satunya waktu. Tuhan mempertemukan kita pada waktu yang tak tepat, ketika kita masih sama-sama menyimpan rahasia dan ketakutan. Kamu masih bersama cinta pertamamu. Aku menerima keadaan itu dan mencintaimu. Ketika kamu mulai yakin padaku, Tuhan menunjukkan hal hebat lainnya, yakni betapa berbakatnya lelaki menyakiti hati seorang perempuan. Ya, aku menyakitimu, Marischa.

Kemudian kita berpisah lama. Lima tahun tanpamu membuatku menyadari betapa aku sangat mencintaimu. Aku jatuh cinta pada patah hati ini. Lalu, apakah lima tahun yang berlalu ini cukup bagi kita untuk saling memaafkan? Ataukah aku akan patah untuk kedua kalinya? Marischa, apakah kebahagiaan itu?

Menceritakan kisah cinta Neka dan Marischa, novel ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Diawali dengan kembalinya Neka pada kehidupan Marischa setelah lima tahun berpisah, hari-hari Marischa terasa begitu manis. Setiap hari selalu ada Neka yang senantiasa menemaninya kemanapun ia pergi. 
Kenyataan jika di masa lalu mereka pernah gagal membina hubungan manis, kali ini mereka mencoba mengulang semuanya sebaik mungkin, mencoba untuk membangun kembali segala sesuatu yang pernah jatuh berantakan. Bayangan manis tentang membina rumah tangga bagi keduanya sudah ada di depan mata, kesalahan memilih pasangan sudah mereka lewati hingga keduanya berharap satu sama lain.
Namun rasa pahit harus kembali ditelan oleh Marischa, mengetahui jika ciciin yang melingkar di jari manisnya bukan untuknya, melainkan untuk seseorang yang sudah lebih dulu diminta Neka untuk bersanding dengannya. Dan untuk kedua kalinya Marischa harus jatuh pada lubang yang sama, mencintai dan patah hati.
Novel ini mempunyai plot dan alur yang sangat menarik. Sejujurnya saya sebagai pembaca di buat bingung dengan alur yang dibangun pengarang pada bagian awal cerita, namun saat menapaki babak demi babak dan sampai pada penghujung ceita, saya dapat menemukan makna tersembunyi dan juga rahasia yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Ibarat mendapat sebuah hadiah dengan hiasan yang begitu rumit, saya mendapati kebingungan untuk membuka kado tersebut, satu persatu kertasnya saya lepas hingga pada akhirnya saya bahagia mendapatkan hadiah yang selama ini saya idamkan. Itulah perumpamaan saya ketika saya membaca novel ini. Selalu ada kejutan yang menarik dalam setiap bab, selalu ada hal yang istimewa dalam setiap jalan cerita yang disuguhkan.
Cerita ini mempunyai alur acak, diawali dengan bertemunya tokoh utama yang pada nantinya akan masuk pada masa lalu keduanya lalu kembali lagi pada masa kini, pada masa lalu hingga kemudian masuk ke masa depan. Sungguh menarik dengan pengemasan yang begitu rapi, tidak ada cacat satu pun juga. pembaca dapat menikmati rangkaian cerita demi cerita dengan pengemasan yang luar biasa.
Selain dari segi alur, penokohannya juga terbilang kuat, semua karakter yang dihadirkan begitu menarik dan unik, terutama pada karakter tokoh pria. Karakter Neka dibuat plin plan dan cenderung tidak bisa memilih, tidak punya pendirian tetap dan hanya bisa menyakiti, sangat berbanding terbalik dengan pandangan dari kaum hawa tentang kaum adam. Mungkin pengarang ingin membeberkan realita yang terjadi pada kaum adam ketika mereka tengah jatuh cinta. pria juga bisa galau, pria juga bisa melankolis dan bersedih ria saat merasa kehilangan apalagi untuk orang yang sangat dicintai.
Dilihat dari segi diksi, novel ini tidak diragukan lagi. Gaya cerita yang sangat menarik juga pemilihan diksi yang begitu puitis membuat novel ini terkesan indah juga menawan. Perandaian yang sarat akan makna juga menambah daya tariknya.
Novel ini pun mempunyai akhir yang tidak terduga. Seseorang yang sering diceritakan namun pada akhirnya harus meredup digantikan oleh tokoh lain yang kemunculannya terbilang sedikit. Dan untuk bagian akhir, saya harus memberikan beberapa pujian karena sangat sangat melenceng dari yang saya duga. Disinilah kenikmatannya dalam memahami sebuah cerita, disinilah kenikmatannya dalam menerka apa yang kita terka.
Satu hal yang bisa saya ambil dari perjalanan cinta mereka adalah, tidak semua cinta bisa menyatukan dua orang yang saling mencintai, bahkan jika mereka sudah berkomitmen. Tidak semua cinta harus berujung manis terlebih jika waktu sudah memainkan perannya. Tidak ada yang salah dalam memilih, tidak ada yang salah dalam dipilih. Semua orang berhak untuk memilih juga dipilih selama dalam waktu yang tepat.

So, segera beli novel ini jika kamu ingin merasakan perjalana cinta Neka dan Marischa yang dibalut diksi yang puitis, juga ketika ingin merasakan suasana kota Bandung karena latar yang diambil adalah kota kembang, sangat cocok dibaca diwaktu santai juga ditemani coklat hangat dimusim hujan. 

Jumat, 26 Januari 2018

Jingga Untuk Matahari


Judul                            : Jingga untuk Matahari
Penulis                          : Esti Kinasih
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                           : 978 – 602 – 03 – 3723 – 4
448 hlm
Rate     4,5/5


Sinopsis:
Ari dan Tari menjalani hari-hari penuh pelangi. Tari bahagia karena ternyata Ari cowok lembut dan penuh perhatian. Sedangkan Ari gembira luar biasa ketika mendengar Ata dan Mama akhirnya kembali ke Jakarta.

Namun, tanpa Ari ketahui, selama ini Ata menyimpan kepedihan yang membuatnya bertekad melampiaskannya kepada Ari dan Papa. Saat itulah Ari menyadari ada “kisah” yang dia tidak tahu di antara papa dan mamanya.

Sementara itu, Tari mulai bingung menata hati. Karena pada saat rasa sayangnya untuk Ari semakin tumbuh, Angga muncul lagi dan “nembak” langsung. Sebenarnya, apa yang menjadi alasan Angga begitu dendam pada Ari dan bertekad merebut seseorang yang paling berharga darinya?

“Kalo lo ngincer cewek yang udah punya cowok, rebut dia di depan cowoknya. Jangan di belakang,” kalimat Ata it uterus terngiang di benak Angga.

Series ketiga dari novel Jingga dan Senja ini menyuguhkan alur cerita yang rapi juga konflik yang kompleks. Dimulai dari kedatangan Ata dan Mama kembali ke Jakarta, Ari merasa sangat senang karena harapan yang dia impikan -yaitu mempersatukan keluarganya hampir terwujud. Ari mulai menata hidupnya kembali yang terasa mendekati sempurna, terlebih saat Ata bersekolah di tempat yang sama dengan Ari. Kedatangan Ata di SMA Airlangga jelas membuat seluruh siswa hingar bingar juga ricuh karena bertambahnya makhluk tampan di sana. Saat itu, hari-hari terasa sempurna dengan didampingi saudara kembarnya, sahabat –Ridho dan Oji, juga Tari sebagai pacarnya. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, harapan mempersatukan kembali keluarganya harus kandas saat Ata dengan gamblang menyebutkan jika Papa mereka telah menikah lagi, ditambah kenyataan bahwa Ari pasti mengetahui hal itu mengingat Ari lah yang menjadi pengiring pengantin pernikahan ke dua Papanya. Hal itu jelas membuat Ari terkejut, pasalnya, Ari sama sekali tidak mengetahui jika Papanya telah menikah beberapa tahun yang lalu, juga kenyataan jika di pesta itu Mama dan Ata sempat diusir yang berujung kepada kedatangan pengantin yang berbahagia keesokan harinya, Ata tidak bisa melupakan jika saat itu Mama mereka dipukul oleh sang ayah. Hal itu membuat Ari terpukul, terlebih tidak mempercayai akan fakta yang baru saja didengarnya. Ari sedih, Ari rapuh, hampir patah bahkan hancur. Berkali-kali dia meyakinkan Ata jika dia sama sekali tidak mengetahui pernikahan ke dua Papa, namun Ata tetap tidak percaya.

Hal itu memicu pertengkaran tertutup, Ari dengan segala kehancurannya dan Ata dengan segala dendamnya terhadap kembar identiknya. Banyak hal yang terjadi di tengah kekacauan Ari, terlebih saat Ata memutuskan untuk bergabung dengan Angga untuk menghancurkan Ari secara perlahan, sampai Ari benar-benar habis, sampai ari benar-benar hancur.

Buku ketiga dari series Jingga ini memberikan sentuhan yang berbeda dalam setiap cerita juga konflik yang dibangun. Adalah ciri khas Esti dalam membangun alur dalam sebuah karya fiksi, novel ini menghadirkan alur yang berbeda, lebih rapi dan terstruktur. Karakter tokoh yang dihadirkan begitu kuat dan mampu mengaduk emosi para pembaca, di tambah lagi plot dan humor-humor yang disisipkan yang telah menjadi ciri khas dari sang penulis. Di buku ini, karakter Ari dibuat lebih pasif dibanding dengan Ata, hal ini selaras dengan cuplikan atau gambaran Ata saat diceritakan di buku pertamanya. Dalam cerita ini cerita kesedihan alebih banyak disangdang Ari dari pada Tari atau Ata, menjadikan Ari sebagai pihak protagonist setelah sebelumnya menyandang pihan antagonis dengan segala kekuasaannya. Dan perpindahan karakter tersebut benar-benar disajikan secara rapi juga kuat.

Berbeda dengan kedua buku sebelumnya, dalam buku Jingga Untuk Matahari lebih menceritakan tentang masa lalu kelam Ari, konflik yang di hadirkan lebih banyak membahas konflik keluarga dari pada konfliknya dengan Angga atau Tari. Misteri yang pada mula nya tertutup rapat, perlahan mulai terkuak. Jika di buku pertama –Jingga dan Senja menceritakan tentang kekuasaan Ari dan track record Ari sebagai siswa yang paling bermasalah, juga pertengkaran antara Ari dan Tari yang selalu menjadi huru hara di sekolah. Di buku keduanya –Jingga dalam Elegi menceritakan tentang rahasia Ari yang tidak diketahui oleh semua orang yaitu Ari mempunya kembar identik, di buku yang kedua ini menceritakan tentang perjalanan Ari yang menyamar sebagai saudara kembarnya untuk mendekati Tari. Untuk buku ketiga, pembaca diajak untuk menyusuri masa lalu kelam Ari dengan Ata sebagai sudut pandang fokusnya. Hal ini yang menjadi pembeda antara buku pertama dan buku kedua, dimana fokus pada novel ini mengacu pada konflik keluarga yang tidak bisa ketahui semua orang.


Dalam buku ini, saya hampir tidak menemukan kekurangan –selain kesalahan dalam menulis, Esti Kinasih hampir benar-benar menghadirkan kesempurnaan dalam kelahiran novel ini. Jalan cerita yang disuguhkan pun hampir tidak terduga dan tidak tertebak, dan buku ini sangat cocok dibaca untuk orang yang senang memahami makna dalam setiap kata, karena Esti menghadirkan perandaian-perandaian untuk menjelaskan satu masalah tertentu. Cara nya dalam menyisipkan makna dalam sebuah hal sederhana patut diacungi dua jempol. Namun, tidak sampai disitu cerita Ari, Ata dan Tari. Cerita mereka akan dilanjutkan pada buku keempat Jingga Series, yaitu Jingga untuk Sandyakala. So, sampai ketemu lagi dengan kisah mereka di buku keempatnya ya J

Kamis, 07 Desember 2017

Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa: Manusia Menuju Kehampaan


Pernah denger salah satu lagu Efek Rumah Kaca dengan judul Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa? Yap, lagu yang berada dalam album Kamar Gelap dan telah di rilis pada tanggal 19 Desember 2008 ini mampu menyita perhatian saya dengan music dan liriknya yang sederhana. Sempat berfikir arti dalam lirik ini menceritakan tentang percintaan namun dikemas dengan apik sehingga tidak memunculkan kesan cengeng, ternyata saya salah. Untuk kesekian kalinya saya harus tertipu oleh lagu buatan Cholil Mahmud. Berikut coba saya jabarkan lirik lagu tersebut.

Akan kemanakah aku di bawanya?
Hingga saat ini, menimbulkan tanya
Engkau dan aku menuju ruang hampa
Tak ada sesiapa hanya kita berdua

Kau belah dadaku mengganti isinya
Dihisap pikiranku memori terhapus
Terkunci mulutku menjeritkan pahit

Hingga kau belah rongga dadaku
Mengganti isinya dengan batu
Hingga kau kunci rapat mulutku
Engkau dan aku bumi dan langit

(Efek Rumah Kaca – Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa)

Ketika dilihat sekilas, atau ketika saya baru melihat judulnya, saya sudah berpikir jika ini lagu tentang cinta (karena judul tersebut menunjukan pada sesuatu yang bernilai jamak, bukan tunggal), namun saat itu saya tidak begitu memperhatikan liriknya. Yang saya tau, lagu ini sangat enak didengar dengan lirik yang tidak cengeng juga music yang berkualitas. Telah saya simpulkan jika lagu ini mungkin bercerita tentang sepasang kekasih atau sepasang manusia yang dalam perjalanan cintanya mengalami kehampaan. Ketika sebuah hubungan sudah tidak memiliki rasa dan terasa hambar namun masih tetap dijalani. Bagai zombie, pasangan dalam cerita pun tetap melanjutkan hubungan mereka meski semua terasa hampa dan terasa seperti berjalan dalam kehampaan.

Namun, kesimpulan saya harus saya pupus kembali saat saya melihat video klip yang di buat efek rumah kaca. Dalam video tersebut, digambarkan tentang seekor kelinci yang berada dalam satu ruangan dan ditemani oleh seekor serigala. Kelinci tersebut diibaratkan sebagai kelinci percobaan yang telah diprovokatori sang serigala untuk melakukan aksi kejahatan khususnya bom bunuh diri. Dari sana saya mulai berpikir jika lagu ini bukan menceritakan kisah cinta, tetapi menceritakan tentang kehidupan manusia jaman sekarang yang lebih banyak dijadikan kelinci percobaan. Selain itu, kasus pencucian otak manusia pun masuk dalam arti lirik tersebut.

Ada beberapa orang yang menyatakan pendapat, jika lagu ini menceritakan tentang ke over protektifan pasangan kekasih, dimana salah satu dari mereka selalu menuntut pasangannya untuk melakukan ini itu dan tidak membiarkan pasangannya bebas memilih apa yang dia suka. Namun pendapat itu bisa saya bantah ketika melihat video klip yang ada disana. Lantas, kenapa saya harus berpikir arti lirik lagu tersebut menceritakan tentang pencucian otak manusia? Mari kita lihat sebait lirik lagu tersebut.

Akan kemanakah aku di bawanya?
Hingga saat ini, menimbulkan tanya
Engkau dan aku menuju ruang hampa
Tak ada sesiapa hanya kita berdua

Bukankah sudah jelas dalam bait dan baris lagu tersebut menceritakan tentang seseorang yang di bawa kesuatu tempat entah dimana. Seseorang yang dicuci otaknya bertanya-tanya akan dibawa kemana dia dan akan diapakan dia? Pada bait ke tiga dan keempat, dijelaskan jika seseorang tersebut dibawa menuju ruang hampa. Menurut saya pribadi, mungkin maksud dari ruang hampa tersebut adalah sebuah ruangan tertutup yang hanya ada mereka berdua. Bukankah biasanya seseorang yang hendak dicuci otaknya berada dalam satu ruangan tertutup, dimana hanya ada si korban dan di pencuci otak disana? Baik lanjutkan pada lirik berikutnya.

Kau belah dadaku mengganti isinya
Dihisap pikiranku memori terhapus
Terkunci mulutku menjeritkan pahit

Dalam baris tersebut, dijelaskan jika di dalam ruangan tertutup itu, si pencuci otak telah membelah dan mengganti isi dadanya. Maksud dari lirik ini adalah, ketika si pencuci otak melontarkan kalimat-kalimat bernada provokator, yang membuat si korban hanyut ke dalam ucapan-ucapannya. Ketika hati dan naluri manusia diganti kemudian menjadikan manusia tidak memliki empati dan simpati satu sama lain. Selain itu, terlihat pula dalam bait kedua, ketika pikiran korban dihapus,  ketika kenangan-kenangan akan hal yang baik seperti norma dan aturan dihisap dan dihapus dari kepala, membuat si korban semakin jauh melangkah pada suatu kejahatan, semakin dalam si korban dibawa pada kehampaan dan semakin dalam pula otak sang korban di hapus dan digantikan dengan hal-hal jahat.
Pada bait ketika, diceritakan jika si korban tidak bisa melawan, tidak bisa memberontak, dan tidak bisa berbuat apapun selain menerima.

Hingga kau belah rongga dadaku
Mengganti isinya dengan batu
Hingga kau kunci rapat mulutku
Engkau dan aku bumi dan langit

Dalam lirik tersebut semakin dijelaskan, jika si korban telah jauh dibawa menuju kehampaan. Mungkin dalam hal ini, diceritakan jika si korban telah lahir kembali sebagai orang baru, dengan pribadi yang baru yang tidak mempunyai simpati dan empati, juga selalu menghalalkan segala cara. Dalam bait pertama dan kedua, sangat jelas jika si provokator, telah menggati isi dadanya dengan batu, dimana dalam hal ini saya menemukan satu majas atau peruampamaan yang jika diartikan, artinya adalah si korban terlah lahir kembali sebagai manusia yang berhati batu atau tidak punya hati. Bukankah itu merujuk pada sifat simpati dan empati manusia? Jika disimpulkan, mungkin setelah dicuci otaknya, si korban jadi mau melakukan apapun perintah di provokator termasuk bunuh diri menggunakan bom, tanpa harus memikirkan nasib orang lain atau orang-orang sekitarnya. Dan ketika kita lihat bait keetiga dan keempat, memiliki arti jika mungkin si korban sudah tidak bisa menolak dan menyuarakkan protesnya. Mulutnya terasa dikunci dan sulit untuk berbicara, bagai berada di tempat terjauh, korban dan provokator bagai bumi dan langit, sangat jauh dan tidak terjangkau. Mungkin maksudnya adalah, ketika si korban tidak bisa melawan provokator karena sang provokator memiliki kekuatan yang begitu beasar hingga tidak bisa terkalahkan oleh si korban, melawan sang provokator atau mengejarnya untuk mengelak, bagai berlari dalam jarak yang sangat jauh seperti berada di bumi dan langit.


Itulah arti dari lirik lagu Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa menurut saya. Lagu yang lagi-lagi membuat saya tertipu dengan artinya yang sesungguhnya. Salut buat Cholil Mahmud yang dengan cerdas mengemas lagu tersebut dengan lirik yang sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam, menciptakan lagu yang tidak melulu soal cinta namun masih memikirkan keadaan sekitar pada saat ini, salut juga buat Efek Rumah Kaca yang mengemas musiknya dengan begitu epik, terkesan sederhana namun ternyata sangat bagus. So, buat yang denger liriknya bisa cek di youtube ya J

Selasa, 21 November 2017

Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak



Judul                : Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak
Sutradara         : Mouly Surya
Produser          : Rama Adi, Fauzan Zidni
Pemeran           : Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly
Durasi              : 90 menit
Rate                 : 4/5

Sinopsis

Suatu hari di sebuah padang sabana Sumba, Indonesia, sekawanan tujuh perampok mendatangi rumah seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy). Mereka mengancam nyawa, harta, juga kehormatan Marlina dihadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi, duduk di pojok ruangan.

Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal tadi malam. Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra) yang menunggu kelahiran bayinya dan Franz (Yoga Pratama) yang menginginkan kepala Markus kembali. Selain itu, Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina.

Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak atau juga dikenal dengan judul Marlina The Murderer in Four Acts ini sukses membuat saya penasaran sejak awal dipromosikan. Alur cerita, para pemain juga soundtrack dari film ini yang membuat saya bertekad untuk tidak menunda-nunda menonton film ini. Sejak awal adegan, saya sudah dibuat terkesan oleh pemandangan sabana di daerah Sumba Indonesia yang begitu mengagumkan, ditambah pencahayaan yang menambah kesan jika tempat tersebut begitu indah. Masuk ke dalam adegan demi adegan, saya dibuat terkesan oleh acting para pemain. Marsha Timothy yang begitu epik memerankan sosok pembunuh juga Egi Fedly yang memerankan sosok penjahat. Selingan sedikit, sejak kecil, saya paling males kalau nonton film atau sinetron yang salah satu artisnya Egi Fedly, kenapa? Karena, peran yang dia mainkan selalu antagonis dan itu terlihat nyata. Begitupun dengan acting Egi Fedly dalam film ini. Beliau begitu rapi saat memerankan tokoh seorang perampok yang bengis juga mesum. Semua terlihat sempurna dipadukan dengan acting Marsha sebagai wanita pembunuh.

Walaupun film ini terkesan sadis karena bertebarannya pembunuhan dan pemenggalan kepala, namun ada beberapa makna tersembunyi yang tidak bisa saya abaikan. Salah satunya adalah, saat memasuki jaman seperti ini, peran wanita telah sejajar dengan pria, tidak ada diskriminasi gender antara pria dan wanita. Selain itu, film ini pun memperlihatkan bagaimana perjuangan seorang wanita dalam melindungi dirinya dari marabahaya. Spoiler dikit ya, jadi ceritanya, selain di rampok, Marlina juga terancam di perkosa oleh tujuh orang pria termasuk Markus, ketika kawanan perampok itu datang dan meminta Marlina untuk menyajikan makanan, dengan rapi Marlina menyisipkan buah beracun pada sup ayam santapan mereka. Saat itu, Markus tengah tertidur di kamar, sehingga yang mati akibat memakan sup beracun itu hanya 4 orang kawannnya, dua orang lagi terpaksa harus kembali keesokan harinya karena mereka mendapat tugas untuk mengantarkan hewan hasil jarahan. Dan bagian terkerennya adalah saat empat perampok itu satu persatu jatuh ke lantai, dan Marlina, yang saat itu membelakangi para perampok tersenyum penuh makna saat didengarnya suara tubuh yang ambruk satu persatu. Disitulah saya mulai berpikir bahwa di film ini, menceritakan tentang seorang wanita yang harus menjaga dirinya dari sekumpulan pria yang memandangnya rendah karena dia seorang janda. Hal ini juga berkaitan dengan adat masyarakat Indonesia yang terkadang memandang sebelah mata seorang janda terutama untuk kawanan pria.

Selama 90 menit saya dibuat terkagum dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak juga akhir yang sulit saya prediksi. Selain itu juga, mata saya dimajakan dengan pemandangan Sumba yang begitu indah dan epic. Saya hampir tidak menemukan kekurangan apapun dalam film ini karena saya begitu menikmati adegan demi adegan yang disguhkan dari awal sampai akhir. Film ini juga cocok dibahas dengan menggunakan kajian Feminisme (menurut saya sih film ini masuk kriteria untuk diulik menggunakan pendangan Feminis). Dan akhir kata, saya sangat puas untuk film ini, film Indonesia yang berani keluar dari “zona nyaman” dan berani membuat tebusan genre baru. Buat semua pembaca yang belum menonton Marlina, segera datang ke bioskop dan saksikan bagaimana perjuangan Marlina dalam mencari keadilan, sebelum film ini hilang hehe. So, thanks sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi blog saya dan sudi membaca review abal-abal saya tentang film yang saya tonton J

NB: jangan lupa buat dengerin soundtracknya ya, lagu berjudul "Lazuardi" karya Cholil Mahmud

Jumat, 17 November 2017

A Song For Alexa by Cynthia Isabella


Judul                            : A Song For Alexa
Penulis                          : Cynthia Isabella
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                           : 978-602-03-0699-5
273 hlm
Rate     3,5/5

Sinopsis:
Sudah sejak SMP Alexa naksir Daniel, tapi selama itu pula dia tidak berani bergerak lebih jauh. Jadi, selama ini dia sibuk menerka-nerka bagaimana sebenarnya perasaan cowok itu terhadapnya. Karena ditawari bantuan, Alexa pun memercayakan rahasianya kepada Vivi, teman sekelas Daniel yang kebetulan akrab dengan cowok itu.

Sementara itu, Alexa yang perasaannya terlanjur melayang karena mengira Daniel sering diam-diam mengamatinya, dikejutkan kabar bahwa cowok itu malah jadian dengan… Vivi! Alexa pun menenggelamkan diri dalam tugas kepanitiaan acara sekolah dan lebih banyak “sembunyi” di ruang lukis. Di sana, diam-diam ada yang selalu menghiburnya dengan alunan piano, membantunya menghadapi masa-masa sulit. Dan ketika akhirnya suatu kejadian tak terduga membuatnya memahami perasaan orang-orang di sekitarnya, Alexa pun menentukan pilihan.

Novel ini menceritakan tentang seorang cewek bernama Alexa, yang sudah sejak lama naksir teman semasa SMPnya bernama Daniel. Namun sayangnya, orang yang disukai Alexa telah menyukai teman sekelasnya bernama Vivi yang sebelumnya menawarkan bantuan pada Alexa untuk menjadi mak comblang antara Daniel dan Alexa. Alexa patah hati saat menerima kenyataan jika pada akhirnya Daniel dan Vivi berpacaran. Alexa merasa hancur, hatinya sakit, terlebih saat satu kenyataan terungkap jika orang-orang melihat Alexa dipihak yang jahat karena telah menjadi penghalang bagi cinta Daniel dan Vivi.

Kejadian itu membuat Alexa malas  untuk bertemu orang-orang terlebih jika harus bertemu dengan Daniel dan Vivi. Setiap waktu istirahat digunakan Alexa untuk menyendiri dan membuat lukisan untuk acara porseni. Tentu saja hal itu tidak dilakukan Alexa seorang diri. Dirinya ditemani oleh Kei, salah satu seniornya yang juga selalu menghabiskan waktu disana untuk bermain piano. Lambat laun, Alexa mengetahui tentang satu rahasia yang ada pada diri Kei, dan semakin hari, dirinya semakin akrab dan menghabiskan waktu bersama. Sehingga, perlahan, benih-benih cinta mulai tumbuh dalam diri Alexa untuk Kei.


Novel ini sangat cocok dibaca di waktu senggang. Penggambaran karakternya kuat dan mampu membuat saya emosi saat membaca cerita demi cerita. Secara garis besar, novel ini mempunyai konflik yang sangat sederhana dan pasti dialami oleh hampir semua anak remaja. Namun, yang menjadi perhatian saya adalah dampak yang ditimbulkan yang selanjutnya menjadi konflik yang jarang teralami oleh remaja kebanyakan.

Selain itu, penggambaran karakter yang  dihadirkan setiap tokohnya begitu kuat dan mempu menghidupkan cerita serta mampu membuat emosi saya teraduk-aduk. Karakter Kei yang dingin dan terkesan kaku, membuat saya membayangkan jika sosok Kei adalah sosok cowok yang menjadi idaman para cewek, sehingga orang yang membaca karakter Kei akan berkesimpulan jika cowok itu adalah cowok yang cool. Selain tokoh Kei, hadir juga tokoh Alexa yang mempu menghidupkan cerita. Sikapnya yang dibuat periang juga aktif, sangat kontras dan cocok saat disandingkan dengan Kei, walaupun karakter mereka bertolak belakang. Dan yang paling menjadi perhatian saya adalah tokoh Vivi. Tokoh Vivi dibuat protagonis pada awal cerita, namun berubah menjadi antagonis di bagian tengah sampai akhir cerita. Disana, terungkap jika Vivi lah dalang dari semua kekacauan di hidup Alexa. Dan karakter Vivi mampu membuat emosi saya tercabik atas semua sikap jahat dan pengkhianatan yang dilakukan pada Alexa.

Layaknya sebuah kehidupan, tentu saja novel ini mempunyai beberapa kekurangan, diantaranya:
1)      Konflik yang terlalu sederhana. Menurut saya, konflik yang dihadirkan dalam cerita ini sangat amat sederhana. Sejak awal setelah Daniel berpacaran dengan Vivi, dan sejak Daniel menonton pertunjukan bass Alexa, juga ketika berbagai kekacauan yang hadir dalam hidup Alexa, membuat saya langsung bisa menebak jika Vivi-lah dalang dibalik semua ini. Entah penulis sengaja ingin membuat konflik yang sangat sederhana atau tidak, karena kekurangan ini bisa ditutupi dengan teknik penceritaan yang sukses membuat saya menerka-nerka bagaimana Vivi mampu melakukan hal-hal kejam pada Alexa.
2)      Apa yang Vivi perbuat pada Alexa terlalu kejam dan lebay untuk ukuran anak sekolah. Diakhir cerita, diceritakan jika Vivi sangat marah pada Alexa dan hendak memutuskan nadinya di depan Alexa, agar Alexa mendapat tuduhan atas segala hal yang terjadi. Namun untungnya, hal itu keburu diketahui Kei yang pada akhirnya, Kei memukul Vivi dengan tas nya hingga Vivi terjatuh. Untuk ukuran anak sekolah, hal ini terlalu lebay dan terkesan psikopat haha.
3)      Sikap Daniel yang terasa janggal saat mengetahui semua yang terjadi antara Vivid an Alexa. Jadi, selama ini, Vivi terus  menerus menyebarkan berita bohong yang menyudutkan Alexa, membuat berita untuk menjelakkan nama Alexa dimata teman-teman satu sekolahnya. Lalu, saat Vivi hampir bunuh diri di depan Alexa, Daniel datang dan mengungkapkan pada mereka yang ada disitu, jika Daniel percaya pada Alexa, jika Alexa tidak mungkin melakukan hal seperti yang dibicarakan oleh orang lain. Hal ini sedikit terasa janggal karena, jika memang Daniel tau semuanya, kenapa dia tidak membbicarakan hal ini sejak awal? *oke, kalau ini murni pendapat pribadi karena ga rela Alexa kesiksa terus karena ulah Vivi hahaha
Secara keseluruhan, kekurangan yang saya dapat dari novel hanya dua point, karena point ketiga itu merupakan ciri khas dan gaya penulis dalam mengembangkan cerita mereka. Intinya, alur cerita dan konflik yang dihadirkan pada novel A Song For Alexa sangat sederhana namun berkesan, apalagi ketika adegan dimana Alexa sedang bersembunyi diruang lukis dan di ruang sebelahnya ada Kei -yang mana ruangan itu adalah ruang musik- sedang memainkan sebuah alunan piano. Bagian paling romantis juga ketika Kei memainkan lagu berjudul Smile milik Charlie Chaplin dan membuat Alexa terenyuh.

Finally, menurut saya novel ini recommended banget untuk dibaca di waktu senggang, apalagi di tengah cuaca dingin seperti sekarang ditemani secangkir coklat hangat dalam mug ukuran besar. Selamat membaca dan hanyut dalam cerita yang dihadirkan oleh Cynthia Isabella J

Minggu, 12 Maret 2017

Goblin: Antara Takdir, Mimpi dan Kenyataan

poster drama korea Goblin

Tahun 2016 kemarin, perdramaan Korea sedang ramai membicarakan drama terbaru dengan judul Goblin atau The Lonely and Great God. Film ini sempat disebut-sebut drama terpopuler setelah sebelumnya predikat drama terpopuler disandang oleh Descendats of The Sun yang menceritakan kisah romance dokter dan seorang tentara. Bukan hanya jalan cerita yang cukup rumit, adegan romantis yang disuguhkan pun mampu membuat drama ini populer di kalangan masyarakat Indonesia. Goblin sendiri pertama tayang pada tanggal 2 Desember 2016 setiap hari Jumat dan Sabtu pkl. 20.00 KTS di stasiun TV tvN Korea. Film dengan genre fantasy, romance ini berjumlah 16 episode dengan 2 episode spesial dengan Gong Yoo dan Lee Dong Wook sebagai aktornya. 

Cerita ini mengisahkan tentang seorang prajurit pemimpin perang bernama Kim Shin (Gong Yoo) yang terkena kutukan dewa sejak 900 tahun tahun yang lalu. Dirinya harus hidup sebagai dewa pelindung yang memiliki pedang tertancap di dadanya. Hanya pengantin Goblinlah yang dapat mencabut pedang pedang itu agar Kim Shin dapat mengakhiri kekekalannya dan beristirahat dengan tenang. Namun, masalah baru timbul saat dirinya dapat bertemu dengan Ji Eun Tak (Kim Go Eun) yang mengaku sebagai pengantin goblin namun tidak dapat melihat pedang yang tertancap. Kegalauan menimpanya, penyangkalan terus ia utarakan pada Ji Eun Tak jika dia bukan pengantin goblin, namun Kim Shin terus berlaku baik dan menolong Ji Eun Tak saat dia dalam masalah. Hingga pada suatu hari, Eun Tak yang butuh pekerjaan diterima bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran ayam atas saran Kim Shin. Saat dia memanggil Goblin dengan cara meniup korek api, yang hadir bukanlah sang Goblin melainkan Malaikat Pencabut Nyawa (Lee Dong Wook) yang sudah 10 tahun mencari keberadaan Eun Tak karena perempuan itu termasuk jiwa yang hilang.Tanpa disangka, ternyata Malaikat Pencabut Nyawa dan goblin tinggal satu atap. Disitulah akhirnya Goblin mengakui jika Eun Tak adalah pengantin Goblin dan Malaikat Pencabut Nyawa tidak berhak melukai pengantinnya. 

Masalah kembali timbul saat diam-diam Goblin menaruh hati pada Eun Tak, terlebih saat akhirnya Eun Tak mengakui jika ia dapat melihat pedang yang tertancap di dada sang Goblin. Dibantu oleh Malaikat Pencabut Nyawa, sang Goblin harus beberapa kali menerima saran darinya yang sebenarnya tidak berpengaruh apapun karena hubungan mereka yang sedikit kurang baik. Hubungan Goblin dan Malaikat Pencabut Nyawa perlahan membaik, mereka dapat membangun persahabat sedikit demi sedikit akibat Lee Deok Hwa (Kwak Dong Yun), keponakan Goblin dan orang yang menyewakan rumah Goblin pada Malaikat Pencabut Nyawa. Bukan hanya itu, persahabatan mereka terbangun karena masalah yang dialami Malaikat Pencabut Nyawa yang diam-diam menyukai Sunny (Yoo In Na) setelah perkenalan mereka tempo hari. Malaikat pencabut Nyawa yang enggan bertemu dengan Sunny akibat dia kebingungan jika ditanya mengenai namanya membuat kesalahpahaman antara mereka. Juga masalah Ji Eun Tak yang perlahan terkuak satu rahasia, jika dia tidak mencabut pedang Goblin, maka dirinya lah yang akan terbunuh. Beberapa kali nama Eun Tak hadir dalam daftar Malaikat Pencabut Nyawa namun beberapa kali juga bisa terselamatkan akibat Goblin. Akhirnya setelah sekian lama, melalui berbagai rintangan, sempat terbunuh hingga akhirnya kembali, mereka dapat menyelesaikan segala masalah dan hidup bahagia dengan tenang.

Drama ini sangat saya apresiasi karena perbendaan genre dengan drama-drama yang lainnya. Goblin begitu berbeda, menggabungkan legenda korea dengan realitas kehidupan masa kini dan di kemas dalam cerita yang unik dan romantis. Unsur komedi masih hadir layaknya drama korea lain. Soundtrack lagu seperti I Miss You, Beautifull, Round and Round,Stay With Me, My Eyes, Hush, dan yang lainnya berhasil membuat drama ini hidup. Kemistri pemain antara Gong Yoo dan Kim Go Eun juga Lee Dong Wook dan Yoo In Na membuat drama ini semakin romantis dan menarik. konfliknya memang tidak terlalu berat, sangat berbeda dengan konflik D.O.T.S namun penulis dan sutradara mampu membuat film ini terlihat spesial walau dengan konflik yang cukup sederhana. Penonton diajak berimajinasi dan merasakan sakit sekaligus kekhawatiran sang aktor saat memerankan tokoh Goblin. Dan lagi, cerita ini juga memiliki alur yang tidak mudah ditebak. Beberapa kali perkiraan saya meleset saat menonton adegan demi adegan yang disuguhkan. Jadi, bagi saya film drama ini mempunya ciri khas dan keunikan tersendiri dalam penyampaiannya. 

Saya rekomendasikan untuk orang yang belum menonton drama Goblin, segera menontonnya dan utarakan pendapat kalian disini. Saya jamin, anda tidak akan menyesal setelah menonton drama ini haha.

Sekian dulu review drama Goblin menurut pendapat saya, mohon maaf jika tidak ada kesamaan dalam pendapat para pembaca sekalian. Thanks ^^

Kamis, 02 Maret 2017

Train to Busan: Karena Kasih Orang Tua Tidak Ada Batasnya

poster Train to Busan

Siapa yang tidak kenal dengan film yang sempat fenomenal di tahun 2016 ini? Train to Busan, film dengan genre action, suspense-thriller (namun menurut saya film ini bergenre horor) yang sukses membuat penonton terkagum-kagum. 

Film yang menceritakan seorang ayah bernama Seok-Woo (Gong Yoo) yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai hampir menelantarkan anak perempuannya yang bernama Soo-an. Bermula dari permintaan Soo-an yang ingin pergi ke Busan menemui ibunya bersama sang ayah di hari ulang tahunnya, sang ayah bertekad mengabulkannya meski dirinya berada di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Mereka berangkat menggunakan kereta listrik menuju Busan tepat hari dimana Soo-an berulang tahun. Namun, hal aneh terjadi ketika kereta berangkat, sang petugas kereta tiba-tiba saja diserang oleh makhluk aneh yang memangsa manusia. Disisi lain, tanpa diketahui oleh seorangpun, seorang wanita yang sudah terinfeksi virus memasuki kereta dan memangsa orang-orang. Dalam sekejap, keadaan kereta menjadi kacau dan mencekam, banyak manusia yang terkena virus, berubah menjadi zombie dan memangsa manusia yang masih hidup. Semua penumpang berusaha menyelamatkan diri, Seok-woo pun, seseorang yang terkenal keras kepala dan egois, ketika menghadapi situasi seperti itu, berubah menjadi sosok yang baik. Mengesampingkan ego dan berusaha untuk tidak memikirkan diri sendiri. Dalam perjalanan ke Busan yang menghadapi banyak rintangan, Seok-woo tetap melindungi sang anak dan orang-orang yang selamat untuk menuju Busan, tempat yang diprediksikan masih aman. Ketika akhirnya kereta harus berhenti secara terpaksa karena jalur kereta terhambat, sang masinis harus mengumumkan jika orang-orang yang selamat harus pindah kereta. Hal yang mendebarkan terus terjadi ketika zombie-zombie itu berkeliaran dan tetap memangsa manusia, korbanpun masih terus berjatuhan. Sampai satu persatu orang terinfeksi virus, Seok-woo juga harus mengalami nasib serupa akibat keegoisan seseorang yang mementingkan diri sendiri melebihi Seok-woo. Demi menyelamatkan anak dan istri temannya, dia bertahan melindungi keduanya dan mengorbankan tangannya yang menjadi sasaran sang zombie. 

Menguras air mata masih menjadi ciri khas film korea. Film ini benar-benar membuat saya terkagum terlebih ketika saya melihat judul dan genre film tersebut. Bagi saya, Train To Busan menjadi film korea pertama yang mengusung tema horor dan sukses di pasaran. Hal ini terbukti dari banyak jumlah penonton yang menonton film ini. Akting Gong Yoo sebagai ayah yang berani berkorban untuk anaknya menjadikan film ini penuh haru, terlebih ketika Seok-woo harus meninggalkan anaknya dengan terpaksa dan menjatuhkan diri dari kereta agar anaknya selamat. Film ini cukup sempurna bagi saya, benar-benar di luar prediksi. Ketika biasanya film-film korea mengusung tema percintaan dan romantisme, film ini mampu memberikan warna berbeda dari kebanyak film, katakanlah out of the box. Namun, walaupun film ini saya anggap sempurna, tetap saja ada kekurangan yang menjadikan saya sedikit tidak puas. Dalam cerita, tidak di visualisasikan penyebab virus itu menyebar, tidak dibuat flashback ketika perusahaan Seok-woo membuat biotech. Hal itu hanya diberitaukan melalui telepon, saat sekretarisnya, Kim memberitaukan jika wabah itu disebabkan oleh perusahaannya. Namun secara keseluruhan, film ini cukup sukses menghibur saya. Kepiawaian sang sutradara, editing dan effect sudah sangat bagus untuk membuat film ini menjadi lebih hidup dan sempurna.

Selasa, 28 Februari 2017

Istirahatlah Kata Kata: Perjuangan Seorang Widji Tukul

poster istirahatlah kata-kata


Menceritakan kisah aktivis sekaligus penyair Widji Tukul, film ini sukses membuat ribuan orang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menyaksikan kisah perjalanan hidup Widji Tukul. Film ini bermula dari ditetapkannya seorang Widji Tukul sebagai buronan negara akibat puisi-puisi yang beliau buat dianggap sebagai pemberontakan. Semasa hidupnya, Widji Tukul hidup berpindah, dari Solo kemudian ke Yogyakarta, sampai Kalimantan. Beliau hidup berpindah karena selalu di kejar aparat keamanan. Ketika hidup, dia harus hidup dengan menjadi orang lain, merubah identitas sampai penampilannya. Setiap rumah yang dia tinggali, dia harus bersiaga mencari pintu lain jika aparat menghampirinya lain kali atau menyiapkan tali untuk melompat kalau kalau dia dikejar. Tekad yang kuat membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Kerinduan dan kecintaannya pada Sipon, sang istri menjadikannya lebih kuat lagi. Sang istri pun demikian, kesetiaannya kepada sang suami menjadikannya perempuan kuat dan sabar walaupun beberapa kali rumahnya didatangi aparat dan di tanya kapan suaminya pulang. 

Film biografi pertama yang membuat saya penasaran ingin menontonnya, mengambil tema yang berani, film ini saya anggap cukup unik dengan kesuksesan yang patut diacungi jempol akibat peminatnya yang begitu banyak. Bayangkan saja, film ini awalnya direncanakan hanya tayang di satu bioskop di kota Bandung, namun akibat peminatnya yang begitu banyak, hari-hari berikutnya film ini tayang di tiga bioskop di kota Bandung. Namun sangat disayangkan, terdapat beberapa kekurangan yang membuat saya sedikti kecewa. Mengangkat biografi Widji Tukul, seharusnya film ini menceritakan "siapa itu Widji Tukul" bagaimana kisah hidupnya dari kecil, lahir dimana dan bagaimana kehidupannya sebagai penyair juga aktivis. Film ini hanya menceritakan kisah Widji Tukul saat dia menjadi buronan, dan di bagian akhirpun tidak di jelaskan bagaimana cara dia ditangkap pihak aparat sampai akhirnya beliau menghilang. Akhir dari film ini hanya diceritakan kapan sang Penulis di tangkap dan dinyatakan hilang sampai saat ini. Penggambarannya pun menurut saya sedikit kurang memuaskan jika menggambarkan setting tahun 1996 karena efek cahaya yang terlalu cerah. 

Namun, dibalik kekurangan itu semua, terdapat kelebihan yang membuat saya tidak keluar gedung sebelum film usai. Musik latar yang dihadirkan cukup membuat suasa sedih terasa nyatanya. Musik yang di ciptakan oleh Fajar Merah, anak dari Widji Tukul yang berkolaborasi dengan Cholil Mahmud, vokalis efek rumah kaca menambah kesan film ini menjadi menarik, epik serta mampu membawa suasana. Aktor yang memerankan Widji Tukul pun patut di acungi jempol karena pembawaannya yang cukup baik, tidak hanya akting, namun gesture juga cukup baik. 

Sekian review yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf apa bila ada review yang kurang berkenan dengan pembaca yang lain. Saya membuat review ini berdasarkan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasa. Terakhir, saya cukup megapresiasi atas Film Istirahatlah Kata-Kata, semoga perfilman Indonesia semakin lebih baik lagi.

"Simple Thing Called Love" by Anna Triana

Judul          : Simple Thing Called Love Penulis       : Anna Triana Penerbit      : Elex Media Komputindo ISBN          : 978 - 602 - 0...