Adalah malam yang selalu kulalui sepanjang usia ini, kadang malam hanya malam. Sepi. Sendiri tanpa cahaya bulang. Kadang malam datang dengan cahaya bulan yang elok dan indah.
20 tahun yang lalu, ketika matahari mulai lelah, aku lahir kedunia dengan sejuta doa dan harapan. Entah berapa banyak harapan yang tercurah entah berapa banyak kasih sayang yang kudapat dari mereka.
Bu, Yah.
Kini malaikatmu telah beranjak dewasa. Telah bisa memilih mana yang baik dan yang tidak. Telah dapat menjaga dirinya dari malam yang pekat juga hujan yang turun.
jangan khawatirkan aku lagi Bu, Yah. Terlebih untuk engkau wahai sang ayah aku telah tumbuh menjadi seorang wanita yang banyak disayangi orang lain. Aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang masih mencari apa arti cinta. Tenang lah kau di surga yah. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik baik saja.
Dan ketika malam ini tiba semua terasa spesial untuk ku juga untuk mereka. Aku yakin aku dapat melawan dunia diusiaku yang beranjak dewasa ini. Tak ada yang berubah dariku di usia ini
Aku masih sama seperti yang dulu
mencintai senja
Memuja hujan
Dan mengagumi pelangi
Terima kasih untuk cinta yang selalu tercurah. Terima kasih untuk pengorbanan seorang ayah dan ibu
Terima kasih untuk kasih sayang yangctak pernah berakhir
Doakan aku selalu sehat
doakan aku selalu sukses di kemudian hari
Terima kasih untuk semua. Keluarga, sahabat, teman juga cinta.
Aku mencintai kalian semua
Terima kasih
Bandung, 29 juni 2014
seorang wanita yang mempunyai mimpi menjadi penulis fiksi, suka traveling, kuliner juga mencari inspirasi di tempat yang belum banyak dikunjungi orang. Jangan lupakan greentea atau hot chocolate :) welcome to my world, saya harap kalian suka dengan apa yang saya tulis
JNGGA
Minggu, 29 Juni 2014
Senin, 23 Juni 2014
Cerita di Waktu Senja
Aku berlari ditengah koridor yang legang, sambil sesekali mengeluarkan seutas senyuman yang mengembang di bibir. Di belakangku berlari pula seorang pria dengan ekspresi yang tak jauh beda denganku. Kami berlari, saling mengejar, juga sambil tertawa. Untunglah keadaan fakultas sudah mulai sepi pada jam-jam ini sehingga aku dapat berlari dengan leluasa tanpa khawatir ada orang lain yang kutabrak. Pria yang kini mengejarku adalah kekasihku, kami resmi menjalin hubungan sekitar 3 bulan yang lalu. Aku mencintainya begitupun sebaliknyaa. Hidupku sangat berwarna setelah aku bertemu dengannya.
Akhirnya aku tiba di sebuah balkon di lantai atas fakultas kami, aku berhenti berlari dan memandang langit barat. Ah sinar matahari sore memang paling membuatku tenang. Warna jingga pun sangat lekat memenuhi ufuk barat. Tak lama ia pun ikut berdiri disampingku, memandang langit barat sama sepertiku. Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan seksama, bahagia juga bersyukur. Pria dengan tinggi semampai, berambut pendek namun rambutnya mulai panjang melebihi daun telinga, dengan kacamata menghiasi matanya adalah orang yang kusayangi. Dia terlihat tampan dengan menggunakan kaus putih dan berbalut jaket jeans belel yang sering ia pakai. Dia balik menatapku.
"Aku suka senja," ucapku seraya menatap langit barat.
"Aku tau, dan kamu merasa tenang jika angin sore menyentuh kulitmu." Ucapnya masih menatapku.
"Aku mencintaimu." Lanjutnya.
"Aku tau," jawabku "aku juga mencintaimu…"
"Tapi kau terlalu menyebalkan untuk kucintai." Ucapku kemudian sambil berlari lqgi meninggalkannya. Dia tampak kaget lalu detik berikutnya dia ikut berlari mengejarku. Aku berlari dengan riang. Aku berlari menyusuri koridor kemudia berbelok turun ke arah tangga. Satu per satu anak tangga kuturuni hingga sampailah pada anak tangga terakhir. Bersama dengan itu langkahku terhenti karna tanganku diraih olehnya. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang berhadapan dengan tangga yang kuturuni tadi. Dia merentangkan tangan kanannya disebelah kiriku, membiarkan aku dalam kurungannya. Aku tak bisa minghindar darinya karna disebelah kananku terdapat pintu kaca yang menghubungkan antra koridor dan balkon gedung fakuktasku yang sudah di kunci oleh petugas, didepanku menjulang tubuh tingginya yang sekarang memghadapku. Aku menyandarkan tubuhku lebih erat lagi pada tembok. Dia nampak marah sekarang, matanya berkilat menatap mataku tajam. Aku mengigit bibir. Dia mendekatkan kepalanya hingga sejajar dengan kepalaku.
"Kamu nakal juga ya?" Ucapnya tandas. Kilatan matanya semakin terlihat jelas dan nampak seperti mata elang.
"Tapi walaupun begitu sayangnya aku tetap mencintaimu," suaranya melembut kemudian tersenyum. Dengan sekejap kilatan dimatanya pun sirna entah kemana dan tergantikan oleh tatapan yang menatapku penuh rasa sayang. Aku tersenyum. Kemudian dia mulai menatapku serius. Kepalanya mendekat ke arahku. Aku hanya bisa mematung. Mataku menatapnya tepat di manik mata. Wajah kami perlahan mendekat dan sekarang hanya berjarak 10 cm, dia masih mencoba membunuh jarak yang ada pada wajah kami. Koridor itu sudah mulai gelap, lampu-lampu koridor sudah dimatikan sebagian. Cahaya matahari senja masuk melalui pintu kaca balkon. Aku dapat melihat wajah seriusnya dengan jelas. Perlahan aroma tubuhnya menyeruak masuk melalui hidungku. Tercium aroma maskulin khas pria yang tak asing dihidungku. Parfum khas cowok yang selalu dia gunakan setiap saat. Wajah kami semakin mendekat, perlahan dia menempelkan bibirnya pada bibirku, mengecupnya dengan lembut. Sangat sangat lembut hingga aku dapat merasakan tekstur bibirnya yang menempel pada bibirku. Bibir kami saling bertautan di tengah indahnya langit sore. Ciuman yang hangat. Kami saling merasakan bibir kami satu sama lain. Perlahan aku mulai perpegangan pada jaket jeans belelnya, hanya suara nafasnya yang kudengar dan sentuhan lembut jarinya dileherku yang sesekali mengusap pipiku. Hangat dan nyaman. Perlahan dia melepaskan bibirnya dari bibirku kemudian tersenyum setelah melihat mataku.
"Aku mencintaimu," kemudian dia mengecup keningku sambil memangdangku penuh rasa sayang.
"Pulang yu udah sore," ucapnya lagi. Lalu kemudian mengenggam tanganku erat. Kami berjalan menyusuri koridor dengan hati yang tenang. Dengan perasaan bahagia di hati kami masing-masing. 'Senja yang indah' pikirku. Kami berjalan dengan ringan dan dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Cerita senja memang menarik untuk diarungi, cahayanya yang tak terlalu terik membuat siapapun kagum. Dan senja di sore ini menjadi senja paling indah yang hidup dalam ingatanku. Entah kapan dan bagaimana akhir dari cerita kami. Akankah berakhir bahagia atau mungkin tidak. Tak ada yang tau tentang hal ini.
"Aku juga mencintaimu," ucapku yakin.
-tamat-
Akhirnya aku tiba di sebuah balkon di lantai atas fakultas kami, aku berhenti berlari dan memandang langit barat. Ah sinar matahari sore memang paling membuatku tenang. Warna jingga pun sangat lekat memenuhi ufuk barat. Tak lama ia pun ikut berdiri disampingku, memandang langit barat sama sepertiku. Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan seksama, bahagia juga bersyukur. Pria dengan tinggi semampai, berambut pendek namun rambutnya mulai panjang melebihi daun telinga, dengan kacamata menghiasi matanya adalah orang yang kusayangi. Dia terlihat tampan dengan menggunakan kaus putih dan berbalut jaket jeans belel yang sering ia pakai. Dia balik menatapku.
"Aku suka senja," ucapku seraya menatap langit barat.
"Aku tau, dan kamu merasa tenang jika angin sore menyentuh kulitmu." Ucapnya masih menatapku.
"Aku mencintaimu." Lanjutnya.
"Aku tau," jawabku "aku juga mencintaimu…"
"Tapi kau terlalu menyebalkan untuk kucintai." Ucapku kemudian sambil berlari lqgi meninggalkannya. Dia tampak kaget lalu detik berikutnya dia ikut berlari mengejarku. Aku berlari dengan riang. Aku berlari menyusuri koridor kemudia berbelok turun ke arah tangga. Satu per satu anak tangga kuturuni hingga sampailah pada anak tangga terakhir. Bersama dengan itu langkahku terhenti karna tanganku diraih olehnya. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang berhadapan dengan tangga yang kuturuni tadi. Dia merentangkan tangan kanannya disebelah kiriku, membiarkan aku dalam kurungannya. Aku tak bisa minghindar darinya karna disebelah kananku terdapat pintu kaca yang menghubungkan antra koridor dan balkon gedung fakuktasku yang sudah di kunci oleh petugas, didepanku menjulang tubuh tingginya yang sekarang memghadapku. Aku menyandarkan tubuhku lebih erat lagi pada tembok. Dia nampak marah sekarang, matanya berkilat menatap mataku tajam. Aku mengigit bibir. Dia mendekatkan kepalanya hingga sejajar dengan kepalaku.
"Kamu nakal juga ya?" Ucapnya tandas. Kilatan matanya semakin terlihat jelas dan nampak seperti mata elang.
"Tapi walaupun begitu sayangnya aku tetap mencintaimu," suaranya melembut kemudian tersenyum. Dengan sekejap kilatan dimatanya pun sirna entah kemana dan tergantikan oleh tatapan yang menatapku penuh rasa sayang. Aku tersenyum. Kemudian dia mulai menatapku serius. Kepalanya mendekat ke arahku. Aku hanya bisa mematung. Mataku menatapnya tepat di manik mata. Wajah kami perlahan mendekat dan sekarang hanya berjarak 10 cm, dia masih mencoba membunuh jarak yang ada pada wajah kami. Koridor itu sudah mulai gelap, lampu-lampu koridor sudah dimatikan sebagian. Cahaya matahari senja masuk melalui pintu kaca balkon. Aku dapat melihat wajah seriusnya dengan jelas. Perlahan aroma tubuhnya menyeruak masuk melalui hidungku. Tercium aroma maskulin khas pria yang tak asing dihidungku. Parfum khas cowok yang selalu dia gunakan setiap saat. Wajah kami semakin mendekat, perlahan dia menempelkan bibirnya pada bibirku, mengecupnya dengan lembut. Sangat sangat lembut hingga aku dapat merasakan tekstur bibirnya yang menempel pada bibirku. Bibir kami saling bertautan di tengah indahnya langit sore. Ciuman yang hangat. Kami saling merasakan bibir kami satu sama lain. Perlahan aku mulai perpegangan pada jaket jeans belelnya, hanya suara nafasnya yang kudengar dan sentuhan lembut jarinya dileherku yang sesekali mengusap pipiku. Hangat dan nyaman. Perlahan dia melepaskan bibirnya dari bibirku kemudian tersenyum setelah melihat mataku.
"Aku mencintaimu," kemudian dia mengecup keningku sambil memangdangku penuh rasa sayang.
"Pulang yu udah sore," ucapnya lagi. Lalu kemudian mengenggam tanganku erat. Kami berjalan menyusuri koridor dengan hati yang tenang. Dengan perasaan bahagia di hati kami masing-masing. 'Senja yang indah' pikirku. Kami berjalan dengan ringan dan dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Cerita senja memang menarik untuk diarungi, cahayanya yang tak terlalu terik membuat siapapun kagum. Dan senja di sore ini menjadi senja paling indah yang hidup dalam ingatanku. Entah kapan dan bagaimana akhir dari cerita kami. Akankah berakhir bahagia atau mungkin tidak. Tak ada yang tau tentang hal ini.
"Aku juga mencintaimu," ucapku yakin.
-tamat-
all about situation
Terlalu berkecamuk
Terlalu sesak dan terlalu menyakitkan
Aku terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku terlalu naif untuk percaya pada kata katamu
Dan aku terlalu bocah untuk percaya pada semua yang kau ucapkan.
Aku malu pada bulan yang menemaniku setiap malam, mengetahui apa yang aku lakukan
kadang dia ikut tersenyum melihat tingkahku
kadang dia terdiam seperti tau akan sesuatu. Aku tak menyalahkanmu atas semua yang kau lakukan, salahku juga mengapa aku terlalu naif padamu.
Aku terlalu egois untuk menghiraukanmu
Terlalu egois untuk melepaskanmu pada kekasihmu, terlalu egois untuk menyia nyiakanmu saat kau hadir
Tapi bukankah kau sudah tau akan perasaanku?
Lantas mengapa kau sengaja datang padaku dan menggodaku? Bukankah itu tak baik?
Seberapa kuat aku melupakanmu nyatanya aku selalu luluh olehmu
Bahkan aku selalu lupa dengan perasaan yang kuberikan terhadap orang lain. Kadang aku berfikir mungkinkah kau mempunyai perasaan yang sama senganku?
Tapi itu mustahil, kau sudah bersama dengan yang lai tak mungkin kau ingin bersamaku. Lantas mengapa kau begitu?
Jujur aku terlalu takug untuk kehilanganmu. Rasa sukaku terhadapmu yang perlahan gugur kini mulai tumbuh seiring kau yang selalu hadir dalam mimpiku, dalam bayanganku dan dalam imaji imajiku.
Aku terlalu lemah untuk menolak, terlalu takut untuk kehilangan dan terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku mencintaimu. Iya sudah kukatakan sejak dulu, kau juga tau akan hal itu.
Lantas sekarang bagaimana? Haruskah kuikuti ego ku? Atau harus kuikuti perasaanku?
Aku tak tahu. Terlalu rumit untuk kujalani
Terlalu sesak dan terlalu menyakitkan
Aku terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku terlalu naif untuk percaya pada kata katamu
Dan aku terlalu bocah untuk percaya pada semua yang kau ucapkan.
Aku malu pada bulan yang menemaniku setiap malam, mengetahui apa yang aku lakukan
kadang dia ikut tersenyum melihat tingkahku
kadang dia terdiam seperti tau akan sesuatu. Aku tak menyalahkanmu atas semua yang kau lakukan, salahku juga mengapa aku terlalu naif padamu.
Aku terlalu egois untuk menghiraukanmu
Terlalu egois untuk melepaskanmu pada kekasihmu, terlalu egois untuk menyia nyiakanmu saat kau hadir
Tapi bukankah kau sudah tau akan perasaanku?
Lantas mengapa kau sengaja datang padaku dan menggodaku? Bukankah itu tak baik?
Seberapa kuat aku melupakanmu nyatanya aku selalu luluh olehmu
Bahkan aku selalu lupa dengan perasaan yang kuberikan terhadap orang lain. Kadang aku berfikir mungkinkah kau mempunyai perasaan yang sama senganku?
Tapi itu mustahil, kau sudah bersama dengan yang lai tak mungkin kau ingin bersamaku. Lantas mengapa kau begitu?
Jujur aku terlalu takug untuk kehilanganmu. Rasa sukaku terhadapmu yang perlahan gugur kini mulai tumbuh seiring kau yang selalu hadir dalam mimpiku, dalam bayanganku dan dalam imaji imajiku.
Aku terlalu lemah untuk menolak, terlalu takut untuk kehilangan dan terlalu bodoh untuk kau bohongi
Aku mencintaimu. Iya sudah kukatakan sejak dulu, kau juga tau akan hal itu.
Lantas sekarang bagaimana? Haruskah kuikuti ego ku? Atau harus kuikuti perasaanku?
Aku tak tahu. Terlalu rumit untuk kujalani
Rabu, 23 April 2014
Rintik Hujan
Ini yang aku takutkan sejak awal, jatuh cinta pada orang orang yang ada di sekitarku. Aku tak tau sejak kapan perasaan ini muncul, sejak kapan rasa ini hadir dalam jiwaku hingga menyatu dengan darahku.
Entah sejak kapan pula aku rela menunggunya hingga perkuliahannya usai walau aku tau dia tak menyadarinya akan hal itu, aku bersedia pulang larut malam hanya untuk menunggunya hingga dia selesai latihan. Semua kulakukan hanya untuk melihat dan bersamanya lebih lama, tak masalah jika kita tak saling bicara minimal mata kami bertemu dalam waktu sepersekian detik dan bertukar senyum. Aku punya banyak waktu untuk menunggu. Salah! justru waktuku hampir habis. Cepat atau lambat aku akan melihatnya berjalan bersama wanita lain, akan ada wanita lain yang menggenggam tangannya dengan erat dan tertawa ria dengannya, cepat atau lambat dia akan menemukan pricesnya yang tentu saja lebih baik dari aku. Lantas bagaimana dengan aku? Aku akan terpuruk dalam penyesalan, meratapi nasib dan mulai berdamai dengan ego. Walau aku tau perang antara hati dan ego sulit dimenangkan. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui siapa pemenangnya. Sore itu, aku masih menatap rintik hujan dari balik jendela. 'ah mengapa aku berfikir demikian?' gumamku dalam hati.
Agar kau menyiapkan hatimu jika sesuatu yang buruk terjadi.
Aku tersentak mendengar jawaban hati kecilku. Perlahan mataku mulai basah oleh air mata yang akan segera keluar. Cepat cepat aku menghapusnya begitu air mataku turun. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan ke arahku lalu berdiri tepat di sampingku.
"Sedang apa?" tanyanya seraya menatapku.
"Melihat rintik hujan" ujarku datar. Kutatap dia yang kemudian menatap hujan sama sepertiku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, yang terdengar adalah suara rintik hujan yang sejak tadi bersahabat dengan telingaku. Aku kembali pada lamunanku tentangnya. Tentang dia yang kini ada di sampingku.
Bandung, 2014
Entah sejak kapan pula aku rela menunggunya hingga perkuliahannya usai walau aku tau dia tak menyadarinya akan hal itu, aku bersedia pulang larut malam hanya untuk menunggunya hingga dia selesai latihan. Semua kulakukan hanya untuk melihat dan bersamanya lebih lama, tak masalah jika kita tak saling bicara minimal mata kami bertemu dalam waktu sepersekian detik dan bertukar senyum. Aku punya banyak waktu untuk menunggu. Salah! justru waktuku hampir habis. Cepat atau lambat aku akan melihatnya berjalan bersama wanita lain, akan ada wanita lain yang menggenggam tangannya dengan erat dan tertawa ria dengannya, cepat atau lambat dia akan menemukan pricesnya yang tentu saja lebih baik dari aku. Lantas bagaimana dengan aku? Aku akan terpuruk dalam penyesalan, meratapi nasib dan mulai berdamai dengan ego. Walau aku tau perang antara hati dan ego sulit dimenangkan. Butuh waktu yang lama untuk mengetahui siapa pemenangnya. Sore itu, aku masih menatap rintik hujan dari balik jendela. 'ah mengapa aku berfikir demikian?' gumamku dalam hati.
Agar kau menyiapkan hatimu jika sesuatu yang buruk terjadi.
Aku tersentak mendengar jawaban hati kecilku. Perlahan mataku mulai basah oleh air mata yang akan segera keluar. Cepat cepat aku menghapusnya begitu air mataku turun. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan ke arahku lalu berdiri tepat di sampingku.
"Sedang apa?" tanyanya seraya menatapku.
"Melihat rintik hujan" ujarku datar. Kutatap dia yang kemudian menatap hujan sama sepertiku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, yang terdengar adalah suara rintik hujan yang sejak tadi bersahabat dengan telingaku. Aku kembali pada lamunanku tentangnya. Tentang dia yang kini ada di sampingku.
Bandung, 2014
Selasa, 22 April 2014
Selamat Malam
Selamat malam sayang
Bolehkah aku memikirkanmu saat ini kemudian memasukanmu pada mimpi ku?
Kau akan berlari kesana kemari di tengah pantai yang luas dan ditemani oleh seorang wanita yang setia menunggumu dengan sabar yang tak lain adalah aku
Aku dan kamu akan mengarungi mimpi dengan bahagia dan penuh cinta
Kau akan kubiarkan hidup dalam kebahagiaan dan kasih sayang.
Sayang, jangan kau pergi dari mimpiku karna kau tak akan menemukan tempat terbaik selain dalam mimpiku.
Sayang, maukah kau menemaniku dalam mimpi, memadu kasih dan bercumbu cinta denganku? Kau akan menggenggam erat tanganku dan membisikan kata cinta di setiap waktunya dengan mesra, dengan senyum, juga dengan waktu yang tak kunjung usai. Kita akan terus bersama hingga kita lupa bagaimana caranya berpisah dan tetap berada dalam mimpi hingga kita enggan untuk terbangun
Bolehkah aku memikirkanmu saat ini kemudian memasukanmu pada mimpi ku?
Kau akan berlari kesana kemari di tengah pantai yang luas dan ditemani oleh seorang wanita yang setia menunggumu dengan sabar yang tak lain adalah aku
Aku dan kamu akan mengarungi mimpi dengan bahagia dan penuh cinta
Kau akan kubiarkan hidup dalam kebahagiaan dan kasih sayang.
Sayang, jangan kau pergi dari mimpiku karna kau tak akan menemukan tempat terbaik selain dalam mimpiku.
Sayang, maukah kau menemaniku dalam mimpi, memadu kasih dan bercumbu cinta denganku? Kau akan menggenggam erat tanganku dan membisikan kata cinta di setiap waktunya dengan mesra, dengan senyum, juga dengan waktu yang tak kunjung usai. Kita akan terus bersama hingga kita lupa bagaimana caranya berpisah dan tetap berada dalam mimpi hingga kita enggan untuk terbangun
Minggu, 23 Maret 2014
Tunggang Gunung
Macét. Hiji kecap anu basajan. Kecap nu geus ilahar dina implengan. Kuring diuk di tukangeun setir mobil bari nempokeun rupa-rupa anu aya di sakuriling. Jam 5. Wanci tunggang gunung, jam na manusa baralik ka imah pikeun istirahat. Rét kuring ngarérét ka béh kénca, katembong mobil-mobil anu ngantai nungguan mobil hareupna maju. Rét kuring ngarérét ka béh katuhu, katémbong barudak leutik anu néang rejeki, ménta duit atawa mawa dagangan sangkan manéhna bisa dahar. Layung geus tingburisat di belah wétan, mawakeun warna konéng anu ngagurat dina langit. Ngaguratkeun kaéndah éstuning diri. Angin ngahiliwir asup kana kaca mobil, nyéak kanu jadi kulit tur niup nyingkabkeun buuk karasana tiis kanu jadi beuheung. Kapireng ciricitna sora manuk anu rék baralik ka sayangna séwang-séwangan. Mawara kadahareun pikeun sobat-sobat dina tangkal camara. Ah asa hayang gera-gera nepi imah. Mandi tuluy reureuh dina implengan.
Jag! Kuring ngarénjag reuwas basa aya budak napelkeun leungeuna dina kaca. Beungeutna anu caludih antel dina kaca mobil. Kuring melongkeun manéhna, keuheul tur reuwas. Budak nu di tinggalikeun ukur nyéréngéh tuluy indit bari babarakatakan.
“Teu sopan!” Kedal kuring. Teu lila datang budak anu séjén, ngetrok kana kaca jandéla.
Tok, tok, tok. Kuring nyokot duit sarébu dina dasboard mobil, tuluy nurunkeun kaca mobil.
“Téh, gaduh impénan?” Ceuk manéhna basa kaca mobil diturunkeun. Kuring kerung, anéh kana éta patalékan.
“Tétéh gaduh impénan?” Ceuk éta budak sakali deui.
“Kénging nyuhunkeun impénan téh?”
Kuring beuki bingung. Buru-buru kuring ngasongkeun duit sarébu, tapi éta budak angger cicing siga patung. Barang kaca mobil rék ditutup manéhna nahan kaca ku leungeun sangkan kaca mobil teu kuring tutup.
“Tétéh gaduh impénan?” Kedal manéhna rada tarik. Panona molotot ka kuring. Sorot panona seukeut kawas manuk heulang anu nyoro kadaharana. Lampu beureum geus ganti héjo, klakson geus disada di mana-mana. Kuring buru-buru nincak pedal gas tuluy maju ninggalkeun éta budak anu masih melongkeun kuring.
***
Sora jarum jam kapireng. Nanceb dina pangregep, antel dina pangdangu. Jam 11 peuting. Di luar hujan ngaririncik mawa kawaas dina haté, mawa rasa cinta anu teu kapaliré. Kuring geus ngagolér dina kasur. Awak geus dibuntel ku simbut. Kuring masih kénéh nyileuk ninggalikeun jarum jam anu teu eureun-eureun nuduhkeun waktu. Hawar-hawar kapireng sora anjing babaung dina waktu anu ampir tengah peuting, teuing dimana ayana, boa jauh di sisi kota boa jauh di tengah kota. Teu tinggaleun ogé sora dangdaunan dina tangkal anu paadu jeung kaca jandéla. Lir ibarat jalma anu keketrok ménta tulung sangkan kuring hudang dina implengan. Kuring garénjag reuwas. Sakapeung mah kuring ngarasa asa aya nu ningalikeun. Rét baé kana jandéla. Barang ditingali bener wéh aya nu melongkeun di luar jandéla kamar. Awakna leutik, jangkungna kira-kira sacangkéng.
“Naha siga budak anu tadi? Naha enya manéhna nuturkeun kuring nepi ka imah? Rék naon éta budak datang kadieu?” Kedal kuring di jero haté. Kuring nyingkabkeun simbut terus turun tina kasur. Lalauna kuring nyampeurkeun jandéla, tuluy nyingkabkeun hordéng. Bét anéh éta budak téh jadi euweuh. Rét ka handap melongkeun buruan sepi euweuh sasaha, ngan cai hungkul anu ngareclak ti langit. Barang rét ka panto gerbang budak nu tadi téh aya. Melongkeun kuring bari gugupay tuluy lumpat ka kalér. Kuring reuwas, naha bét asa keueung peuting ieu. Buru-buru kuring nutup hordéng tuluy naék deui ka kasur bari dikurubun ku simbut.
“Téh gaduh impénan? Kuring nyungkeun! Gaduh impénan? Mana impénan kuring?” Hawar-hawar kapireng sora manéhna anu ménta impénan cara tadi soré. Kuring beuki dikurubun ku simbut sabisa-bisa babacaan. Teu lila sora éta ngaleungit. Jep jempling taya sora lian anu kapireng, salian ti sora jarum jam anu terus ngurilingan waktu.
***
Sora manuk kapireng ciciricitan. Rajeg tangkal nu maluguran. Tapi angger kénéh panon poé patingpelentran, nyentangan sakabéh nu aya didinya. Norobos kalakay dug tembus jandéla. Sakapeung aya nu antel kana leungeun. Mawa rasa haneut kanu jadi daging, mawa tentrem kanu jadi manah. Kuring teu maliré. Masih sibuk mikiran budak éta. Budak anu ngetrok kaca jandéla di lampu stopan. Budak anu tadi peuting datang ka imah, cicing dina hareupeun gerbang bari gugupay. Budak anu terus nanya kuring boga impénan atau henteu? Naha éta budak bet nanya kitu? Bet ménta impénan ka kuring? Kapan unggal jalma gé boga impénan séwang-séwangan, kaasup manéhna. Naha maké kudu ménta ka batur sagala? Baluweng. Kuring baluweng, loba teuing hal anéh nu teu kaharti ku akal.
“Wooy!!”
“Aaaah!” Kuring ngajerit ampir ngajorowok bakating ku reuwas. Keuheul ogé ka Didon anu ngareureuwas kuring. Mun lain babaturan ti leutik geus di gebug.
“Don, nanaonan sih? Ngareureuwas waé!” Ceuk kuring bari camutut.
“Hampura atuh Lit, heureuy Didon mah.” Tembalna bari nyéréngéh.
“Teu lucu Don teu lucu!”
“Atuuh da Alit mah titatadi di sauran ku Didon téh teu ngalieuk waé. Meni sibuk ku lamunan. Ngalamun naon sih? Si Adam nya?” Kuring ngagodér leungeuna basa manéhna nyebut ngaran Adam, babaturan kuring nu bogoheun ka kuring ti mimiti asup kampus.
“Hus sembarangan! Teu lah, nanaonan mikiran si Adam?”
Didon ngan ukur jebi bari seuri. Jep. Jempling. Si Didon geus sibuk deui kana kertasna nu pinuh ku tulisan.
“Don.” Kuring nepak leungeuna. Nu digeroan ngan ukur ngalieuk bari seuri.
“Don kamari kuring papanggih jeung budak leutik. Lalaki, tapi anéh.” Kedal kuring.
“Budak leutik? Lalaki? Dimana?” Tembalna bari kerung.
“Eta di stopan anu deuk ka imah kuring geuning.”
“Oh enya enya apal. Anéh kunaon kitu?”
“Nya anéh wéh, manéhna nanyakeun impénan ka kuring. Kuring boga impénan teu? Kitu cenah. Ku kuring di béré duit téh embungeun kalakah keukeuh wéh nanyakeun waé éta bari ménta impénan ka kuring.”
“Oh éta mah si Hérman atuh, émang kitu da manéhna mah, barang pénta téh lain duit tapi impénan.”
“Impénan? Naha?” Kuring kerung beuki bingung kana nu diomongkeun si Didon.
“Enya impénan. Duka teu apal kunaon-naon na mah. Geus lah budak teu hideng éta mah teu kudu dipikiran, da ka kabéh gé kitu lain ka manéh waé.”
“Tapi Don kamari...”
“Enggeus Lit tong dipikiran mending fokus ayeuna mah nya. Hal teu penting éta téh.”
Didon tuluy fokus deui kana bukuna. Kuring beuki baluweng ngadéngé nu diobrolkeun Didon. Naha enya éta budak téh ngan saukur budak teu hideng? Tapi mun enya kitu naha manéhna kudu datang ka imah sagala tuluy gugupay? Rék ngajak kuring kamana éta budak téh maké gugupayna kudu ka kuring? Kuring tuluy teuleum dina hiji pikiran. Pikiran ngeunaan Hérman.
Waktu geus maju kana soré. Wanci tunggang gunung, saperti biasa, basa layung ngagurat di belah wétan, lalaunan angin nyéak kana daging, nyingkabkeun kasono anu bebas ngagantung dina sukma. Huh jam sakieu pasti macét. Hiji hal anu basajan distopan ieu mah. Kuring ngarandeg kana jok mobil, muka hapé bisi aya SMS . Euweuh. Kosong. Euweuh SMS atawa telepon keur kuring. Simpé. Jep asa jempling. Ras kuring inget kana kajadian kamari. Inget ka Hérman anu keketrok ménta impénan. Eh enya kamana Hérman? Asa sinarieun euweuh. Rét ka béh kénca. Euweuh. Ka tukang komo deui. Kuring luak-lieuk ka sakuriling stopan. Rét panon kuring fokus ka hiji titik. Titik dimana aya budak melongkeun kuring ti halteu nu aya saacan jembatan. Hérman. Budak anu ku kuring ditéangan, ayeuna aya keur melongkeun kuring. Panon kuring paadu jeung manéhna. Kuring buru-buru ngajalankeun mobil basa manéhna gugupay tuluy nyampeurkeun mobil kuring lalaunan.
***
Hujan ngaririncik di tengah peuting, mawa angin nu kaselip simpé. Tiisna peuting, nyecep kanu jadi manah tuluy teuleum dina jero sukma. Ngabirigidig. Matak tiis karasana matak jempling kasebutna. Bulan jeung bentang teu tembong, nyumput di tukangeun hujan anu maluguran tuluy anclub kana méga. Kuring masih diuk nyanghareupan laptop basa sora daun gegedor dina jandéla kamar. Poék teu katempo nanaon di luar jandéla, kuring ngadeukeutan jandéla lalaunan. Paur aya Hérman datang deui. Tapi ah moal meureun kapan si Hérman téh budak teu hideng, rék naon manéhna ngadatangan kuring deui? Tapi bet asa panasaran haté téh. Kuring lalaunan nyingkabkeun hordéng.
“Aaaa.” Kuring ngarenjag basa tangkal jambu ngagodér jandéla, katebak angin. Rét ka gerbang anu aya di buruan. Deg. Kuring ngarandeg. Teu bisa usik basa Hérman melong ka kuring hareupeun gerbang. Kuring reuwas tur bingung. Manehna ngagupayan kuring tuluy indit bari lumpat. Deg. Asa dungdeng ieu sirah. Bungbeng. Aneh. Poék. Kabeh nu aya didieun ngadadak jadi poék, suku anu jejeg ngadadak jadi leuleus. Kuring ngagubrag. Taya deui anu katempo salian ti caangna lampu anu aya di luar. Taya deui anu kapireng salian ti sora hujan anu ngageretek jeung sora jarum jam anu terus usik taya kacapé.
***
“DIDON!” Ceuk kuring basa ninggali Didon keur leumpang di koridor. Kuring lumpat nyampeurkeun manéhna.
“Aya naon Lit?”
“Hm Don, ieu soal Hérman. Enya manéhna téh ngan jelema teu hideng?”
“Aduh Alit di bahas kénéh waé, kan...”
“Lain kitu Don, lain masalah éta jelema teu hideng atau lain, tapi geus dua peuting Hérman datang ka imah kuring. Masih ménta impénan.”
“Ah moal mungkin Lit, éta mah titinggalieun meureun.”
“Heunteu Don, kuring teu bohong, éta bener Hérman.”
Didon cicing sakeudeung. Gideug lalaunan tuluy indit ninggalkeun kuring nu olohok kénéh di koridor. Angin asup kana sela-sela jandéla, nyéakeun katiis kana jero daging. Jep. Langsung nyecep kana jadi getih. Tuluy cicing dina ngarana manah. Kuring buru-buru ninggalkeun koridor, indit ka garasi tuluy naék kana mobil saenggeus pantona kuring buka koncina. Buru-buru kuring muter konci mobil tuluy nincak pedal gas. Pokona peuting ayeuna kudu beres. Kuring kudu apal naha Hérman ménta impénan ka kuring.
***
Jam 5 sore. Saperti biasa kuring eureun di lampu stopan. Macét. Hal anu basajan jam sakieu mah. Kuring luak-lieuk néangan Hérman. Naha kamana éta budak? Biasana jam sakieu téh sok geus aya di halteu éta. Kuring ngadagoan. Rét ka belah kénca katingal barudak arulin di sisi jalan, teuing arulin teuing bagi hasil. Rét ka belah katuhu, layung tingburisat lir ibarat koas nu ngagurat dina kanvas. Rét deui ka halteu euweuh kénéh waé si Hérman téh. Naha kamana éta budak, na kamana inditna? Lampu geus nandakeun héjo, kuring maju ngaliwatan jalan anu geus ilahar na émutan kuring, jalan nu geus kaliwatan ku kuring salila 23 taun. Kuring mimiti asup ka komplék imah anu geus ngurus kuring salila 23 taun ka tukang, néangan imah warna héjo tuluy ngeureunkeun mobil dihareupeun panto gerbang, kuring turun tina mobil. Lalaunan muka gembok gerbang tuluy disérédkeun éta panto téh sangkan mobil bisa asup. Kuring ngasupkeun mobil tuluy di parkirkeun di hareupeun garasi. Keun lah moal waka di asupkeun da siang kénéh. Kuring asup ka imah tuluy indit ka kamar. Ngagubragkeun manéh kana kasur bari peureum. Ngimpleng anu kaimpleng. Hérman. Budak leutik anu geus dua peuting ka impleng ku kuring. Aya pamaksudan naon manéhna ka kuring? Rék naon manéhna datang ka kuring unggal peuting? Naha enya budak téh ngan saukur budak teu hideng? Asa teu kaasup ku akal. Kuring mimiti teuleum dina pikiran sorangan. Reup kuring saré. Euweuh deui sora nu kapireng salian ti sora jam anu moal simpé nepi ka iraha ogé.
***
Jag. Kuring hudang. Rada linglung. Asa beurat ieu sirah. Kuring kekerejepan. Ngan lalangit anu katempo ku kuring. Poék. Saeusi kamar ieu poék. Kuring hudang tuluy ninggali kana jam anu kasorot ku lampu luar. Jam 12 kurang 10. Di luar hujan ngaririncik kénéh. Désémber. Bulan anu nyorang hujan. Kuring kakarayapan dina témbok néangan saklar. Rék ngahurungkeun lampu maksudna mah. Barang rét kana jandéla kuring panasaran. Kuring leumpang, tuluy nempo buruan anu baseuh ku cai hujan. Barang rét ka gerbang kuring ningali jalma nu ku kuring di téangan ti tadi soré. Hérman. Manéhna cicing di hareupeun gerbang. Manéhna melongkeun ka kuring nu keur olohok teu percaya ninggalikeun manéhna. Beretek kuring lumpat kaluar kamar nurunan tangga deuk ngudag Hérman. Kuring muka konci panto imah. Deg. Kuring ngarandeg basa ninggali Hérman aya hareupeun gerbang. Awakna leutik, bajuna baseuh beunang cai hujan. Buru-buru kuring muka konci gerbang, barang ninggali ka hareup Hérman geus euweuh. Kuring muka gerbang tuluy lumpat satarikna ngudag Hérman. Teu paduli awak baseuh beunang cai hujan. Kuring lumpat ka kalér, néangan Hérman anu teuing lumpat kamana. Bray kuring nepi stopan nu biasa kuring liwatan. Stopan anu deukeut halteu. Témpat biasa Hérman cicing melongkeun kuring.
“Di tempat ieu. Di tempat ieu kuring nungguan.” Kapireng sora budak ditukangeun kuring. Deg. Kuring ngarandeg. Rét baé kuring ngarérét ka tukang. Kuring reuwas ningali Hérman cicing di halteu. Dina poék. Panona neuteup jalan. Sorot panona kosong. Ngimpleng hiji hal.
“Di témpat ieu kuring boga impénan. Di témpat ieu ogé kuring leungit impénan. Bapa. Kuring sono ka bapa. Bapa anu ayeuna teuing dimana ayana, teuing kumaha kaayaana. Boa hirup kénéh, boa geus paéh. Bapa nu ngajangjikeun impénan keur kuring, tapi bapa ogé anu mupuskeun impénan ka kuring. Unggal wanci tunggang gunung, kuring nungguan bapa, kuring…” kedalna bari ceurik.
Kuring cicing. Matung kawas patung. Bingung. Baluweng. Kudu kumaha kuring ayeuna. Lalaunan kuring ngadeukeutan Hérman. Lalauna leungeun kuring diangkat, rék ngusap huluna.
“Hérman…” Ceuk kuring bari rada cirambay. Nu di geroan ujug-ujug ngalieuk. Melong kuring. Panona jadi seukeut tuluy lumpat deui ka arah jembatan. Kuring gudag manéhna. Teu maliré keclak-keclak cai hujan nu seukeut nubles awak kuring.
Manéhna eureun di sisi jembatan bari nyanghareup ka handap. Nempokeun walungan anu caina deres. Nukangan kuring.
“Di dieu. Pas pisan didieu indung kuring ninggalkeun kuring. Ninggalkeun patalékan anu teu kawaler ngeunaan bapa. Bari ceurik indung kuring muragkeun manéh kana deresna cai di handap. Unggal poé kuring nanyakeun impénan. Kuring ménta impénan ka unggal jalma. Sugan aya nu bisa méré impénan ka kuring salian ti bapa. Tapi kanyataanana euweu. Euweuh nu bisa méré impénan ka kuring. Batur kalakah nganggap kuring jalma teu hiding, gelo, stress sabab kuring ménta impénan.” Pokna deui.
Sora hujan beuki kapireng. Angin peuting beuki nyéak mawa tiris kanu jadi raraga. Haneutna cipanon geus teu karasa deui. Katutupan ku tiisna cai hujan anu nyecep dina pipi. Ngan tonggong Hérman anu katempo ku kuring, manéhna nyarita ka kuring bari nukangan kuring.
“Basa soré éta, basa kuring mimiti papanggih jeung tétéh, kuring yakin tétéh bisa méré impénan. Hiji impénan anu di anti-anti ku kuring. Peupeuriheun kuring teu bisa nanaon. Kuring teu butuh duit, kuring ngan butuh impénan. Impénan anu geus dijangjikeun ku bapa.”
Beuki lila sora Hérman beuki teuleum ku sora cai hujan. Lalaunan kuring nyampeurkeun manéhna tuluy ngomong.
”Man.. Nu ngarana impénan mah teu bisa dipénta. Impénan ngan saukur aya di diri urang. Impénan aya, sabab diciptakeun ku urang. Impénan mah di téang jeung diusahakeun lain dipénta. Impénan mah dipiboga lain…”
“Naon anu dipiboga ku kuring?! Kuring hirup geus sorangan. Imah teu boga, duit komo deui. Ayeuna.. ayeuna impénan ogé kuring kudu ménta!” ceuk manéhna ngajorowok.
“Sanes kitu Man, Hérman téh alit kénéh. Jalan Hérman masih panjang..” ceuk kuring bari peura.
“Aah atos téh. Jep. Tong nyarios deui.” Ceuk manéhna bari ngabangingik.
“Tétéh, ayeuna kuring naros sakali deui, tétéh gaduh impénan kanggo kuring?”
Beurat. Beurat mun kudu ngajawab patalékan Hérman bieu. Sieun. Kuring sieun nguciwakeun Hérman. Tapi da éta patalékan kudu dijawab sangkan manéhna ngarti. Kuring cirambay tuluy ngomong.
“Punten Man. Punten pisan tétéh teu gaduh impénan.”
Jleng baé budak téh muragkeun manéh ka handap saenggeus naék kana wates jembatan.
“Hérmaaaan!” kuring reuwas tur ceurik basa ninggali Hérman geus euweuh di hareupeun kuring. Geus palid jeung cai walungan anu ngalir sakitu tarikna. Kuring ceurik ngahariring. Karunya ka Hérman. Teu nyangka akhirna bakal kieu.
Kahirupan dunya anu nyieun manéhna baluweng. Baluweng yén teu boga impénan. Baluweng ku leungitna bapana anu teuing dimana jeung teuing kamana. Indungna bunuh diri, muragkeun manéh lantarann geus teu bisa ngurus Hérman. Ayeuna Hérman ogé maot cara indungna baheula. Moal aya deui anu ménta impénan, moal aya deui anu nanyakeun impénan. Kabéh indit cara angin mawa cai hujan anu teuing kamana arahna jeung teuing dimana ahirna. Hérman.
Bandung, 2013
Jag! Kuring ngarénjag reuwas basa aya budak napelkeun leungeuna dina kaca. Beungeutna anu caludih antel dina kaca mobil. Kuring melongkeun manéhna, keuheul tur reuwas. Budak nu di tinggalikeun ukur nyéréngéh tuluy indit bari babarakatakan.
“Teu sopan!” Kedal kuring. Teu lila datang budak anu séjén, ngetrok kana kaca jandéla.
Tok, tok, tok. Kuring nyokot duit sarébu dina dasboard mobil, tuluy nurunkeun kaca mobil.
“Téh, gaduh impénan?” Ceuk manéhna basa kaca mobil diturunkeun. Kuring kerung, anéh kana éta patalékan.
“Tétéh gaduh impénan?” Ceuk éta budak sakali deui.
“Kénging nyuhunkeun impénan téh?”
Kuring beuki bingung. Buru-buru kuring ngasongkeun duit sarébu, tapi éta budak angger cicing siga patung. Barang kaca mobil rék ditutup manéhna nahan kaca ku leungeun sangkan kaca mobil teu kuring tutup.
“Tétéh gaduh impénan?” Kedal manéhna rada tarik. Panona molotot ka kuring. Sorot panona seukeut kawas manuk heulang anu nyoro kadaharana. Lampu beureum geus ganti héjo, klakson geus disada di mana-mana. Kuring buru-buru nincak pedal gas tuluy maju ninggalkeun éta budak anu masih melongkeun kuring.
***
Sora jarum jam kapireng. Nanceb dina pangregep, antel dina pangdangu. Jam 11 peuting. Di luar hujan ngaririncik mawa kawaas dina haté, mawa rasa cinta anu teu kapaliré. Kuring geus ngagolér dina kasur. Awak geus dibuntel ku simbut. Kuring masih kénéh nyileuk ninggalikeun jarum jam anu teu eureun-eureun nuduhkeun waktu. Hawar-hawar kapireng sora anjing babaung dina waktu anu ampir tengah peuting, teuing dimana ayana, boa jauh di sisi kota boa jauh di tengah kota. Teu tinggaleun ogé sora dangdaunan dina tangkal anu paadu jeung kaca jandéla. Lir ibarat jalma anu keketrok ménta tulung sangkan kuring hudang dina implengan. Kuring garénjag reuwas. Sakapeung mah kuring ngarasa asa aya nu ningalikeun. Rét baé kana jandéla. Barang ditingali bener wéh aya nu melongkeun di luar jandéla kamar. Awakna leutik, jangkungna kira-kira sacangkéng.
“Naha siga budak anu tadi? Naha enya manéhna nuturkeun kuring nepi ka imah? Rék naon éta budak datang kadieu?” Kedal kuring di jero haté. Kuring nyingkabkeun simbut terus turun tina kasur. Lalauna kuring nyampeurkeun jandéla, tuluy nyingkabkeun hordéng. Bét anéh éta budak téh jadi euweuh. Rét ka handap melongkeun buruan sepi euweuh sasaha, ngan cai hungkul anu ngareclak ti langit. Barang rét ka panto gerbang budak nu tadi téh aya. Melongkeun kuring bari gugupay tuluy lumpat ka kalér. Kuring reuwas, naha bét asa keueung peuting ieu. Buru-buru kuring nutup hordéng tuluy naék deui ka kasur bari dikurubun ku simbut.
“Téh gaduh impénan? Kuring nyungkeun! Gaduh impénan? Mana impénan kuring?” Hawar-hawar kapireng sora manéhna anu ménta impénan cara tadi soré. Kuring beuki dikurubun ku simbut sabisa-bisa babacaan. Teu lila sora éta ngaleungit. Jep jempling taya sora lian anu kapireng, salian ti sora jarum jam anu terus ngurilingan waktu.
***
Sora manuk kapireng ciciricitan. Rajeg tangkal nu maluguran. Tapi angger kénéh panon poé patingpelentran, nyentangan sakabéh nu aya didinya. Norobos kalakay dug tembus jandéla. Sakapeung aya nu antel kana leungeun. Mawa rasa haneut kanu jadi daging, mawa tentrem kanu jadi manah. Kuring teu maliré. Masih sibuk mikiran budak éta. Budak anu ngetrok kaca jandéla di lampu stopan. Budak anu tadi peuting datang ka imah, cicing dina hareupeun gerbang bari gugupay. Budak anu terus nanya kuring boga impénan atau henteu? Naha éta budak bet nanya kitu? Bet ménta impénan ka kuring? Kapan unggal jalma gé boga impénan séwang-séwangan, kaasup manéhna. Naha maké kudu ménta ka batur sagala? Baluweng. Kuring baluweng, loba teuing hal anéh nu teu kaharti ku akal.
“Wooy!!”
“Aaaah!” Kuring ngajerit ampir ngajorowok bakating ku reuwas. Keuheul ogé ka Didon anu ngareureuwas kuring. Mun lain babaturan ti leutik geus di gebug.
“Don, nanaonan sih? Ngareureuwas waé!” Ceuk kuring bari camutut.
“Hampura atuh Lit, heureuy Didon mah.” Tembalna bari nyéréngéh.
“Teu lucu Don teu lucu!”
“Atuuh da Alit mah titatadi di sauran ku Didon téh teu ngalieuk waé. Meni sibuk ku lamunan. Ngalamun naon sih? Si Adam nya?” Kuring ngagodér leungeuna basa manéhna nyebut ngaran Adam, babaturan kuring nu bogoheun ka kuring ti mimiti asup kampus.
“Hus sembarangan! Teu lah, nanaonan mikiran si Adam?”
Didon ngan ukur jebi bari seuri. Jep. Jempling. Si Didon geus sibuk deui kana kertasna nu pinuh ku tulisan.
“Don.” Kuring nepak leungeuna. Nu digeroan ngan ukur ngalieuk bari seuri.
“Don kamari kuring papanggih jeung budak leutik. Lalaki, tapi anéh.” Kedal kuring.
“Budak leutik? Lalaki? Dimana?” Tembalna bari kerung.
“Eta di stopan anu deuk ka imah kuring geuning.”
“Oh enya enya apal. Anéh kunaon kitu?”
“Nya anéh wéh, manéhna nanyakeun impénan ka kuring. Kuring boga impénan teu? Kitu cenah. Ku kuring di béré duit téh embungeun kalakah keukeuh wéh nanyakeun waé éta bari ménta impénan ka kuring.”
“Oh éta mah si Hérman atuh, émang kitu da manéhna mah, barang pénta téh lain duit tapi impénan.”
“Impénan? Naha?” Kuring kerung beuki bingung kana nu diomongkeun si Didon.
“Enya impénan. Duka teu apal kunaon-naon na mah. Geus lah budak teu hideng éta mah teu kudu dipikiran, da ka kabéh gé kitu lain ka manéh waé.”
“Tapi Don kamari...”
“Enggeus Lit tong dipikiran mending fokus ayeuna mah nya. Hal teu penting éta téh.”
Didon tuluy fokus deui kana bukuna. Kuring beuki baluweng ngadéngé nu diobrolkeun Didon. Naha enya éta budak téh ngan saukur budak teu hideng? Tapi mun enya kitu naha manéhna kudu datang ka imah sagala tuluy gugupay? Rék ngajak kuring kamana éta budak téh maké gugupayna kudu ka kuring? Kuring tuluy teuleum dina hiji pikiran. Pikiran ngeunaan Hérman.
Waktu geus maju kana soré. Wanci tunggang gunung, saperti biasa, basa layung ngagurat di belah wétan, lalaunan angin nyéak kana daging, nyingkabkeun kasono anu bebas ngagantung dina sukma. Huh jam sakieu pasti macét. Hiji hal anu basajan distopan ieu mah. Kuring ngarandeg kana jok mobil, muka hapé bisi aya SMS . Euweuh. Kosong. Euweuh SMS atawa telepon keur kuring. Simpé. Jep asa jempling. Ras kuring inget kana kajadian kamari. Inget ka Hérman anu keketrok ménta impénan. Eh enya kamana Hérman? Asa sinarieun euweuh. Rét ka béh kénca. Euweuh. Ka tukang komo deui. Kuring luak-lieuk ka sakuriling stopan. Rét panon kuring fokus ka hiji titik. Titik dimana aya budak melongkeun kuring ti halteu nu aya saacan jembatan. Hérman. Budak anu ku kuring ditéangan, ayeuna aya keur melongkeun kuring. Panon kuring paadu jeung manéhna. Kuring buru-buru ngajalankeun mobil basa manéhna gugupay tuluy nyampeurkeun mobil kuring lalaunan.
***
Hujan ngaririncik di tengah peuting, mawa angin nu kaselip simpé. Tiisna peuting, nyecep kanu jadi manah tuluy teuleum dina jero sukma. Ngabirigidig. Matak tiis karasana matak jempling kasebutna. Bulan jeung bentang teu tembong, nyumput di tukangeun hujan anu maluguran tuluy anclub kana méga. Kuring masih diuk nyanghareupan laptop basa sora daun gegedor dina jandéla kamar. Poék teu katempo nanaon di luar jandéla, kuring ngadeukeutan jandéla lalaunan. Paur aya Hérman datang deui. Tapi ah moal meureun kapan si Hérman téh budak teu hideng, rék naon manéhna ngadatangan kuring deui? Tapi bet asa panasaran haté téh. Kuring lalaunan nyingkabkeun hordéng.
“Aaaa.” Kuring ngarenjag basa tangkal jambu ngagodér jandéla, katebak angin. Rét ka gerbang anu aya di buruan. Deg. Kuring ngarandeg. Teu bisa usik basa Hérman melong ka kuring hareupeun gerbang. Kuring reuwas tur bingung. Manehna ngagupayan kuring tuluy indit bari lumpat. Deg. Asa dungdeng ieu sirah. Bungbeng. Aneh. Poék. Kabeh nu aya didieun ngadadak jadi poék, suku anu jejeg ngadadak jadi leuleus. Kuring ngagubrag. Taya deui anu katempo salian ti caangna lampu anu aya di luar. Taya deui anu kapireng salian ti sora hujan anu ngageretek jeung sora jarum jam anu terus usik taya kacapé.
***
“DIDON!” Ceuk kuring basa ninggali Didon keur leumpang di koridor. Kuring lumpat nyampeurkeun manéhna.
“Aya naon Lit?”
“Hm Don, ieu soal Hérman. Enya manéhna téh ngan jelema teu hideng?”
“Aduh Alit di bahas kénéh waé, kan...”
“Lain kitu Don, lain masalah éta jelema teu hideng atau lain, tapi geus dua peuting Hérman datang ka imah kuring. Masih ménta impénan.”
“Ah moal mungkin Lit, éta mah titinggalieun meureun.”
“Heunteu Don, kuring teu bohong, éta bener Hérman.”
Didon cicing sakeudeung. Gideug lalaunan tuluy indit ninggalkeun kuring nu olohok kénéh di koridor. Angin asup kana sela-sela jandéla, nyéakeun katiis kana jero daging. Jep. Langsung nyecep kana jadi getih. Tuluy cicing dina ngarana manah. Kuring buru-buru ninggalkeun koridor, indit ka garasi tuluy naék kana mobil saenggeus pantona kuring buka koncina. Buru-buru kuring muter konci mobil tuluy nincak pedal gas. Pokona peuting ayeuna kudu beres. Kuring kudu apal naha Hérman ménta impénan ka kuring.
***
Jam 5 sore. Saperti biasa kuring eureun di lampu stopan. Macét. Hal anu basajan jam sakieu mah. Kuring luak-lieuk néangan Hérman. Naha kamana éta budak? Biasana jam sakieu téh sok geus aya di halteu éta. Kuring ngadagoan. Rét ka belah kénca katingal barudak arulin di sisi jalan, teuing arulin teuing bagi hasil. Rét ka belah katuhu, layung tingburisat lir ibarat koas nu ngagurat dina kanvas. Rét deui ka halteu euweuh kénéh waé si Hérman téh. Naha kamana éta budak, na kamana inditna? Lampu geus nandakeun héjo, kuring maju ngaliwatan jalan anu geus ilahar na émutan kuring, jalan nu geus kaliwatan ku kuring salila 23 taun. Kuring mimiti asup ka komplék imah anu geus ngurus kuring salila 23 taun ka tukang, néangan imah warna héjo tuluy ngeureunkeun mobil dihareupeun panto gerbang, kuring turun tina mobil. Lalaunan muka gembok gerbang tuluy disérédkeun éta panto téh sangkan mobil bisa asup. Kuring ngasupkeun mobil tuluy di parkirkeun di hareupeun garasi. Keun lah moal waka di asupkeun da siang kénéh. Kuring asup ka imah tuluy indit ka kamar. Ngagubragkeun manéh kana kasur bari peureum. Ngimpleng anu kaimpleng. Hérman. Budak leutik anu geus dua peuting ka impleng ku kuring. Aya pamaksudan naon manéhna ka kuring? Rék naon manéhna datang ka kuring unggal peuting? Naha enya budak téh ngan saukur budak teu hideng? Asa teu kaasup ku akal. Kuring mimiti teuleum dina pikiran sorangan. Reup kuring saré. Euweuh deui sora nu kapireng salian ti sora jam anu moal simpé nepi ka iraha ogé.
***
Jag. Kuring hudang. Rada linglung. Asa beurat ieu sirah. Kuring kekerejepan. Ngan lalangit anu katempo ku kuring. Poék. Saeusi kamar ieu poék. Kuring hudang tuluy ninggali kana jam anu kasorot ku lampu luar. Jam 12 kurang 10. Di luar hujan ngaririncik kénéh. Désémber. Bulan anu nyorang hujan. Kuring kakarayapan dina témbok néangan saklar. Rék ngahurungkeun lampu maksudna mah. Barang rét kana jandéla kuring panasaran. Kuring leumpang, tuluy nempo buruan anu baseuh ku cai hujan. Barang rét ka gerbang kuring ningali jalma nu ku kuring di téangan ti tadi soré. Hérman. Manéhna cicing di hareupeun gerbang. Manéhna melongkeun ka kuring nu keur olohok teu percaya ninggalikeun manéhna. Beretek kuring lumpat kaluar kamar nurunan tangga deuk ngudag Hérman. Kuring muka konci panto imah. Deg. Kuring ngarandeg basa ninggali Hérman aya hareupeun gerbang. Awakna leutik, bajuna baseuh beunang cai hujan. Buru-buru kuring muka konci gerbang, barang ninggali ka hareup Hérman geus euweuh. Kuring muka gerbang tuluy lumpat satarikna ngudag Hérman. Teu paduli awak baseuh beunang cai hujan. Kuring lumpat ka kalér, néangan Hérman anu teuing lumpat kamana. Bray kuring nepi stopan nu biasa kuring liwatan. Stopan anu deukeut halteu. Témpat biasa Hérman cicing melongkeun kuring.
“Di tempat ieu. Di tempat ieu kuring nungguan.” Kapireng sora budak ditukangeun kuring. Deg. Kuring ngarandeg. Rét baé kuring ngarérét ka tukang. Kuring reuwas ningali Hérman cicing di halteu. Dina poék. Panona neuteup jalan. Sorot panona kosong. Ngimpleng hiji hal.
“Di témpat ieu kuring boga impénan. Di témpat ieu ogé kuring leungit impénan. Bapa. Kuring sono ka bapa. Bapa anu ayeuna teuing dimana ayana, teuing kumaha kaayaana. Boa hirup kénéh, boa geus paéh. Bapa nu ngajangjikeun impénan keur kuring, tapi bapa ogé anu mupuskeun impénan ka kuring. Unggal wanci tunggang gunung, kuring nungguan bapa, kuring…” kedalna bari ceurik.
Kuring cicing. Matung kawas patung. Bingung. Baluweng. Kudu kumaha kuring ayeuna. Lalaunan kuring ngadeukeutan Hérman. Lalauna leungeun kuring diangkat, rék ngusap huluna.
“Hérman…” Ceuk kuring bari rada cirambay. Nu di geroan ujug-ujug ngalieuk. Melong kuring. Panona jadi seukeut tuluy lumpat deui ka arah jembatan. Kuring gudag manéhna. Teu maliré keclak-keclak cai hujan nu seukeut nubles awak kuring.
Manéhna eureun di sisi jembatan bari nyanghareup ka handap. Nempokeun walungan anu caina deres. Nukangan kuring.
“Di dieu. Pas pisan didieu indung kuring ninggalkeun kuring. Ninggalkeun patalékan anu teu kawaler ngeunaan bapa. Bari ceurik indung kuring muragkeun manéh kana deresna cai di handap. Unggal poé kuring nanyakeun impénan. Kuring ménta impénan ka unggal jalma. Sugan aya nu bisa méré impénan ka kuring salian ti bapa. Tapi kanyataanana euweu. Euweuh nu bisa méré impénan ka kuring. Batur kalakah nganggap kuring jalma teu hiding, gelo, stress sabab kuring ménta impénan.” Pokna deui.
Sora hujan beuki kapireng. Angin peuting beuki nyéak mawa tiris kanu jadi raraga. Haneutna cipanon geus teu karasa deui. Katutupan ku tiisna cai hujan anu nyecep dina pipi. Ngan tonggong Hérman anu katempo ku kuring, manéhna nyarita ka kuring bari nukangan kuring.
“Basa soré éta, basa kuring mimiti papanggih jeung tétéh, kuring yakin tétéh bisa méré impénan. Hiji impénan anu di anti-anti ku kuring. Peupeuriheun kuring teu bisa nanaon. Kuring teu butuh duit, kuring ngan butuh impénan. Impénan anu geus dijangjikeun ku bapa.”
Beuki lila sora Hérman beuki teuleum ku sora cai hujan. Lalaunan kuring nyampeurkeun manéhna tuluy ngomong.
”Man.. Nu ngarana impénan mah teu bisa dipénta. Impénan ngan saukur aya di diri urang. Impénan aya, sabab diciptakeun ku urang. Impénan mah di téang jeung diusahakeun lain dipénta. Impénan mah dipiboga lain…”
“Naon anu dipiboga ku kuring?! Kuring hirup geus sorangan. Imah teu boga, duit komo deui. Ayeuna.. ayeuna impénan ogé kuring kudu ménta!” ceuk manéhna ngajorowok.
“Sanes kitu Man, Hérman téh alit kénéh. Jalan Hérman masih panjang..” ceuk kuring bari peura.
“Aah atos téh. Jep. Tong nyarios deui.” Ceuk manéhna bari ngabangingik.
“Tétéh, ayeuna kuring naros sakali deui, tétéh gaduh impénan kanggo kuring?”
Beurat. Beurat mun kudu ngajawab patalékan Hérman bieu. Sieun. Kuring sieun nguciwakeun Hérman. Tapi da éta patalékan kudu dijawab sangkan manéhna ngarti. Kuring cirambay tuluy ngomong.
“Punten Man. Punten pisan tétéh teu gaduh impénan.”
Jleng baé budak téh muragkeun manéh ka handap saenggeus naék kana wates jembatan.
“Hérmaaaan!” kuring reuwas tur ceurik basa ninggali Hérman geus euweuh di hareupeun kuring. Geus palid jeung cai walungan anu ngalir sakitu tarikna. Kuring ceurik ngahariring. Karunya ka Hérman. Teu nyangka akhirna bakal kieu.
Kahirupan dunya anu nyieun manéhna baluweng. Baluweng yén teu boga impénan. Baluweng ku leungitna bapana anu teuing dimana jeung teuing kamana. Indungna bunuh diri, muragkeun manéh lantarann geus teu bisa ngurus Hérman. Ayeuna Hérman ogé maot cara indungna baheula. Moal aya deui anu ménta impénan, moal aya deui anu nanyakeun impénan. Kabéh indit cara angin mawa cai hujan anu teuing kamana arahna jeung teuing dimana ahirna. Hérman.
Bandung, 2013
Ilusi atau Delusi? Silahkan Pikirkan!
Perlahan aku mulai menikmati dengan apa yang terjadi saat ini
Setiap detik yang berdetak ku nikmati bagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara
Bercumbu dengan waktu dan menikmati apa yang telah ada
dia yang pergi dan kau yang datang
Mungkin terlalu cepat untuk menghadirkan cinta tapi itulah kenyataannya
pertemuan yang tak sengaja
Perkenalan yang begitu singkat hingga akhirnya datanglah sesuatu bernama cinta.
Aku tak tau apakah ini benar atau salah
Tapi bukankah cinta tak mengenal mana yang benar dan mana yang salah?
Aku tak perduli pada hakin yang berceloteh di depan pendengaranku
Mengacung acungkan sosok tata krama
Membacakan undang undang tentang hukum bercinta
Tapi bukankah kita sudah hidup pada zaman globalisasi?
Dimana cinta sudah tak berbatas, cinta sudah tak mengenal aturan dan tata krama
Bukankah di masa lalu pun cinta datang tanpa permisi?
Apa itu sopan?
Apa itu menggunakan tata krama?
Aku tak mengerti dengan hukum cinta
Namun aku mengerti bahwa aku menikmati tiap jarak demi jarak yang perlahan kau hapus agat tak menciptakan jarak pada kita
Memeluk dengan rindu lalu bercumbu dalam kenangan
Setiap detik yang berdetak ku nikmati bagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara
Bercumbu dengan waktu dan menikmati apa yang telah ada
dia yang pergi dan kau yang datang
Mungkin terlalu cepat untuk menghadirkan cinta tapi itulah kenyataannya
pertemuan yang tak sengaja
Perkenalan yang begitu singkat hingga akhirnya datanglah sesuatu bernama cinta.
Aku tak tau apakah ini benar atau salah
Tapi bukankah cinta tak mengenal mana yang benar dan mana yang salah?
Aku tak perduli pada hakin yang berceloteh di depan pendengaranku
Mengacung acungkan sosok tata krama
Membacakan undang undang tentang hukum bercinta
Tapi bukankah kita sudah hidup pada zaman globalisasi?
Dimana cinta sudah tak berbatas, cinta sudah tak mengenal aturan dan tata krama
Bukankah di masa lalu pun cinta datang tanpa permisi?
Apa itu sopan?
Apa itu menggunakan tata krama?
Aku tak mengerti dengan hukum cinta
Namun aku mengerti bahwa aku menikmati tiap jarak demi jarak yang perlahan kau hapus agat tak menciptakan jarak pada kita
Memeluk dengan rindu lalu bercumbu dalam kenangan
Lo Yang Jadi Objek Mata gue *duileeeeeeeeee
sadarkah ketika kucium wangi tubuhmu aku mulai mencintaimu
ketika bulan tak mampu berucap itulah aku
aku yang selalu melihatmu dari kejauhan menatapmu tanpa ingin sekali pun aku berkedip
sadarkah ketika kau hadir aku yang slalu ingin memperhatikanmu dari kejauhan.
kau adalah objekku
aku ingin selamanya seperti itu
aku tak ingin diam lalu mematung. melihatmu pergi bersama kupu kupu lain. sungguh aku tak rela.
sadarkah kau ketika rasa ini mulai tumbuh lalu berkembang menjadi luas?
saat rasa ini meluas getaran rasa yang aneh dan membuatku ingin tersenyum tapi kadang aku ingin menangis.
sadarkah ketika jingga mulai terlihat cantik aku tetap berharap pada jingga bahwa aku akan mengarungi nya bersama mu
jauh pada tempat tertinggi di langit barat
sadarkah kau ketika kicau burung mulai saling saut untuk saling bercumbu pada langit jingga yang elok? aku tau terlalu tinggi harapanku untuk bersanding di dadamu, untuk bersandar pada tubuhmu ketika aku lelah. tapi itulah aku
aku hanya ingin kau ada dan selamanya ku lihat dalam lingkaran mataku. entah sampai kapan..
ketika bulan tak mampu berucap itulah aku
aku yang selalu melihatmu dari kejauhan menatapmu tanpa ingin sekali pun aku berkedip
sadarkah ketika kau hadir aku yang slalu ingin memperhatikanmu dari kejauhan.
kau adalah objekku
aku ingin selamanya seperti itu
aku tak ingin diam lalu mematung. melihatmu pergi bersama kupu kupu lain. sungguh aku tak rela.
sadarkah kau ketika rasa ini mulai tumbuh lalu berkembang menjadi luas?
saat rasa ini meluas getaran rasa yang aneh dan membuatku ingin tersenyum tapi kadang aku ingin menangis.
sadarkah ketika jingga mulai terlihat cantik aku tetap berharap pada jingga bahwa aku akan mengarungi nya bersama mu
jauh pada tempat tertinggi di langit barat
sadarkah kau ketika kicau burung mulai saling saut untuk saling bercumbu pada langit jingga yang elok? aku tau terlalu tinggi harapanku untuk bersanding di dadamu, untuk bersandar pada tubuhmu ketika aku lelah. tapi itulah aku
aku hanya ingin kau ada dan selamanya ku lihat dalam lingkaran mataku. entah sampai kapan..
Dibalik Cerita Hujan
Telah disematkan kenangan itu pada memori
membuka jiwa sang penguasa pagi
akankah hujan turun?
dengan membawa mata yang tak sempurna
sebilah kata telah tertusuk
dalam balutan air langit
luruh tanpa darah
menjerit menepi tangis
tak bisakah hujan datang dengan tenang?
damai pada sebuah persinggahan
ditengah ilalang yang tak mampu berdiri
dalam doa juga senja yang merona.
2013
membuka jiwa sang penguasa pagi
akankah hujan turun?
dengan membawa mata yang tak sempurna
sebilah kata telah tertusuk
dalam balutan air langit
luruh tanpa darah
menjerit menepi tangis
tak bisakah hujan datang dengan tenang?
damai pada sebuah persinggahan
ditengah ilalang yang tak mampu berdiri
dalam doa juga senja yang merona.
2013
Cerita Hujan
satu kata yang tersiap
menyibak mata akan satu rasa
dalam rintihan tangis malam
mungkin itu adil,
saat rindu tak lagi nyata
saling menggenggam kemudian melepas
dan hilang terbawa hujan
rintik yang kian bergemuruh
saking memeluk kemudian membunuh
tenggelam dalam ramai
sunyi dalam riak
ah hujan,
kau membawakan rindu yang entah kemana
entah pada malam
atau mengalirkannya hingga muara terakhir
Bandung, 2013
menyibak mata akan satu rasa
dalam rintihan tangis malam
mungkin itu adil,
saat rindu tak lagi nyata
saling menggenggam kemudian melepas
dan hilang terbawa hujan
rintik yang kian bergemuruh
saking memeluk kemudian membunuh
tenggelam dalam ramai
sunyi dalam riak
ah hujan,
kau membawakan rindu yang entah kemana
entah pada malam
atau mengalirkannya hingga muara terakhir
Bandung, 2013
Kamis, 13 Maret 2014
entahlah
Aku tak tau perasaan apa yang menyelimutiku pagi ini
Terlalu berkecamuk dan bercampur dalam dada
Terlalu banyak rasa yang tlah kuukir pada hati dan jiwaku
Lantas perasaan apa yang sesungguhnya aku rasakan pagi ini jika terlalu banyak rasa yang berkecamuk?
entahlah
Hanya saja semua terasa hampa.
Separuh jiwaku telah menghilang ntah kemana. Haruskah kucari jiwa itu? Atau biarkanlah jiwa itu menghilang agar aku lebih baik?
Sepintas aku merasakan sakit juga sesak namun rindulah yang juga kurasakan saat ini
Tapi itu hanya sepersekian persen dari apa yang aku rasakan
Kenyataan membuatku berfikir bahwa aku seharusnya tak berada disini
Tak memasuki ruang yang tak seharusnya kumasuki
Perbedaan dimensi juga waktu lah menghambat segalanya, namun rasa ini begitu besar hingga sanggup mengendalikan pikiranku
Mengendalikan otakku kemudian otot otot syarafku hingga akhirnya aku memaksakan kehendak untuk memasuki dunia ini, ruang ini dan tempat ini
Aku terjebak dalam ruang dimana cinta dan sesak bersarang. Tak ada yang bisa menolongku untuk keluar dari dunia ini
Namun aku sadar inilah takdir yang seharusnya kulalui
Tapi…
Perasaan apakah yang membuatku mampu dan nekat untuk memasuki ruang tersebut? Orang memanggilnya dengan sebutan "cinta"
Terlalu berkecamuk dan bercampur dalam dada
Terlalu banyak rasa yang tlah kuukir pada hati dan jiwaku
Lantas perasaan apa yang sesungguhnya aku rasakan pagi ini jika terlalu banyak rasa yang berkecamuk?
entahlah
Hanya saja semua terasa hampa.
Separuh jiwaku telah menghilang ntah kemana. Haruskah kucari jiwa itu? Atau biarkanlah jiwa itu menghilang agar aku lebih baik?
Sepintas aku merasakan sakit juga sesak namun rindulah yang juga kurasakan saat ini
Tapi itu hanya sepersekian persen dari apa yang aku rasakan
Kenyataan membuatku berfikir bahwa aku seharusnya tak berada disini
Tak memasuki ruang yang tak seharusnya kumasuki
Perbedaan dimensi juga waktu lah menghambat segalanya, namun rasa ini begitu besar hingga sanggup mengendalikan pikiranku
Mengendalikan otakku kemudian otot otot syarafku hingga akhirnya aku memaksakan kehendak untuk memasuki dunia ini, ruang ini dan tempat ini
Aku terjebak dalam ruang dimana cinta dan sesak bersarang. Tak ada yang bisa menolongku untuk keluar dari dunia ini
Namun aku sadar inilah takdir yang seharusnya kulalui
Tapi…
Perasaan apakah yang membuatku mampu dan nekat untuk memasuki ruang tersebut? Orang memanggilnya dengan sebutan "cinta"
Langganan:
Postingan (Atom)
"Simple Thing Called Love" by Anna Triana
Judul : Simple Thing Called Love Penulis : Anna Triana Penerbit : Elex Media Komputindo ISBN : 978 - 602 - 0...
-
Pernah denger salah satu lagu Efek Rumah Kaca dengan judul Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa? Yap, lagu yang berada dalam album Kamar Gelap d...
-
Karya: Edwar Maulana Jika kau percaya bahwa segala yang ada itulah yang kelak tak ada dan mesti diabaikan. Maka saat ini ketika kau da...