JNGGA

Selasa, 21 November 2017

Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak



Judul                : Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak
Sutradara         : Mouly Surya
Produser          : Rama Adi, Fauzan Zidni
Pemeran           : Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly
Durasi              : 90 menit
Rate                 : 4/5

Sinopsis

Suatu hari di sebuah padang sabana Sumba, Indonesia, sekawanan tujuh perampok mendatangi rumah seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy). Mereka mengancam nyawa, harta, juga kehormatan Marlina dihadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi, duduk di pojok ruangan.

Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal tadi malam. Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra) yang menunggu kelahiran bayinya dan Franz (Yoga Pratama) yang menginginkan kepala Markus kembali. Selain itu, Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina.

Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak atau juga dikenal dengan judul Marlina The Murderer in Four Acts ini sukses membuat saya penasaran sejak awal dipromosikan. Alur cerita, para pemain juga soundtrack dari film ini yang membuat saya bertekad untuk tidak menunda-nunda menonton film ini. Sejak awal adegan, saya sudah dibuat terkesan oleh pemandangan sabana di daerah Sumba Indonesia yang begitu mengagumkan, ditambah pencahayaan yang menambah kesan jika tempat tersebut begitu indah. Masuk ke dalam adegan demi adegan, saya dibuat terkesan oleh acting para pemain. Marsha Timothy yang begitu epik memerankan sosok pembunuh juga Egi Fedly yang memerankan sosok penjahat. Selingan sedikit, sejak kecil, saya paling males kalau nonton film atau sinetron yang salah satu artisnya Egi Fedly, kenapa? Karena, peran yang dia mainkan selalu antagonis dan itu terlihat nyata. Begitupun dengan acting Egi Fedly dalam film ini. Beliau begitu rapi saat memerankan tokoh seorang perampok yang bengis juga mesum. Semua terlihat sempurna dipadukan dengan acting Marsha sebagai wanita pembunuh.

Walaupun film ini terkesan sadis karena bertebarannya pembunuhan dan pemenggalan kepala, namun ada beberapa makna tersembunyi yang tidak bisa saya abaikan. Salah satunya adalah, saat memasuki jaman seperti ini, peran wanita telah sejajar dengan pria, tidak ada diskriminasi gender antara pria dan wanita. Selain itu, film ini pun memperlihatkan bagaimana perjuangan seorang wanita dalam melindungi dirinya dari marabahaya. Spoiler dikit ya, jadi ceritanya, selain di rampok, Marlina juga terancam di perkosa oleh tujuh orang pria termasuk Markus, ketika kawanan perampok itu datang dan meminta Marlina untuk menyajikan makanan, dengan rapi Marlina menyisipkan buah beracun pada sup ayam santapan mereka. Saat itu, Markus tengah tertidur di kamar, sehingga yang mati akibat memakan sup beracun itu hanya 4 orang kawannnya, dua orang lagi terpaksa harus kembali keesokan harinya karena mereka mendapat tugas untuk mengantarkan hewan hasil jarahan. Dan bagian terkerennya adalah saat empat perampok itu satu persatu jatuh ke lantai, dan Marlina, yang saat itu membelakangi para perampok tersenyum penuh makna saat didengarnya suara tubuh yang ambruk satu persatu. Disitulah saya mulai berpikir bahwa di film ini, menceritakan tentang seorang wanita yang harus menjaga dirinya dari sekumpulan pria yang memandangnya rendah karena dia seorang janda. Hal ini juga berkaitan dengan adat masyarakat Indonesia yang terkadang memandang sebelah mata seorang janda terutama untuk kawanan pria.

Selama 90 menit saya dibuat terkagum dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak juga akhir yang sulit saya prediksi. Selain itu juga, mata saya dimajakan dengan pemandangan Sumba yang begitu indah dan epic. Saya hampir tidak menemukan kekurangan apapun dalam film ini karena saya begitu menikmati adegan demi adegan yang disguhkan dari awal sampai akhir. Film ini juga cocok dibahas dengan menggunakan kajian Feminisme (menurut saya sih film ini masuk kriteria untuk diulik menggunakan pendangan Feminis). Dan akhir kata, saya sangat puas untuk film ini, film Indonesia yang berani keluar dari “zona nyaman” dan berani membuat tebusan genre baru. Buat semua pembaca yang belum menonton Marlina, segera datang ke bioskop dan saksikan bagaimana perjuangan Marlina dalam mencari keadilan, sebelum film ini hilang hehe. So, thanks sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi blog saya dan sudi membaca review abal-abal saya tentang film yang saya tonton J

NB: jangan lupa buat dengerin soundtracknya ya, lagu berjudul "Lazuardi" karya Cholil Mahmud

Jumat, 17 November 2017

A Song For Alexa by Cynthia Isabella


Judul                            : A Song For Alexa
Penulis                          : Cynthia Isabella
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                           : 978-602-03-0699-5
273 hlm
Rate     3,5/5

Sinopsis:
Sudah sejak SMP Alexa naksir Daniel, tapi selama itu pula dia tidak berani bergerak lebih jauh. Jadi, selama ini dia sibuk menerka-nerka bagaimana sebenarnya perasaan cowok itu terhadapnya. Karena ditawari bantuan, Alexa pun memercayakan rahasianya kepada Vivi, teman sekelas Daniel yang kebetulan akrab dengan cowok itu.

Sementara itu, Alexa yang perasaannya terlanjur melayang karena mengira Daniel sering diam-diam mengamatinya, dikejutkan kabar bahwa cowok itu malah jadian dengan… Vivi! Alexa pun menenggelamkan diri dalam tugas kepanitiaan acara sekolah dan lebih banyak “sembunyi” di ruang lukis. Di sana, diam-diam ada yang selalu menghiburnya dengan alunan piano, membantunya menghadapi masa-masa sulit. Dan ketika akhirnya suatu kejadian tak terduga membuatnya memahami perasaan orang-orang di sekitarnya, Alexa pun menentukan pilihan.

Novel ini menceritakan tentang seorang cewek bernama Alexa, yang sudah sejak lama naksir teman semasa SMPnya bernama Daniel. Namun sayangnya, orang yang disukai Alexa telah menyukai teman sekelasnya bernama Vivi yang sebelumnya menawarkan bantuan pada Alexa untuk menjadi mak comblang antara Daniel dan Alexa. Alexa patah hati saat menerima kenyataan jika pada akhirnya Daniel dan Vivi berpacaran. Alexa merasa hancur, hatinya sakit, terlebih saat satu kenyataan terungkap jika orang-orang melihat Alexa dipihak yang jahat karena telah menjadi penghalang bagi cinta Daniel dan Vivi.

Kejadian itu membuat Alexa malas  untuk bertemu orang-orang terlebih jika harus bertemu dengan Daniel dan Vivi. Setiap waktu istirahat digunakan Alexa untuk menyendiri dan membuat lukisan untuk acara porseni. Tentu saja hal itu tidak dilakukan Alexa seorang diri. Dirinya ditemani oleh Kei, salah satu seniornya yang juga selalu menghabiskan waktu disana untuk bermain piano. Lambat laun, Alexa mengetahui tentang satu rahasia yang ada pada diri Kei, dan semakin hari, dirinya semakin akrab dan menghabiskan waktu bersama. Sehingga, perlahan, benih-benih cinta mulai tumbuh dalam diri Alexa untuk Kei.


Novel ini sangat cocok dibaca di waktu senggang. Penggambaran karakternya kuat dan mampu membuat saya emosi saat membaca cerita demi cerita. Secara garis besar, novel ini mempunyai konflik yang sangat sederhana dan pasti dialami oleh hampir semua anak remaja. Namun, yang menjadi perhatian saya adalah dampak yang ditimbulkan yang selanjutnya menjadi konflik yang jarang teralami oleh remaja kebanyakan.

Selain itu, penggambaran karakter yang  dihadirkan setiap tokohnya begitu kuat dan mempu menghidupkan cerita serta mampu membuat emosi saya teraduk-aduk. Karakter Kei yang dingin dan terkesan kaku, membuat saya membayangkan jika sosok Kei adalah sosok cowok yang menjadi idaman para cewek, sehingga orang yang membaca karakter Kei akan berkesimpulan jika cowok itu adalah cowok yang cool. Selain tokoh Kei, hadir juga tokoh Alexa yang mempu menghidupkan cerita. Sikapnya yang dibuat periang juga aktif, sangat kontras dan cocok saat disandingkan dengan Kei, walaupun karakter mereka bertolak belakang. Dan yang paling menjadi perhatian saya adalah tokoh Vivi. Tokoh Vivi dibuat protagonis pada awal cerita, namun berubah menjadi antagonis di bagian tengah sampai akhir cerita. Disana, terungkap jika Vivi lah dalang dari semua kekacauan di hidup Alexa. Dan karakter Vivi mampu membuat emosi saya tercabik atas semua sikap jahat dan pengkhianatan yang dilakukan pada Alexa.

Layaknya sebuah kehidupan, tentu saja novel ini mempunyai beberapa kekurangan, diantaranya:
1)      Konflik yang terlalu sederhana. Menurut saya, konflik yang dihadirkan dalam cerita ini sangat amat sederhana. Sejak awal setelah Daniel berpacaran dengan Vivi, dan sejak Daniel menonton pertunjukan bass Alexa, juga ketika berbagai kekacauan yang hadir dalam hidup Alexa, membuat saya langsung bisa menebak jika Vivi-lah dalang dibalik semua ini. Entah penulis sengaja ingin membuat konflik yang sangat sederhana atau tidak, karena kekurangan ini bisa ditutupi dengan teknik penceritaan yang sukses membuat saya menerka-nerka bagaimana Vivi mampu melakukan hal-hal kejam pada Alexa.
2)      Apa yang Vivi perbuat pada Alexa terlalu kejam dan lebay untuk ukuran anak sekolah. Diakhir cerita, diceritakan jika Vivi sangat marah pada Alexa dan hendak memutuskan nadinya di depan Alexa, agar Alexa mendapat tuduhan atas segala hal yang terjadi. Namun untungnya, hal itu keburu diketahui Kei yang pada akhirnya, Kei memukul Vivi dengan tas nya hingga Vivi terjatuh. Untuk ukuran anak sekolah, hal ini terlalu lebay dan terkesan psikopat haha.
3)      Sikap Daniel yang terasa janggal saat mengetahui semua yang terjadi antara Vivid an Alexa. Jadi, selama ini, Vivi terus  menerus menyebarkan berita bohong yang menyudutkan Alexa, membuat berita untuk menjelakkan nama Alexa dimata teman-teman satu sekolahnya. Lalu, saat Vivi hampir bunuh diri di depan Alexa, Daniel datang dan mengungkapkan pada mereka yang ada disitu, jika Daniel percaya pada Alexa, jika Alexa tidak mungkin melakukan hal seperti yang dibicarakan oleh orang lain. Hal ini sedikit terasa janggal karena, jika memang Daniel tau semuanya, kenapa dia tidak membbicarakan hal ini sejak awal? *oke, kalau ini murni pendapat pribadi karena ga rela Alexa kesiksa terus karena ulah Vivi hahaha
Secara keseluruhan, kekurangan yang saya dapat dari novel hanya dua point, karena point ketiga itu merupakan ciri khas dan gaya penulis dalam mengembangkan cerita mereka. Intinya, alur cerita dan konflik yang dihadirkan pada novel A Song For Alexa sangat sederhana namun berkesan, apalagi ketika adegan dimana Alexa sedang bersembunyi diruang lukis dan di ruang sebelahnya ada Kei -yang mana ruangan itu adalah ruang musik- sedang memainkan sebuah alunan piano. Bagian paling romantis juga ketika Kei memainkan lagu berjudul Smile milik Charlie Chaplin dan membuat Alexa terenyuh.

Finally, menurut saya novel ini recommended banget untuk dibaca di waktu senggang, apalagi di tengah cuaca dingin seperti sekarang ditemani secangkir coklat hangat dalam mug ukuran besar. Selamat membaca dan hanyut dalam cerita yang dihadirkan oleh Cynthia Isabella J

Minggu, 12 Maret 2017

Goblin: Antara Takdir, Mimpi dan Kenyataan

poster drama korea Goblin

Tahun 2016 kemarin, perdramaan Korea sedang ramai membicarakan drama terbaru dengan judul Goblin atau The Lonely and Great God. Film ini sempat disebut-sebut drama terpopuler setelah sebelumnya predikat drama terpopuler disandang oleh Descendats of The Sun yang menceritakan kisah romance dokter dan seorang tentara. Bukan hanya jalan cerita yang cukup rumit, adegan romantis yang disuguhkan pun mampu membuat drama ini populer di kalangan masyarakat Indonesia. Goblin sendiri pertama tayang pada tanggal 2 Desember 2016 setiap hari Jumat dan Sabtu pkl. 20.00 KTS di stasiun TV tvN Korea. Film dengan genre fantasy, romance ini berjumlah 16 episode dengan 2 episode spesial dengan Gong Yoo dan Lee Dong Wook sebagai aktornya. 

Cerita ini mengisahkan tentang seorang prajurit pemimpin perang bernama Kim Shin (Gong Yoo) yang terkena kutukan dewa sejak 900 tahun tahun yang lalu. Dirinya harus hidup sebagai dewa pelindung yang memiliki pedang tertancap di dadanya. Hanya pengantin Goblinlah yang dapat mencabut pedang pedang itu agar Kim Shin dapat mengakhiri kekekalannya dan beristirahat dengan tenang. Namun, masalah baru timbul saat dirinya dapat bertemu dengan Ji Eun Tak (Kim Go Eun) yang mengaku sebagai pengantin goblin namun tidak dapat melihat pedang yang tertancap. Kegalauan menimpanya, penyangkalan terus ia utarakan pada Ji Eun Tak jika dia bukan pengantin goblin, namun Kim Shin terus berlaku baik dan menolong Ji Eun Tak saat dia dalam masalah. Hingga pada suatu hari, Eun Tak yang butuh pekerjaan diterima bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran ayam atas saran Kim Shin. Saat dia memanggil Goblin dengan cara meniup korek api, yang hadir bukanlah sang Goblin melainkan Malaikat Pencabut Nyawa (Lee Dong Wook) yang sudah 10 tahun mencari keberadaan Eun Tak karena perempuan itu termasuk jiwa yang hilang.Tanpa disangka, ternyata Malaikat Pencabut Nyawa dan goblin tinggal satu atap. Disitulah akhirnya Goblin mengakui jika Eun Tak adalah pengantin Goblin dan Malaikat Pencabut Nyawa tidak berhak melukai pengantinnya. 

Masalah kembali timbul saat diam-diam Goblin menaruh hati pada Eun Tak, terlebih saat akhirnya Eun Tak mengakui jika ia dapat melihat pedang yang tertancap di dada sang Goblin. Dibantu oleh Malaikat Pencabut Nyawa, sang Goblin harus beberapa kali menerima saran darinya yang sebenarnya tidak berpengaruh apapun karena hubungan mereka yang sedikit kurang baik. Hubungan Goblin dan Malaikat Pencabut Nyawa perlahan membaik, mereka dapat membangun persahabat sedikit demi sedikit akibat Lee Deok Hwa (Kwak Dong Yun), keponakan Goblin dan orang yang menyewakan rumah Goblin pada Malaikat Pencabut Nyawa. Bukan hanya itu, persahabatan mereka terbangun karena masalah yang dialami Malaikat Pencabut Nyawa yang diam-diam menyukai Sunny (Yoo In Na) setelah perkenalan mereka tempo hari. Malaikat pencabut Nyawa yang enggan bertemu dengan Sunny akibat dia kebingungan jika ditanya mengenai namanya membuat kesalahpahaman antara mereka. Juga masalah Ji Eun Tak yang perlahan terkuak satu rahasia, jika dia tidak mencabut pedang Goblin, maka dirinya lah yang akan terbunuh. Beberapa kali nama Eun Tak hadir dalam daftar Malaikat Pencabut Nyawa namun beberapa kali juga bisa terselamatkan akibat Goblin. Akhirnya setelah sekian lama, melalui berbagai rintangan, sempat terbunuh hingga akhirnya kembali, mereka dapat menyelesaikan segala masalah dan hidup bahagia dengan tenang.

Drama ini sangat saya apresiasi karena perbendaan genre dengan drama-drama yang lainnya. Goblin begitu berbeda, menggabungkan legenda korea dengan realitas kehidupan masa kini dan di kemas dalam cerita yang unik dan romantis. Unsur komedi masih hadir layaknya drama korea lain. Soundtrack lagu seperti I Miss You, Beautifull, Round and Round,Stay With Me, My Eyes, Hush, dan yang lainnya berhasil membuat drama ini hidup. Kemistri pemain antara Gong Yoo dan Kim Go Eun juga Lee Dong Wook dan Yoo In Na membuat drama ini semakin romantis dan menarik. konfliknya memang tidak terlalu berat, sangat berbeda dengan konflik D.O.T.S namun penulis dan sutradara mampu membuat film ini terlihat spesial walau dengan konflik yang cukup sederhana. Penonton diajak berimajinasi dan merasakan sakit sekaligus kekhawatiran sang aktor saat memerankan tokoh Goblin. Dan lagi, cerita ini juga memiliki alur yang tidak mudah ditebak. Beberapa kali perkiraan saya meleset saat menonton adegan demi adegan yang disuguhkan. Jadi, bagi saya film drama ini mempunya ciri khas dan keunikan tersendiri dalam penyampaiannya. 

Saya rekomendasikan untuk orang yang belum menonton drama Goblin, segera menontonnya dan utarakan pendapat kalian disini. Saya jamin, anda tidak akan menyesal setelah menonton drama ini haha.

Sekian dulu review drama Goblin menurut pendapat saya, mohon maaf jika tidak ada kesamaan dalam pendapat para pembaca sekalian. Thanks ^^

Kamis, 02 Maret 2017

Train to Busan: Karena Kasih Orang Tua Tidak Ada Batasnya

poster Train to Busan

Siapa yang tidak kenal dengan film yang sempat fenomenal di tahun 2016 ini? Train to Busan, film dengan genre action, suspense-thriller (namun menurut saya film ini bergenre horor) yang sukses membuat penonton terkagum-kagum. 

Film yang menceritakan seorang ayah bernama Seok-Woo (Gong Yoo) yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai hampir menelantarkan anak perempuannya yang bernama Soo-an. Bermula dari permintaan Soo-an yang ingin pergi ke Busan menemui ibunya bersama sang ayah di hari ulang tahunnya, sang ayah bertekad mengabulkannya meski dirinya berada di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Mereka berangkat menggunakan kereta listrik menuju Busan tepat hari dimana Soo-an berulang tahun. Namun, hal aneh terjadi ketika kereta berangkat, sang petugas kereta tiba-tiba saja diserang oleh makhluk aneh yang memangsa manusia. Disisi lain, tanpa diketahui oleh seorangpun, seorang wanita yang sudah terinfeksi virus memasuki kereta dan memangsa orang-orang. Dalam sekejap, keadaan kereta menjadi kacau dan mencekam, banyak manusia yang terkena virus, berubah menjadi zombie dan memangsa manusia yang masih hidup. Semua penumpang berusaha menyelamatkan diri, Seok-woo pun, seseorang yang terkenal keras kepala dan egois, ketika menghadapi situasi seperti itu, berubah menjadi sosok yang baik. Mengesampingkan ego dan berusaha untuk tidak memikirkan diri sendiri. Dalam perjalanan ke Busan yang menghadapi banyak rintangan, Seok-woo tetap melindungi sang anak dan orang-orang yang selamat untuk menuju Busan, tempat yang diprediksikan masih aman. Ketika akhirnya kereta harus berhenti secara terpaksa karena jalur kereta terhambat, sang masinis harus mengumumkan jika orang-orang yang selamat harus pindah kereta. Hal yang mendebarkan terus terjadi ketika zombie-zombie itu berkeliaran dan tetap memangsa manusia, korbanpun masih terus berjatuhan. Sampai satu persatu orang terinfeksi virus, Seok-woo juga harus mengalami nasib serupa akibat keegoisan seseorang yang mementingkan diri sendiri melebihi Seok-woo. Demi menyelamatkan anak dan istri temannya, dia bertahan melindungi keduanya dan mengorbankan tangannya yang menjadi sasaran sang zombie. 

Menguras air mata masih menjadi ciri khas film korea. Film ini benar-benar membuat saya terkagum terlebih ketika saya melihat judul dan genre film tersebut. Bagi saya, Train To Busan menjadi film korea pertama yang mengusung tema horor dan sukses di pasaran. Hal ini terbukti dari banyak jumlah penonton yang menonton film ini. Akting Gong Yoo sebagai ayah yang berani berkorban untuk anaknya menjadikan film ini penuh haru, terlebih ketika Seok-woo harus meninggalkan anaknya dengan terpaksa dan menjatuhkan diri dari kereta agar anaknya selamat. Film ini cukup sempurna bagi saya, benar-benar di luar prediksi. Ketika biasanya film-film korea mengusung tema percintaan dan romantisme, film ini mampu memberikan warna berbeda dari kebanyak film, katakanlah out of the box. Namun, walaupun film ini saya anggap sempurna, tetap saja ada kekurangan yang menjadikan saya sedikit tidak puas. Dalam cerita, tidak di visualisasikan penyebab virus itu menyebar, tidak dibuat flashback ketika perusahaan Seok-woo membuat biotech. Hal itu hanya diberitaukan melalui telepon, saat sekretarisnya, Kim memberitaukan jika wabah itu disebabkan oleh perusahaannya. Namun secara keseluruhan, film ini cukup sukses menghibur saya. Kepiawaian sang sutradara, editing dan effect sudah sangat bagus untuk membuat film ini menjadi lebih hidup dan sempurna.

Selasa, 28 Februari 2017

Istirahatlah Kata Kata: Perjuangan Seorang Widji Tukul

poster istirahatlah kata-kata


Menceritakan kisah aktivis sekaligus penyair Widji Tukul, film ini sukses membuat ribuan orang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menyaksikan kisah perjalanan hidup Widji Tukul. Film ini bermula dari ditetapkannya seorang Widji Tukul sebagai buronan negara akibat puisi-puisi yang beliau buat dianggap sebagai pemberontakan. Semasa hidupnya, Widji Tukul hidup berpindah, dari Solo kemudian ke Yogyakarta, sampai Kalimantan. Beliau hidup berpindah karena selalu di kejar aparat keamanan. Ketika hidup, dia harus hidup dengan menjadi orang lain, merubah identitas sampai penampilannya. Setiap rumah yang dia tinggali, dia harus bersiaga mencari pintu lain jika aparat menghampirinya lain kali atau menyiapkan tali untuk melompat kalau kalau dia dikejar. Tekad yang kuat membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Kerinduan dan kecintaannya pada Sipon, sang istri menjadikannya lebih kuat lagi. Sang istri pun demikian, kesetiaannya kepada sang suami menjadikannya perempuan kuat dan sabar walaupun beberapa kali rumahnya didatangi aparat dan di tanya kapan suaminya pulang. 

Film biografi pertama yang membuat saya penasaran ingin menontonnya, mengambil tema yang berani, film ini saya anggap cukup unik dengan kesuksesan yang patut diacungi jempol akibat peminatnya yang begitu banyak. Bayangkan saja, film ini awalnya direncanakan hanya tayang di satu bioskop di kota Bandung, namun akibat peminatnya yang begitu banyak, hari-hari berikutnya film ini tayang di tiga bioskop di kota Bandung. Namun sangat disayangkan, terdapat beberapa kekurangan yang membuat saya sedikti kecewa. Mengangkat biografi Widji Tukul, seharusnya film ini menceritakan "siapa itu Widji Tukul" bagaimana kisah hidupnya dari kecil, lahir dimana dan bagaimana kehidupannya sebagai penyair juga aktivis. Film ini hanya menceritakan kisah Widji Tukul saat dia menjadi buronan, dan di bagian akhirpun tidak di jelaskan bagaimana cara dia ditangkap pihak aparat sampai akhirnya beliau menghilang. Akhir dari film ini hanya diceritakan kapan sang Penulis di tangkap dan dinyatakan hilang sampai saat ini. Penggambarannya pun menurut saya sedikit kurang memuaskan jika menggambarkan setting tahun 1996 karena efek cahaya yang terlalu cerah. 

Namun, dibalik kekurangan itu semua, terdapat kelebihan yang membuat saya tidak keluar gedung sebelum film usai. Musik latar yang dihadirkan cukup membuat suasa sedih terasa nyatanya. Musik yang di ciptakan oleh Fajar Merah, anak dari Widji Tukul yang berkolaborasi dengan Cholil Mahmud, vokalis efek rumah kaca menambah kesan film ini menjadi menarik, epik serta mampu membawa suasana. Aktor yang memerankan Widji Tukul pun patut di acungi jempol karena pembawaannya yang cukup baik, tidak hanya akting, namun gesture juga cukup baik. 

Sekian review yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf apa bila ada review yang kurang berkenan dengan pembaca yang lain. Saya membuat review ini berdasarkan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasa. Terakhir, saya cukup megapresiasi atas Film Istirahatlah Kata-Kata, semoga perfilman Indonesia semakin lebih baik lagi.

Sabtu, 07 Januari 2017

HISTRIONIK: SEBUAH SINDIRAN UNTUK KEADAAN JAMAN SEKARANG

poster HISTRIONIK


Siapa yang tidak mengenal handphone? Benda persegi panjang berukuran kecil yang dapat melihat dunia tanpa batas. Belum lagi berbagai aplikasi yang dihadirkan membuat kita memuja benda tersebut. Namun tau kah kalian jika melalui handphone, kita dapat lupa segala hal, mempunyai beribu dampak negative jika tidak digunakan dengan bijak. Seperti yang disampaikan oleh mahasiswa jurusan teater ISBI Bandung angkatan 2013 yang membawakan sebuah pertujukan HISTRIONIK guna memenuhi syarat salah satu mata kuliah Capita Selecta II Body Performance.

Banyak hal yang bisa saya ambil dari pertunjukan tersebut, salah satunya tentang potret kehidupan jaman sekarang, dimana semua hal harus berkaitan dengan media social. Sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dimana orang yang hendak makan, pergi, berjalan-jalan bahkan sampai melihat orang yang kecelakaan pun tidak lepas dari handphone kemudian memotretnya dan mengunggahnya ke salah satu akun media sosial mereka. Ketika kebaikan dijadikan konsumsi publik, ketika politik dan agama bersentuhan dengan media social, semuanya terasa biasa namun sebenarnya janggal. Ketika semua manusia terkurung dalam benda kotak tersebut dan sulit untuk keluar, ketika semua orang mulai memaksakan hal yang seharusnya tidak bisa dipaksakan benar-benar merupakan sindiran untuk kondisi saat ini.

Menurut saya dan orang yang saya ajak untuk berdiskusi, Ganda Swarna, sang sutradara telah berhasil menghadirkan sebuah pertunjukan dengan tema yang biasa atau bisa disebut mainstream namun mampu mengemas tema tersebut menjadi suatu hal yang luar bisa. Hal ini terbukti saat awal sampai akhir pertunjukan.

Pertunjukan di mulai dengan adanya 2 kelompok manusia, satu kelompok hitam dan satu lagi kelompok orang dengan tingkat bojuis tinggi. Mengapa saya menyebutkan kelompok borjuis? Hal ini di gambarkan dengan kostum mereka yang hanya mengenakan baju dengan potongan sexy layaknya kaum-kaum anak muda yang hidupnya tidak lepas dari dugem, media social dan dunia maya. Mereka sibuk menari di tengah gemerlap lampu klubing dengan memainkan media social. Dari sana, saya dapat mengambil kesimpulan, jika inilah potret anak muda masa kini yang menghalalkan hal-hal seperti itu, dimana klubing, pakaian sexy dan alcohol merupakan hal yang wajar dan dengan bangga memamerkannya di akun social medianya. Mungkin dalam hal ini, sang sutradara ingin mengambil contoh kasus Awkarin dan Anya Geraldine yang tengah viral dalam dunia maya. Hidup penuh drama namun terlihat biasa saja di media social. Kebalikan dari kaum borjuis, ada kaum yang memakai baju hitam. Dalam awal pertunjukan digambarkan seorang kaum hitam tengah memainkan handphonenya dan melihat beberapa aplikasi yang dia punya. Memamerkan isi line, bbm, Ig dan sebagainya, hidup hanya mencari like dan komentar. Dimana semua yang di upload hanya untuk mencari like dan komentar. Hidup dalam drama, candu akan memamerkannya dalam dunia maya.

Tidak lama, muncul kaun wanita berhijab dengan pakaian yang ketat dan terbilang jiplak. Sibuk 
melakukan promosi di media social guna mengajak manusia untuk berhijab. Menurut saya, hal ini pun merupakan suatu sindiran untuk orang-orang jaman sekarang yang (maaf) menggunakan hijab tapi berpakaian ketat, berpakaian namun tidak seperti berpakaian. Memamerkan segala kebaikan yang dilakukan guna mendapat pujian. Menurut pendapat saya, sang sutradara ingin menunjukan karakter orang-orang yang merasa benar dalam segala hal, merasa benar dengan dirinya namun justru salah. Saat kaum hijab memakainkan baju hijab nya pada kaum hitam dan hampir semua kaum hitam mengikutinya, merukapakan suatu sindiran jika di jaman sekarang orang hanya mengikuti apa yang menjadi trend terutama dalam hal fashion. Walaupun disini saya tidak menganggap semua orang demikian, namun itulah yang saya tangkap dari pertunjukan tersebut. Dimana hijab dijadikan fashion namun tidak sesuai dengan syariat islam.

Selanjutnya muncul beberapa kelompok dengan menggunakan pakaian serba putih menyerupai ustad. Ini pun menjadi suatu yang menarik karena kemunculan mereka benar-benar tidak terduga, muncul dari pintu masuk penonton kemudian naik ke atas panggung. Di atas panggung, mereka menari dengan ekspresi yang lucu yang membuat para apresiator tertawa. Hal ini menjadi bahan diskusi yang serius dengan seseorang yang duduk di sebelah saya dengan paradigma yang berbeda karena momen yang menunjukan ambiguitas.

Menurut teman diskusi saya, mengatakan jika hal itu merupakan suatu pembodohan, dimana sosok ulama dijadikan bahan tertawaan. Apalagi ketika kaum politik datang, saat mereka datang meneriakan nama Indonesia yang dibalas dengan takbir oleh kaum ulama menjadi bahan tawaan para apresitor. Namun disini, saya mencoba mengkaji hal itu. Ada dua makna atas tertwanya sang apresiator, yang pertama adalah mereka tertawa karena menertawakan orang memerankan tokoh tersebut karena disana mengenal mereka secara pribadi, ketika sedang tidak berperan. Namun, bisa juga sang sutradara sengaja membuat image tokoh ulama dijadikan lucu dan untuk ditertawakan, terlebih saat mereka menarikan sebuah tarian dengan mimic muka yang lucu. Mungkin saja, sang sutradara ingin menampilkan image tersebut dan menghubungkan kejadian itu dengan keadaan saat ini, dimana ketika para tokoh agama memasuki dunia media social menjadi bahan tertawaan, bahkan dianggap angin lalu. Kenapa demikian? Karena orang yang memberikan tausyiah tidak semuanya memiliki pribadi yang baik dan bahkan mereka berbicara kebaikan namun tidak hal nya dengan apa yang dia juga lakukan. Ini juga dapat dihubungkan dengan kondisi saat ini yang mungkin orang sudah menganggap agama adalah satu hal yang tidak penting. Sangat menarik untuk di bahas, menurut saya. Dan saat kaum politik berseru sekencang-kencangnya tentang NKRI namun pada kenyataannya nol belaka. Ketika agama dan politik disatukan dalam bingkai media social, menjadi akibat yang buruk, saling hina, saling mencari kebenaran, menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah. Hal unik berikutnya adalah saat datangnya dua orang, satu dari kaum borjuis dan satu lagi dari kaum hijab yang mereka berada di belakang kedua kaum tersebut. Saat seorang kau borjuis berada di belakang kaum ulama dan saat kaum hijab berada di belakang kaum politik. Saling serang, saling menunjukan kekuasaan. Mencari dukungan dengan kaum yang lebih kuat. Menurut tafsiran saya, ini merupakan satu symbol dimana segala hal yang buruk jika dicambur dengan agama menjadi wangi dan tidak tampak salah. Ketika semua orang berlomba-lomba memberika tausiyah, merasa paling benar namun sebenarnya tidak. Saya sempat berpikir, sutradara ingin menyangkutkan kasus ahok dengan para umat Islam, namun karena ini merupakan satu hal yang sangat sensitive, jadi sutradara hanya memperlihatkan garis luarnya saja.

Terakhir adalah saat semua kaum berkumpul dengan ciri khas masing-masing. Saat semua orang memamerkan ponsel mereka dan sibuk dengan gadget mereka, ketika semua hal butuh gadget dan tidak bisa hidup tanpa gadget. Kita semua menjadi seperti boneka yang diatur oleh gadget. Saat ponsel dan gadget menjajah tubuh kita tanpa ampun, menjajah diri kita dan menjadikan manusia hanya berpusan pada ponsel dan gadget, bahkan untuk ibadah saja terkadang manusia melalaikannya akibat bermain ponsel. Terakhir, mereka semua bangun kemudian sang sutradara menyisipkan ringtone bbm dan line juga fenomenal yang begitu viral OM TELOLET OM. Menurut saya , hal ini juga menarik, mungkin sutrada ingin menyampaikan hal dimana semua hal-hal kecil menjadi viral akibat media social, salah satunya tentang kejadian OM TELOLET OM. Dan terakhir ditutup dengan sebuah video wawancara dengan orang-orang pengguna handphone dan semua kebiasaaan yang dilakukan dengan handphone.

Sungguh suatu hal yang menarik dan banyak yang bisa saya ambil dari pertunjukan HISTRIONIK malam tadi. Sebuah tamparan bagi saya, selaku orang yang tidak bisa hidup tanpa ponsel untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam menggunakan handphone. Itulah review dari saya dan obrolan setelahnya dengan partner diskusi semalam dari pertunjukan HISTIONIK, semoga kita semua bisa mengambil pesan moral yang hendak disampaikan oleh para seniman ISBI, akhir kata saya ucapkan terima kasih dan maaf bila ada tafsiran yang salah, karena saya menafsirkan makna pertunjukan semalam secara bebas. Mohon dimaafkan juga bila ada salah-salah kata atau perkataan yang menyinggung pembaca, akhir kata saya ucapkan terima kasih dan SALAM APRESIASI!

Kamis, 05 Januari 2017

Headshot “Martial Arts Action in 2k16”



Headshot, sebuah film action Indonesia yang disutradarai oleh Mo Brother dengan mengambil actor laga ternama Iko Uwais. Film ini menceritakan tentang seorang pria yang bernama Abdi (Iko Uwais) yang kehilangan ingatan akibat kecelakaan yang dialaminya. Selama dalam masa penyembuhan, Abdi di bantu oleh Ailin (Chelsea Island) yang merupakan seorang dokter yang berasal dari Jakarta. Potongan-potongan ingatan muncul saat Abdi sedang dalam masa penyembuhan. Disisi lain, seorang bos kriminal dengan julukan Evil Sea bernama Lee (Sunny Pang) tengah mencari-cari keberadaan Abdi yang katanya sedang di rawat di salah satu rumah sakit di pulau tersebut. Lee sendiri merupukan bos terkejam yang dulunya sering menculik anak-anak kecil untuk dijadikan anaknya dan di ajarkan bertahan hidup dengan cara criminal. Sebuah pertanyaan muncul dari benak Ailin saat dalam perjalanan ke Jakarta, bus yang dia tumpangi di hadang oleh sekelompok pemuda yang mencari sosok keberadaan Abdi.

Berbekal nekat, Ailin mencoba menghubungi Ishmael, yang tidak lain adalah Abdi dan meminta Abdi untuk menjemputnya. Namun hal itu harus dia tahan saat satu persatu penumpang bus itu di bunuh oleh sekolompok anak muda tersebut dan Ailin mencoba menyelamatkan seorang gadis yang ibunya tengah di bunuh. Bebeapa saat kmudian Abdi datang, namun terlambat karena sosok Ailin sudah tidak diemukan lagi. Dengan berbekal ingatan seadanya, Abdi mencoba untuk mengikuti mereka dan sampailah pada titik pulih ingatannya. Abdi ingat semuanya, dari mana dia berasal dan siapa dia. Dia hanyalah seorang akan yang diurus oleh Lee dan diajarkan menjadi kriminal. Dengan tekad yang kuat, Abdi berusaha mencari keberadaan mereka untuk menyelamatkan Ailin.
Film ini tidak jauh berbeda dengan film-film sebelumnya seperti Merantau dan The Rain yang mengusung tema laga thiller. Sepanjang perjalanan menjemput Ailin, tidak sering Abdi terlibat dalam perkelahian sengit antar orang-orang yang merupakan saudara dia sendiri. Sebut saja mereka rika (Jullie Estelle) yang pada saat itu menembak kepala Abdi dan menyebabkan dia kehilangan ingatan, Tano (Zack Lee), Tejo (David Hendrawan), dan Besi (Very Tri Yuisman) juga tidak luput dari perkelahian antar saudara yang pada akhirnya tewas. Untuk segi cerita, film ini sangat unik namun ada beberapa adegan yang rasanya janggal dan tidak pas dan antiklimaks. Memang sudah menjad cirri khas Mo Brother untuk membuat imajinasi penonton melenceng dengan menghadirkan adegan-adegan yang tidak terduga, namun, untuk HEADSHOT adegan-adegan tersebut rasanya menjadi kurang tepat. Aktor pendukung yang dihadirkanpun terasa kurang tepat karena menjadikan suasana “mati”. Namun secara keseluruhan, film ini termasuk film yang sukses dan keren dengan menampilkan satu ciri khas laga Indonesia yang mengusung persilatan. Saya dibuat terkagum dengan akting Jullie Estelle yang mampu memerankan tokoh Rika dengan baik, memainkan karakter wanita tomboy sadis tapi juga cantik dan elegan. Sungguh merupakan suatu peningkatan yang  baik saat saya melihat akting Jullie Estelle dalam film The Raid: Berandal dengan film HEADSHOT. Begitupun dengan aktor lain.

Dan saya kembali diuat terpukau oleh penampilan akting Sunny pang, seorang aktor asal Singapore yang memerankan tokoh Lee. Akting dan mimik yang tepat membuat im itu menjadi lebih hidup. kemampuan laganya pun tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama saat dia beradu laga dengan Iko Uwais. beberapa kali saya harus dibat kagm dengan kemampuan aktingnya.

Jadi? Masih ragu untuk nonton film HEADSHOT?



Teater Tubuh "Post Haste" Pertunjukan Unik dengan Konsep Memukau


Dalam rangka ulang tahun Teater Payung Hitam yang ke-34, teater tubuh “POST HASTE” yang disutradarai oleh Rachman Sabur, dihadirkan untuk memeriahkan rangkaian acara tersebut. Bertempat di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung, sejak petang para apresiator telah berkumpul memnuhi tempat pertnjukan demi melihat pertunjukan tersebut. Tepat pada tanggal 21 Desember 2016, saya datang untuk mengapresiasi acara tersebut.

Open Gate dimulai pada pukul setengah delapan malam. Kami, para apresiator digiring ke Studio Teater yang bertempat di lt. 2 gedung ISBI untuk menyaksikan pertunjukan opening teater tubuh. Bagi saya, ini merupakan pengalaman pertama karena sebelumnya belum pernah menyaksikan pertunjukan teater tubuh. Singkatnya, kami semua para apresiator memasuki studio yang sudah di dekor sedemikian rupa unik dan epic. Suasana yang gelap dengan lampu seadanya menambah kesan klasik, property patung-patung dengan berbagai pose yang seolah di tanam dalam tanah membuat keadaan sedikit horror namun unik.

Saat pertunjukan dimulai, kami disuguhi oleh video maping yang berisikan orang-orang seniman dengan gaya yang berbeda-beda. Melakukan segala sesuatu gerakan teatrikal di alam bebas seperti sawah dan sungai. Saya hanyut dalam tontonan tersebut, suara-suara menggaung menambah kesan mencekam dengan suasana gelap. Untuk beberapa menit, apresiator dibuat terpukau akan tontonan itu sampai pada akhirnya lampu menyala, menyorot arah atas dan terdapatkan seseorang yang mebelakangi kami hendak turun. Dan lagi, saya dibuat terpukau oleh konsep yang dihadirkan. Seorang pria yang perlahan turun, dan kemudian mendekati patung-patung yang hadir, bagi saya merupakan simbolik hari lahirnya manusia, dimana pada awalnya manusia diturunkan dari langit sebelum akhirnya ditempatkan pada rahim wanita. Ketiadaan kata-kata membuat saya harus mengkaji sendiri apa yang hendak disampakan oleh seniman kepada apresiator khususnya saya. Saat itu, seniman mencoba bermain dengan berinteraksi dengan penonton yang pada saat itu membuat orang yang ada disekitar tertawa, selama pertunjukan, banyak sekali hal yang membuat saya terpukau dan terkagum dengan gesture dan mimik sang seniman. Terakhir saya kembali terpukau saat sang seniman membawa drum dan menjatuhkannya pada segumpal tanah yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai orang yang sedang berbaring. Hal unik berikutnya adalah saat sang seniman keluar dan menuju Gk Sunan Ambu untuk menyaksikan pertunjukan utama yakni Post Haste.


Dalam pertunjukan itu, para apresiator kembali di ajak untuk berpikir karena semua pertunjukan hanya menggunakan mimic dan gesture (gerakan tubuh) tidak sepatah katapun mereka mengaluakan kata apalagi kalimat. Pertunjukan dimulai saat seorang pria yang sedang berada di dalam warung mencoba memasukan segala bahan makanan ke dalam wajan, lama-kelamaan semua hal yang ada di sana dia masukan sampai akhirnya warung itu roboh dan sebuah lampu jatuh. Adegan berikutnya terlihat seorang wanita yang sedang membaca berita koran dengan latar belakang foto presiden dan wakilnya. Setelahnya wanita itu merasa bosan dan memasukan koran itu kedalam mulutnya sampai dia muntah. Menurut saya pribadi, hal itu melambangkan kejenuhan masyarakat Indonesia yang mulai jenuh dan bosan ketikan mendengar berita di media yang selalu membahas hal sama, belum lagi ketika hal yang di bahas samar akan kebenarannya. Tidak banyak yang saya tafsirkan dari pertunjukan ini karena saya memposisikan diri sebagai penikmat bukan kritikus. Saya hanya menafsirkan atas apa yang saya lihat dan saya coba kaji dan analisis. Pertunjukan dilanjutkan saat seorang pria dengan pakaian dres putih terbangun dan berlahi menghindari segalah hal yang jatuh dari atas. Hal ini termasuk unik karena sang actor yang mampu membawakan suasana dan gimik yang pas untuk sebuah pertunjukan. Dan terakhir, pertunjukan di tutup saat semua pemain berkumpul dengan segala emosi dan layar infocus di fokuskan pada panggung yang menayangkan beberapa berita Indonesia. Pertunjukan yang unik untuk sebuah selentingan atau sindiran mengenai keadaan Negara saat ini. Saya sebagai apresiator begitu mengapresiasi atas pertunjukan Post Haste yang dilaksanakan oleh Teater Payung Hitam Bandung benar-benar konsep unik dengan pertunjukan yang sangat simpel tapi mampu memukau para apresiator yang hadir untuk mengapresiasi acara tersebut. Sekian yang dapat saya ulas, mohon maaf bila ada keasalahan atau satu hal yang kurang lengkap. Salam apresiasi!

Senin, 02 Januari 2017

"ROTASI" Seni Lukis yang Berotasi

Pameran lukis dalam rangka UAS anak seni rupa UPI


 Jadi, kemarin-kemarin di UPI lagi heboh-hebohnya UAS. Semua departemen dan Fakultas sibuk mondar-mandir, wara-wiri, kelabakan geraga UAS. Salah satunya terjadi sama anak FPSD (Fakultas Pendidikan Seni dan Design). Udah jadi angganan tiap bulan Desember merupakan hajatnya anak Seni. Semua departemen seni (seni rupa, seni musik, dan seni tari) sibuk nge booking tempat-tempat di UPI untuk dijadikan bahan UAS.

Saah satunya adalah anak-anak dari Departemen Seni Rupa. Pertengahan Desember kemarin, mereka mengadakan pameran seni lukis dengan tema “ROTASI”. Bertempat di Galeri Seni Popo Iskandar (jln. Setiabudhi no. 235B), ROTASI resmi dibuka pada tanggal 16 Desember 2016 dengan menghadirkan 13 seniman yang karyanya di pamerkan dalam Galeri tersebut dan dengan kurator Anton Susanto. Kehadiran artis talk pada opening menambah ramai acara tersebut. Bukan hanya dapat melihat karya lukis, kita juga dapat bertanya hal-hal yang berkaitan dengan seni lukis. Acara itu terbilang sukses dan meriah, saya dibuat terkagum melihat banyaknya lukisan yang dipamerkan dengan berbagai tema. Hamper semua dinding di gantungi lukisan-lukisan karya 13 Seniman Seni Rupa UPI. Kebanyakan dari lukisan tersebut mengambil gambar abstrak, tidak mudah dimengerti maksudnya. Saya pun merasakan hal itu saat melihat beberapa lukisan dengan tema abstrak, tidak mengerti maksud dan makna dari lukisan tersebut, namun hal yang membuat saya terkagum adalah pencampuran warna terhadap lukisan-lukisan tersebut. Saya pun merasa sangat menikmati karya-karya yang disuguhkan karena warnanya yang terbilang unik dan sukar. Sebenarnya dari semua karya yang dipamerkan tidak semuanya mengusung karya lukisan. Ada satu karya yang sangat menjadi perhatian saya karena bentuknya yang unik dan pengkaryaannya yang terbilang beda dari yang lain, adalah kolase karya Yogi Rachman Arigi yang ditempel di dinding yang menyita perhatian saya. Gagasan dan keputusan dia memamerkan karya kolase di tengah lukisan-lukisan, terbilang cukup berani dan patut di acungi jempol.

Ada sedikit kekurangan yang saya dapatkan dari pameran seni lukis ROTASI, sangat disayangkan acara itu tidak berlangsung sampai malam, hanya sampai pukul 18.00 dimana penchayaan dan suasana yang tercipta menjadi sedikit berkurang. Jika saja pameran tersebut diadakan sampai malam, atau dibuka dari sore sampai malam, mungkin akan terkesan lebih indah dan elegan, tapi mungkin mereka tidak melakukan hal itu karena mereka juga butuh istirahat hehe ya kerasa sih sama saya kalau di sruh jaga pameran malam-malam, sangat melelahkan. Tapi all out, saya suka banget sama pameran ROTASI kemarin. Benar-benar acara yang keren yang bisa dijadikan bahan apresiasi. Terakhir, saya ucapkan selamat buat ke 13 seniman UPI yang sudah mengadakan acara sekeren dan seindah itu hehe sukses terus buat kalian, walaupun ini hanya UAS tapi lukisan yang tercipta bukan semata untuk UAS. Akhir kata saya ucapkan selamat dan sukses buat kalian semua. Semoga ini menjadi tombak awal untuk kedepannya agar jadi lebih baik lagi.


Berikut adalah beberapa contoh lukisan yang ada di pameran seni lukis ROTASI. Buat karya yang nggak saya masukin, mohon maaf yang sebesar besarnya ya J

 karya Teguh Cahya Gumelar

Kolase Karya Yogi Rachman Arighi

Karya Abdul Arif Al-Kamili

karya Moch Fariz Ramadan

karya Leni Umar

karya Bakti Bestin

karya Lutfi Ayu

Karya  Bayu Permana

nggak nyesel dateng kesini

lukisannya bener-bener keren

taken by Reysha Halim

foto sumber:
Reysha Halim Kurniawan

Rabu, 26 Oktober 2016

SINESTESIA - EFEK RUMAH KACA

Merah

Ilmu Politik

Lagu: Adrian
Lirik: Cholil

Dan kita arak mereka
Bandit jadi panglima
Politik terlalu amis
Dan kita, teramat necis

Lalu angkat mereka
Sampah jadi pemuka
Politik terlalu najis
Dan kita teramat klinis

Dan kita dorong mereka
Badut jadi kepala
Politik terlalu kaotis
Dan kita teramat praktis

Lalu dukung mereka
Cendikia jadi pertapa
Politik terlalu iblis
Dan kita teramat manis

Aku akan menjadi karang di lautan mereka
Aku akan menjadi kanker dalam tubuh mereka

Lara di mana mana

Lagu: Adrian dan Cholil
Lirik: Cholil

Sampai kapan kau biarkan
Dia tak berperan
Ditelantarkan harapan, dia kesakitan
Terburai berantakan, tak keruan
Marah di mana mana

Sampai kapan kau ikhlaskan
Dia dihancurkan,
Lumpuhkan alam pikiran dan sekujur badan
Terhampar masa depan, temaram
Lara di mana mana

Reff.
Keajaiban dan khayalan
Taruh di awan,
Kenyataan dalam pelukan
Kelembaman pada tekanan
Raih elan, kepalkan tangan

Sampai kapan kau relakan
Dia kekeringan
Dihisap jiwa raganya, seluruh hidupnya

Marah di mana mana, ta ra ra
Lara di mana mana

Ada Ada Saja

Lagu: Adrian dan Cholil
Lirik: Cholil

Moralis, merasa paling baik
Macam yang paling etis, awas jatuh menukik

Sang martir, inginnya adu fisik
Cupet dan sesat pikir, buah intrik politik

Reff
Ada ada saja, sifat kawan kita
Dipelihara dan budidaya
Macam macam saja, kelakukan kita
Smoga masih bisa bahagia

Fatalis, main yang aman aman
Seolah apolitis, takluk pada keadaan
Mukjizat, hanya di zaman nabi
Tak bisa langsung sehat, dihadapi dikelahi

Ekonomi korban politik
Hukum tunduk pada politik
Pendidikan masuk politik
Olahraga bawa politik
Orang gila akibat politik
Dagang sapi pakai politik
Beragama, buat politik
Keluarga ribut politik

Credit
Cholil: Vokal, Gitar, Keyboard
Adrian: Bas dan Vokal pada Lara di mana-mana, Keyboard
Akbar: Drum, Vokal & Vokal Latar
M. Asranur: Piano
Andi “Hans” Sabaruddin: Gitar
Ricky Surya Virgana: Cello
Monica Hapsari: Vokal Latar
Airil “Poppie” Nur Abadiansyah: Vokal Latar
Mbair: Vokal Latar
Nastasha Abigail: Vokal Latar


BIRU

Pasar Bisa Diciptakan

Lirik: Adrian dan Cholil
Lagu: Cholil

Kami mau yang lebih indah
Bukan hanya remah remah
Sepah, sudahlah

Kami hanya akan mencipta
Segala apa yang kami cinta, bahagia
Kami bawa yang membara
Di dasar jiwa, di dasar jiwa
Menembus rimba dan belantara sendiri
(pasar bisa diciptakan)
Membangun kota dan peradaban sendiri

Kami ingin lebih bergizi
Bukan hanya yang malnutrisi,substansi

Kami bawa yang membara
Di dasar jiwa, di dasar jiwa

Menembus rimba dan belantara sendiri
(pasar bisa diciptakan)
Membangun kota dan peradaban sendiri

Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan
Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan
Pasar bisa diciptakan ooooo

Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan
Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan
Pasar bisa diciptakan

Cipta Bisa Dipasarkan

Lirik: Cholil
Lagu: Adrian, Akbar dan Cholil

Dari kegelisahan dipadatkan dengan cinta
Bergemuruh di dada jauh dari mereda
Fantasi yang menggila bercampur rasa kecewa
Pelan-pelan hilangnya jadi sepercik cahaya

Oh cahaya, akhirnya kita sampai juga
Temukannya, sinarnya pun dibagi rata
Berbinar binar hidup bergelora
Oh cahaya la la la la lalala

Imajinasi rasa takut larut didalamnya
Tak terkira siksanya, hingga capai bahagia
Amarah angan angan berhamburan berkejaran
Akan terus mendera hingga titik terangnya

Kegelapan masih membayang
Menyelimuti, menolak pergi
Mencari ruang gerak ditentang
Dan menjadi ironi


Credit:
Cholil : Vokal , Gitar dan Vokal latar
Adrian: Bas & Harmonika, Vokal Latar
Akbar: Drum & Vokal Latar
Mbair: Vokal dan Vokal Latar
Agustinus Panji Mardika: Trumpet

JINGGA

Hilang

Lagu: Adrian, Akbar & Cholil
Lirik: Cholil

Rindu kami seteguh besi
Hari demi hari menanti
Tekad kami segunung tinggi
Takut siapa? semua hadapi

Yang hilang Menjadi katalis
Disetiap kamis
Nyali Berlapis

Marah Kami
Senyala api
Di depan istana berdiri

Yang hilang menjadi katalis
Disetiap kamis
Nyali berlapis

Yang ditinggal
Takkan pernah diam
Mempertanyakan kapan pulang ?

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afri HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998

Nyala Tak Terperi

Lagu: Adrian
Lirik: Cholil



Ku bermandi cahaya mentari
Mendarah mendaging
Dan menjadi energi

Ku menelan cahaya rembulan
Menjadi harapan,
Nyala tak terperikan

Segala gulita sirna
Terkikis doa
Semua indra terbuka
Berfungsi mata
Yang hilang,
Berganti hingga tak terbilang
Cahaya, ku jelang

Cahaya, Ayo Berdansa..

Lagu: Adrian, Akbar & Cholil

Instrumental

Credit:
Akbar: Drum dan Vokal Latar
Adrian: Bas, Vokal pada Nyala Tak Terperi, & Vokal latar.
Cholil: Gitar, Vokal & Vokal Latar
Monica Hapsari: Vokal dan Vokal Latar
M. Asranur: Piano
Mbair: Vokal Latar
Nastasha Abigail: Vokal Latar
Airil “Poppie” Nur Abadiansyah: Vokal Latar

HIJAU

Keracunan Omong Kosong

Lirik: Cholil
Lagu: Adrian & Akbar

Apa yang kau tawarkan, bukan pengetahuan
Ucapan miskin pemikiran
Apa yang kau sodorkan, hanyalah hasutan
Ujaran penuh kemunafikan
Keracunan omong kosong

Reff
Banjir informasi, banyak kontradiksi
Berhati-hati, awas jalan berduri
Argumennya asal, jauh dari handal
Tak masuk akal, kacau menjurus brutal

Dakunya, seluas cakrawala
Padahal, hanya segitu saja

Apa yang engkau makan? Inginnya bentrokan
Hujatan kudapan andalan
Apa yang engkau telan? Gagasan pas-pasan
Kebencian menjadi pegangan
Keracunan omong kosong

Kembali ke reff

Maunya, sempurna tanpa cela
Ternyata, retak di mana-mana

Cara Pengolahan Sampah

Lirik: Cholil
Lagu: Adrian

Dalam demokrasi
Sampahpun meninggi, cari eksistensi
Bukan disesali, atau dimungkiri
Jangan dibaui, diatasi
Dialihfungsi, ke energi

Dipilah, dipisah
Agar gampang diubah, biar mudah diolah
Yang basah, alamiah
Tanam di tanah, mestinya berfaedah

Yang plastik, problematik
Mending diutak atik, jadi hiasan apik
Yang organik,  pemantik
Diotak atik, berharap jadi listrik

Kita konsumsi sampah (konsekuensi demokrasi)
Kita produksi limbah (ide basi yang beraksi)
Kita konsumsi sampah (konsekuensi demokrasi)
Kita produksi limbah (miskin visi unjuk gigi)

Credit:
Adrian: Bas & Vokal Latar
Akbar Drum & Vokal Latar
Cholil: Gitar, Vokal, Recorder, Keyboard,  & Vokal Latar
Agustinus Panji Mardika: Trombone, Trumpet, Flute, Clarinet
Airil “Poppie” Nur Abadiansyah: Gitar dan Vokal Latar
Monica Hapsari: Vokal Latar
Mbair: Vokal Latar
Nastasha Abigail: Vokal Latar

PUTIH

Tiada (untuk Adi Amir Zainun)

Lirik: Adrian dan Cholil
Lagu: Adrian dan Cholil

Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku usai juga

Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

Ada (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)

Lirik: Cholil
Lagu: Adrian, Akbar dan Cholil

Lalu pecah tangis bayi
Seperti kata wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api

Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran

Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

Credit:
Akbar: Drum dan Vokal Latar
Adrian: Bas, Narator dan Vokal Latar
Cholil: Gitar dan Vokal
M. Asranur: Piano
Monica Hapsari: Vokal Latar
Airil “Poppie” Nur Abadiansyah: Vokal Latar
Nastasha Abigail: Vokal Latar
Mbair: Vokal Latar
Agustinus Panji Mardika: Trombone, Trumpet

KUNING

Keberagamaan

Lirik: Adrian
Lagu: Cholil

Tentang nubuat mencerahkan
Berlabuh dalam keheningan
Menyapa dalam keramaian
Pada batas yang dirasakan

Resah

Manusia mengonsepsi tuhan
Bernaung di dalam pikiran
Mencari setiap jejakNya
Mengulas semua kehendakNya
Apa wujudnya
Apa misinya

Manusia menafikan tuhan
Melarang atas perbedaan
Persepsi dibelenggu tradisi
Jiwa yang keruhpun bersemi
Nihil maknanya
Hampa surganya
Hampa

Karena cinta bersemayam dalam jiwa


Keberagaman

Lirik: Adrian dan Cholil
Lagu: Adrian, Akbar dan Cholil

Terjerembap demi akhirat
Akalnya lenyap, hati berkarat
Hati berkarat, cacat, pekat, jahat

Beragam, berwarna
Lestarilah tumbuhnya
Bermacam agama
Dipancarkan cintanya
Semua bertautan

Nihilis, Humanis
Dilebur harapannya
Yang hening, Yang bising
Diserap hakikatnya
Semua dihisabnya, sebab akibatnya

Bila matahari sepenggal jaraknya
Padang yang luas tak ada batasnya
Berarak beriringan
Berseru dan menyebut ….Dia..

Credit:
Adrian: Bas, Keyboard, Vokal Latar
Akbar: Drum & Vokal Latar
Cholil: Gitar, Piano, Vokal & Vokal Latar
Wahyu Hidayat: Flute
M. Asranur: Piano
Khansa Novriandra: Vokal Latar
Farrah Diva Risani: Vokal Latar
Fani Suci Pradita: Vokal Latar

***

Sumber: http://efekrumahkaca.net/en/news/erk-s-latest-news/item/766-lirik-sinestesia#.WBCyx1D-JAg

Senin, 26 September 2016

"Detective Conan Movie 20: The Darkest Nightmare." Awesome!!



Berawal dari dicurinya sebuah data yang menyimpan daftar nama agen CIA dan FBI sebagai NOC oleh salah seorang wanita kawanan Organisasi Hitam, Rey Furuya atau yang akrab disapa Bourbon berusaha mengejar wanita yang berhasil lolos. Kejar-kejaran di tengah kota pun tidak dapat dihindari mengingat, dunia akan terancam jika daftar nama tersebut sampai kepada Big Boss Organisasi Hitam. Tanpa diduga, Suichi Akai, salah seorang anggota FBI yang pernah menyamar sebagai anggota organisasi hitam, ikut mengejar wanita tersebut. dengan tenang, Akai menyiapkan snipernya dan hendak menembak kepala wanita tersebut. Namun sang wanita berhasil menghindar dan membuat Akai kesulitan membidik. Tidak kehilangan akal, Akai mengarahkan senapannya ke ban mobil wanita tersebut hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke danau.

Keesokan harinya Conan dan kawan-kawan tengah pergi ke tempat wisata Akuarium Tohto yang baru saja direnovasi. Saat akan menaiki wahan komedi putar raksasa, Conan dan Ai bertemu dengan seorang wanita berpenampilan berantakan, Conan menduga jika wanita tersebut tengah mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkannya seperti ini. Saat Conan ajak bicara, wanita itu terlihat linglung dan belakangan ini dia ketahui jika wanita tersebut tengah kehilangan ingatannya. Conan dan kawan-kawan bertekad mengembalikan ingatan wanita itu. Tanpa disangka, hal aneh terjadi saat Genta dkk menaiki wahana komidi putar raksasa. Wanita itu tiba-tiba menjerit dan menyebutkan beberapa nama jenis bir. Dan disinilah awal mula sebuah masalah harus dihadapi Conan dan Ai, karena secara tidak sengaja wanita itu, yang belakangan mereka ketahui bernama Curaҫao, tengah mengantarkan Conan pada kawanan Organisasi Hitam.

Film animasi besutan Aoyama Gosho ini sukses membuat saya tertarik menonton lebih awal. Film yang mengisahkan tentang detective gesit Conan Edogawa atau Shinichi Kudou yang menemukan satu kasus rumit yang mengantarkannya pada organisasi hitam, organisasi yang telah membuat tubuhnya mengecil seperti saat ini.

Dalam film ini, Vermouth, Gin dan Vodka masih menjadi dalang dari segala kekacauan yang telah terjadi. Sifat Vermouth yang masih terlihat senang menyimpan rahasia, Vodka yang selalu berada di samping Gin, dan Gin yang dijuluki sebagai pembunuh berdarah dingin. Hal ini dapat dilihat pada saat Vermouth sedang mencari Curaҫao dan di tengah keramaian bertemu dengan Conan dan Ai, dirinya secara kooperatif bersembunyi dan menghindar dari mereka dan tidak memberitaukannya pada Gin. Juga sifat Gin yang masih tidak bisa memberi ampun pada orang-orang yang berkhianat. Hal ini terlihat pada saat Gin hampir saja menghabisi Bourbon (Rei Furuya) dan Kir (Rena Mizunashi) yang mendapat tuduhan jika mereka berdua adalah NOC. Tanpa menunggu komando dari Rum, salah satu atasan mereka, Gin hampir saja menembak keduanya di dalam sebuah gudang tua.

Selain Gin, Vodka dan Vermouth, hadir juga Chianti dan Korn yang merupakan sniper handal dari Organisasi Hitam. Kemampuan menembak dari jarak jauhnya tidak bisa diragukan lagi. Hal ini dapat dibuktikan pada saat Chianti dan Korn mendapat tugas untuk membuhun NOC yaitu, Stout dan Aquavit. Keduanya menembak target mereka dalam jarak yang sangat jauh namun tepat mengenai sasaran.

Secara keseluruhan, film ini tampak berbeda dari film-film Detective Conan sebelumnya. Saya merangkum beberapa perbedaan Detective Conan movie 20 dengan Detective Conan sebelumnya.
1.     Tidak adanya kasus pembunuhan janggal yang biasanya terjadi. Dalam beberapa movie, biasanya walaupun membahas Organisasi Hitam, namun selalu ada kasus pembunuhan janggal yang melibatkan organisasi tersebut. analisis Conan pun digunakan untuk memecahkan kasus pembunuhan sekaligus hubungan korban dengan Organisasi Hitam. Namun, dalam Movie 20, tidak ada sedikitpun kasus seperti itu. Dalam film ini, analisis Conan digunakan untuk mengungkap identitas wanita yang ditemuianya di taman bermain dan hubungan wanita tersebut dengan Organisasi Hitam.
2.     Tidak adanya adegan dramatis antara Ran dan Shinichi. Jika dalam movie-movie sebelumnya selalu terdapat adegan drmatis Ran dan Conan, dalam movie ini tidak banyak membahas adegan tersebut. Bahkan, jika dilihat dengan seksama, tokoh Ran dalam movie ini hampir tidak memiliki fungsi. Kehidupan Ran dan Sonoko sangat minim untuk diekspos bahkan hampir tidak ada. Dalam adegan terakhir pun, saat gondola kincir raksasa mulai keluar dari porosnya da menggelinding kea rah wisatawan, Conan dengan gesit mengentikannya dan sama sekali tidak mengetahui jika di tempat itu ada Ran dan Sonoko yang sedang mendampingi anak-anak.
3.     Tidak adanya pertunjukan Kogoro Tidur. Dalam movie ini pun, kehidupan Kogoro Mouri yang biasanya menangani kasus pembunuhan, tidak terlihat. Bahkan peran Kogoro Mouri hampir sama dengan Ran, hampir tidak memiliki fungsi. Bahkan di bagian terakhir pun, Kogoro sama sekali tidak terlibat dengan kegentingan yang sedang terjadi di tempat Wisata Akuarium Tohto karena dirinya tengah tertidur di mobil menunggu anak-anak selesai bermain.
Kesimpulannya, Detective Conan Movie 20: The Darkest Nightmare merupakan pertarungan antara organisasi, yakni Organisasi Hitam, FBI dan CIA, yang mana CIA dan FBI saling berburu mendapatkan sebuah informasi mengenai Curaҫao, belum lagi pihak polisi yang harus berhubungan dengan anggota CIA yang ingin mengembalikan ingatan Curaҫao guna merebut data yang telah diambilnya. Kejadian dramatis yang terjadi pada film ini adalah saat ingatan Curaҫao kembali dan memutuskan untuk mengkhianati kawanan Organisasi Hitam dengan cara kabur dari gondola yang tengah disediakan kawanan organisasi. Curaҫao sempat bertemu dengan Ai Haibara dan mengetahui identitas aslinya, namun dirinya memilih bungkam, dan terakhir dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan nyawa semua orang.

Kelebihan film ini terletak pada ide cerita yang berani keluar dari zona nyaman. Saya anggap The Darkest Nighmare merupakan titik muncul Aoyaman Gosho meracik sebuah film dengan tema yang keluar dari biasanya. Film ini sukses membuat saya terkagum-kagum dan menontonnya beberapa kali karena ceritanya yang tidak biasa. Film ini juga bisa membawa penonton berfantasi dan ikut terjun ke dalam cerita. Ikut merasakan sedih saat adegan mellow dan ikut berteriak gemas saat adegan action. Efek yang dihadirkan sangat epik membuat kejelasan gambarnya sangat baik, juga perkembangan zaman yang dihadirkan dalam film ini terlihat sangat up to date.

Namun ada sedikit kekurangan yang harus diperhatikan dalam film ini, yaitu penyelesaian konflik yang terasa sangat klasik. Saat akhirnya Curaҫao memutuskan berhenti dari organisasi dan berubah menjadi orang baik. Menolong Ai Haibara yang dia ketahui adalah Sherry, seorang buronan organisasi yang harus di bunuh. Juga ketika dia menolong Conan dengan mengatakan kepada Vermouth jika e-mail yang berisi data-data agen CIA yang menyamar itu benar dia yang mengirim, padahal sebenarnya itu kiriman Conan namun akhirnya Curaҫao harus mati karena menyelamatkan nyawa orang banyak dan menghambat Conan untuk mengorek informasi organisasi kepada Curaҫao.

"Simple Thing Called Love" by Anna Triana

Judul          : Simple Thing Called Love Penulis       : Anna Triana Penerbit      : Elex Media Komputindo ISBN          : 978 - 602 - 0...